Peristiwa - Daerah

Lepas Pisah Pengabdian, KKN 133 UMM Hibur Rakyat dengan Maraton Seni

Lepas Pisah Pengabdian, KKN 133 UMM Hibur Rakyat dengan Maraton Seni Penampilan musik saat acara Tawangarjo Culture Festival oleh KKM 133 UMM di Lapangan Desa Tawangarjo, Karangploso, Kabupaten Malang. (Foto: Naufal Ardiansyah/TIMES Indonesia)
Kamis, 15 Agustus 2019 - 01:20

TIMESINDONESIA, MALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 133 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup rangkaian acara pengabdiannya dengan cara menghibur rakyat. Hiburan itu diikuti ribuan masyarakat yang ‘anteng’ menonton maraton seni dan parade budaya.

Acara yang digelar sejak pukul 15.00 hingga 23.30 WIB Rabu, (14/8/2019) ini berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar. Bertajuk Tawangarjo Culture Feat Coffee Festival, pagelaran karya terbesar mahasiswa UMM ini bertempat di lapangan Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Maraton-Seni-2.jpg

Kepala Desa Tawangarjo, H. Sukar mengapresiasi kegiatan yang menurutnya luar biasa dan penuh kesan. Ia mengaku pengabdian mahasiswa KKN ini akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar terutama di bidang pendidikan dan pengembangan ekonomi.

“Terima kasih sudah memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pengembangan desa yang lebih baik. Saya harap acara ini berjalan lancar sesuai harapan kita bersama,” katanya.  

Kegiatan pengabdian masyarakat, lanjut Sukar, tidak boleh hanya berhenti di sini saja. Meskipun ini penutupan dan lepas pisah, ia berharap kepada seluruh mahasiswa KKN tetap menjalin silaturrahim.

“Meskipun sudah selesai, tetap lanjut mengabdi ke masyarakat disini, ya. Sambung tali persaudaraan disini,” bebernya.

Maraton-Seni-3.jpg

Penutupan KKN 133 berjalan meriah dengan aksi maraton seni dari masyarakat Tawangarjo. Terdiri dari musik akustik, tari tradisional, seni jaranan, barong sai, seni rampak barong, seni cepetan dan ada juga festival kopi.

Koordinator Desa atau Kordes, Handika Putra menjelaskan kegiatan adalah karya mahasiswa yang mengabdi untuk masyarakat sesuai dengan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

“Kami harap acara ini menjadi hiburan bagi warga. Warga Tawangarjo dan sekitarnya supaya tahu bahwa potensi seni itu besar dan memungkinkan dikembangkan ke depannya. Ada kekayaan kopi juga. Ini potensi,” katanya kepada TIMES Indonesia.

Handika juga melaporkan bahwa kelompok 133 ini berjuang semaksimal mungkin untuk menciptakan masyarakat yang mandiri. Mandiri yang dimaksud adalah mandiri pendidikan, mandiri ekonomi, mandiri seni dan sosial.

“Ada satu produk andalan kami yang sudah berhasil diterima warga yaitu pie jeruk. Produk ini juga kami launching saat penutupan. Tapi untuk produksinya sudah berjalan di masyarakat bahwa tembus pemasaran di 4 pusat oleh-oleh terbesar di Malang raya,” imbuhnya.

Maraton-Seni-4.jpg

Kelompok berjumlah 32 mahasiswa ini juga menyediakan 250 kopi gratis bagi pengunjung. Selain itu, ada puluhan stand yang berpartisipasi untuk mengais rezeki. Puluhan stand yang dipakai para pedagang dari masyarakat sekitar diberikan secara cuma-suma alias gratis.

Dengan hadirnya hiburan rakyat berupa maraton seni ini diharapkan bisa menjadi kenang-kenangan dari KKN 133 UMM dan memicu masyarakat untuk sadar akan potensinya yang kaya akan seni dan kopi. (*)

Jurnalis : Mohammad Naufal Ardiansyah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration