Sabtu, 21 September 2019
Peristiwa - Daerah

Kuliah di Malang, Begini Pengakuan Mahasiswa Asal Papua

Kuliah di Malang, Begini Pengakuan Mahasiswa Asal Papua Nina Awendu mahasiswa asal Kabupaten Jayapura, Papua yang kuliah di Kota Malang. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Selasa, 20 Agustus 2019 - 17:35

TIMESINDONESIA, MALANGMahasiswa asal Papua yang kuliah di Kota Malang mengaku aman dan nyaman menempuh ilmu di kampusnya. Hal tersebut disampaikan setelah mengikuti insiden aksi mahasiswa Papua di Jalan Basuki Rachmad, Kota Malang, Kamis (15/8/2019) lalu.

Adalah Nina Awendu, mahasiswa asal Kabupaten Jayapura, Papua, yang sedang kuliah di salah satu kampus swasta di Kota Malang mengaku betah tinggal di Malang. Bahkan, untuk mengisi weekend dia kerapkali menikmati wisata yang ada di Malang.

“Saya betah belajar disini (Kota Malang). Kalau libur, biasa saya dan temen-temen pergi wisata ke Sumber Maron, Pantai Goa Cina, Paralayang, bahkan saya pernah ndaki di gunung Panderman,” katanya kepada TIMES Indonesia, media online yang baru saja ulang tahun ke-4 itu.

Tak hanya di Malang, mahasiswi jurusan Administrasi Publik itu pernah berkunjung ke Makam Bung Karno di Blitar. Nina merasa welcome dengan siapa saja. Dia sering berkumpul dengan mahasiswa lain yang dari luar Papua.

mahasiswa-papua.jpgMauridz Jimmy Tagan, mahasiswa asal Papua yang kuliah di Kota Malang.

“Waktu kunjung ke Makam Bung Karno di Blitar, saya berangkat bareng dosen dan temen-temen. Tapi, kebanyakan waktu kumpul saya sih sama temen-temen Papua. Kita semuanya bersaudara, kok,” ujar mahasiswi semester 5 itu.

Nina mengatakan bahwa dia tidak ikut aksi menyuarakan aspirasi di Jalan Basuki Rachmad itu. Saat itu, ia berada di kamar kost dan sempat ditanyakan oleh ibu pemilik kostnya.

“Saya nggak ikut aksi kemarin. Temen-temen saya yang dari Papua juga (berada) di kamar kost,” aku dia.

Pasca aksi tersebut, Nina mengaku dihubungi via telepon oleh keluarga yang di Papua untuk menanyakan kabar dirinya. Ibu kost Nina, Bu Lisa, pun turut memastikan kabar mahasiswa Papua yang nge-kost di tempatnya, termasuk Nina.

“Setelah kasus (aksi) itu, saya di Malang. Ibu kost bilang biar aja tinggal disini (kost). Disini aman, tenang saja,” ucap dia sambil meniru ucapan ibu kost-nya.

Sejak Agustus 2017, perempuan yang doyan makan rawon ini menginjakkan kaki pertama di Bhumi Arema sejak Agustus 2017, terhitung 2 tahun hingga sekarang. Menurut dia, masyarakat Kota Malang yang dia kenal sangat ramah dan suka berkumpul atau berinteraksi.

Nina beserta kawannya asal Papua diajak masyarakat di sekitar tempat tinggalnya (kost) untuk mengikuti lomba peringatan 17 Agustus. Mereka mengikuti lomba sejak pagi. Malam harinya, mereka juga tak mau ketinggalan ikut tasyakuran bersama warga.

“Kami lomba makan kerupuk saat agustusan kemarin. Malamnya diajak makan-makan bersama warga disana,” ungkap perempuan Cenderawasih itu.

Tak hanya Nina, putra daerah Jayapura yang kuliah di Kota Malang bernama Mauridz Jimmy Tagan juga menegaskan bahwa dirinya merasa aman dan tidak ada gangguan.

“Kalau kami pribadi merasa aman. Kami nyaman disini karena kami tidak pernah ikut dari organisasi luar. Kami selalu dalam intra kampus,” bebernya.

Jimmy berharap insiden yang mengakibatkan kesalahpahaman ini bisa segera diselesaikan dan semua pihak diharapkan menahan diri.

“Kalau saya sih mending kita tetap bersatu. Soalnya kan saya dari kecil dididik dari Indonesia, bukan dari negara lain. Saya bersyukur bisa nulis dan baca,” tegas Jimmy.

Jimmy juga memohon kepada masyarakat yang di Papua supaya tidak mudah terpengaruh atau terprovokasi dari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

“Itu yang kami harapkan agar kita tidak terpecah belah dari NKRI. Kami satu, kami Indonesia,” pungkasnya.

Nina punya harapan lain. Dia berharap saudara Papua yang kuliah di Kota Malang untuk fokus kepada pejalaran kuliah.

Ntar kuliah aja. Kita pulang bangun Papua biar Papua maju SDM-nya karena Papua itu lengkap, semua ada disana,” harap Mahasiswa asal Papua yang sedang kuliah di Kota Malang itu. (*)

Jurnalis : Mohammad Naufal Ardiansyah
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration