Kamis, 19 September 2019
Peristiwa - Daerah

Nafisa, Nenek Sebatangkara yang Bertahan Hidup dengan Berjualan Opak Gulung

Nafisa, Nenek Sebatangkara yang Bertahan Hidup dengan Berjualan Opak Gulung Nenek Nafisa yang hidup sebatangkara, saat membuat opak gulung di dapur rumahnya. (FOTO: Dicko W/TIMES Indonesia)
Selasa, 20 Agustus 2019 - 20:05

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Selama lima tahun ini, nenek Nafisa (72) warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur hidup sebatangkara di rumah yang ia huni. Ia hidup dari berjualan opak gulung, yang diproduksinya sendiri tanpa bantuan siapapun.

Opak gulung yang dijualnya laris manis, banyak pemesanan dari warga sekitar. Nenek Nafisa, membuat opak gulung ini sudah 12 tahun lamanya bersama almarhum suaminya Heli. Namun, suaminya sudah meninggalkannya dalam usia 75 tahun, pada 2014 lalu.

Dengan membuat opak gulung itu, nenek dengan dua anak ini tak menggantungkan dirinya ke orang lain, meski ia hidup sendirian, karena kedua anaknya sudah berkeluarga, dan ikut keluarganya masing-masing. Kesehariannya, nenek Nafisa membuat dan menjual opak gulung tersebut, dengan berpenghasilan cukup untuk makan sehari-hari.

Selasa (20/8/2019). TIMES Indonesia berkunjung ke rumahnya, nenek Nafisa sedang membuat opak gulung, dengan lihai ia mengolah bahan-bahan untuk opak gulungnya, yang hanya berbahan tepung terigu, telur, santan dan  gula. Selanjutnya bahan yang sudah tercampur diberikan air secukupnya, kemudian dituangkan ke cetakan panas yang sudah sedari tadi berada diatas kompor dengan nyala api sedang.

Dalam waktu satu sampai dua menit, opak pun diangkat dari cetakan dan kemudian digulung dengan sumpit, nah opak pun siap untuk disajikan.

Nenek Nafisa mengatakan, ia belajar membuat opak dari almarhum ibunya pada saat masih hidup dahulu. Lalu ia melakoninya bersama suaminya.

“Dalam sehari bisa membuat sekitar 30 bungkus opak gulung, dan menghabiskan bahan sekitar 3 kg beras, 2 kg tepung terigu dan telor 1 kg,” ucap nenek berkacamata ini.

Ia menjual opaknya dengan harga Rp 8.000 perbungkus, dan ia menjualnya di toko-toko sekitar Desa Krejengan. Namun dirinya tak perlu jual opaknya berkeliling desa. Pelanggannya yang menjemput ke rumahnya. Dari hasil menjual opak gulung tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan alasan tidak mau merepotkan kedua anaknya, dan orang lain.

Wahyu Indah salah satu pembeli opak gulung mbah Nafisa mengaku, opak buatan mbah Nafisa berbeda dengan opak gulung pada umumnya, opaknya gurih dan renyah saat digigit dan itu menjadi daya tarik sendiri baginya untuk membeli dan mengkonsumsi opak gulung itu buatan nenek ini.

“Opak gulung buatan nenek Nafisa, sangat praktis dan enak untuk dibuat oleh-oleh ketika mengunjungi teman dan keluarga yang ada di luar Probolinggo. saya sudah berlangganan di sini,” ungkap Wahyu, saat membeli opak.(*)

Jurnalis : Dicko W
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Probolinggo

Komentar

Registration