Kopi TIMES

Mahasiswa, Cita dan Cinta

Mahasiswa, Cita dan Cinta Ahmad Saifulloh (FOTO: TIMES Indonesia)
Rabu, 14 Agustus 2019 - 23:31

TIMESINDONESIA, MALANGSELAMAT datang para pecandu ilmu di bumi Arema, rasanya kalimat itu sangat cocok untuk mahasiswa baru di kota Malang. Masih ingatkah beberpa waktu  yg lalu mengisii formulir pendaftaraan dengan harap-harap cemas, bingung memilih jurusan, fakultas, dan kampus, bahkan rela memilih jurusan yg kita tidak tahu itu jurasan apa, dengan tujuan hanya satu “diterima”. 

Ketika pengumuman penerimaan mahasiswa baru kita dinyatakan di terima masih ingatkah rasanya? Masih  ingatkah wajah sumringah kedua orang tua kita waktu mengetahui kelulusan kita di kampus idaman? Masih ingatkah bara emosi, cita, cemas, harap, cinta dan kekaguman ketika berangkat dari segala penjuru menuju kota ilmu Malang yang penuh pesona? Bertemu lingkungan baru, bertemu organisasi-organisasi baru, bertemu dengan kebiasaan-kebiasaan baru, bertemu dengan teman baru dari berbagai daerah berkumpul jadi satu memendam mimpi dan memikul tanggung jawab masing-masing dengan ragam warna. 

Malang menjadi salah satu kota destinasi belajar selain berwisata di Indonesia. Minat untuk menimba ilmu di kota dingin ini terlihat dari meningkatnya populasi pendatang yang di dominasi oleh pelajar dan mahasiswa. Hal ini bukan semata pesona alam dan masyarakatnya yang memikat, akan tetapi juga banyaknya perguruan tinggi di kota Malang.

Sangat sulit diingkari bahwa susana Malang sangat ramah bagi para pendatang baik dari cuacanya, tempat wisatanya dan tak lupa para penduduknya. Itu semua menjadi daya tarik tersendiri untuk para pecandu ilmu datang ke kota bunga ini. Itulah yang membuat malang di nobatkan menjadi kota pendidikan di indonesia, pun demikian  hal itu memiliki berbagai macam dampak baik sosial, budaya, dan finansial kota malang itu sendiri. 

Fenomena mulai dari bertambahnya kemacetan di kota malang karena membludaknya pendatang dari berbagai daerah dengan kendaraannya  yang setiap harinya memadati setiap jalanan di kota malang, mengakibatkan kota dingin ini menjadi agak lebih hangat karena meningkatnya polusi udara yang membuat cuaca dan suhu kota ini semakin hari semakin hangat.

Selain itu beragam budaya dari berbagai daerah bahkan luar negeri bersanding dan berbaur dengan budaya khas malang. malang terkenal dengan bahasa kiwalan/ walikan seperti umak, ayas, sam, nakam, yang tak asing lagi kita dengar ketika kita pertama kali menginjakan kaki di kota malang. Hari ini kita sudah mulai biasa mendengar bahasa-bahasa dari berbagai daerah baik dari ujung timur sampai ujung barat indonesia, yang sudah bersanding baik dengan bahasa khas malang. 

Hal postif dari banyaknya pendatang di kota malang ialah dari geliat ekonomi atau finansial pendapatan daerah. banyak dari usaha warga malang yg menjadi lancar, seperti rumah makan, rumah kos/ kontrakan, laundry dan lain sebagainya.

Dari berbagai dampak di atas dapat kita simpulkan  datangnya mahasiswa baru di kota malang memberi dampak negative dan positive untuk kota malang. Akan tetapi hal paling pentig dari itu semua ialah apakah setelah menginjakan kaki di kota di kota malang kita sebagai mahasiswa sudah benar-benar melakukan hal-hal yang dapat mewujudkan impian-impian besar kita ketika hendak menimba ilmu di kota malang?  Apakah ingatan kita akan asa/ cita tidak menguap karena cerita cinta maupun ragam kesibukan organisasi yang seyogyanya menjadi aksesoris kuliah bukan menjadi inti dan esesnsi tujuan kita sebagai mahasiswa? 

Meskipun banyak warna, rasa dan segala gegap gempita kegiatan di kampus di sela-sela tugas kuliah, harus diingat bahwa tempat pasti dan tak bisa ditawar-tawar lagi bagi setiap mahasiswa itu kelak yaitu kembali kepada masyarakat.

Tangung jawab kita sebagai mahasiswa yg di kenal khalayak umum sebagai agent of change atau agen perubahan, agent of social atau agent sosial, agent of control, atau agent pengontrol, dan ketika  kita menyandang gelar mahasiwa kita sudah di anggap oleh masyarakat luas sebagai kaum intelektual oleh karena itu secara moral kita memiliki tanggung jawab memberikan dampak positif untuk bangsa dan negara ini setidakya untuk masyarakat di sekitar kita. 

Definisi mahasiswa menurut KKBI ialah orang menuntut ilmu di perguruan tinggi, pertanyaanya ialah apakah kita benar-benar sedang menuntut ilmu? Apakah setelah lulus dan menjadi sarjana kita bisa menjadi bagian dan bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat?ataukah hanya menjadi beban? Apakah yang kita pelajari di bangku perkuliah sudah cukup untuk mewujudkan semua mimpi diri dan negeri ini? 

Kehidupan di kampus memberikan banyak pilihan bagi mahasiswa untuk berorganisasi. Organisasi yang ada biasanya berkaitan dengan bakat, minat, akademik, asal daerah, almamater dan keagamaan.

Organisasi-organisasi di perguruan tinggi bertujuan untuk meningkatkan soft skill yg di miiliki setiap individu utk dapat menjawab tantangan peradaban dan mampu menghadapi tantangan yang ada di masyarakat.

Organisasi sangat penting untuk melegkapi pelajaran di kelas yang biasanya penuh teori. Maka di dunia organisasilah mahasiswa belajar hidup di dunia realita dan mewujudkan yang terlintas dalam imajinasi.

Sumpah mahasiswa Indonesia, kami mahasiswa inodesia bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, kami mahaiswa Indonesia bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan, kami mahasiswa Indonesia bersumpah, berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan.

Masih ingatkah ketika pertama kali melantunkan kalimat-kalimat sakti itu? Ya..SUMPAH MAHASIWA. Rasanya jiwa ini seperti di getarkan oleh kekuatannya, sumpah itu mengalir deras di urat nadi, membuat detak jantung berdegup lebih kencang dan ada rasa nyeri di ulu hati berasal dari deru semangat pergerakan. Dengan sumpah itu kita secara tidak langsung seperti disucikan dan dipercaya utk melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu kita.

sumpah itu bukan hanya dilafalkan di bibir saja, akan tetapi menyatu dalam diri, merasuk ke dalam hati,  dan mengalir bersama darah dan setiap nafas yg terhembus. Dibuktikan  dalam setiap kata yang terucap, tindak tanduk laku mahasiswa adalah cerminan sumpah mahasiswa yang pantang untuk dihianati. 

Akhirnya saya mengucapkan selamat datang mahasiswa baru di kota Malang. Kami terima kedatangan sahabat dengan tangan terbuka, belajar bersama menanam mimpi dan bergerak bersama, tangan terkepal dan maju kemuka.***

* Penulis Ahmad Saifulloh adalah kordinator Aliansi BEM/DEMA Malang Raya, Presiden mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA), aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UNISMA

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration