Glutera News Glutera News

Belenggu Keyakinan

Belenggu Keyakinan (FOTO: Glutera News)
Rabu, 14 Agustus 2019 - 13:03

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pada suatu hari yang cerah di sebuah kota, seorang pria berencana pergi ke tempat pertunjukan sirkus dengan membawa anak dan istrinya. Niatnya sederhana, ingin memberikan hiburan kepada keluarga di hari libur sekolah.

Sebelum sampai ke tempat pertunjukan, pria tersebut harus melewati sebuah perkemahan dengan tenda yang berukuran besar berisi gajah-gajah sirkus. Gajah-gajah dengan ukuran besar berdiri melamun dengan kondisi satu kaki yang diikat oleh rantai kecil.

Tidak ada pagar sama sekali, setiap gajah hanya diikat dengan tali kecil di salah satu kakinya dan tidak ada yang berusaha untuk kabur, semuanya terdiam.
Sepanjang perjalanan pria tersebut terus memandangi gajah-gajah tersebut dengan mimik wajah yang kebingungan.

Mengapa?

Pria tersebut berpikir, mengapa sang gajah dengan ukuran sebesar itu tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk memutuskan tali kecil yang mengikat salah satu kakinya kemudian lari dari perkemahan tersebut. Namun sebaliknya setiap gajah hanya berdiri terdiam tidak melakukan apapun. Dengan wajah yang masih kebingungan pria tersebut menghampiri sang pawang yang sudah lama juga berdiri disekitar perkemahan gajah tersebut.

Pria tersebut bertanya, mengapa para gajah itu hanya terdiam dan tidak ada satupun yang berusaha untuk kabur padahal hanya diikat dengan tali kecil disalah satu kakinya?

Sang pawang pun tersenyum kemudian menjawab, "ketika mereka masih sangat muda dan berukuran jauh lebih kecil dari sekarang kami menggunakan tali dengan ukuran yang sama untuk mengikat mereka, dan pada usia itu, cukup untuk menahan mereka."

Seiring mereka tumbuh dewasa mereka dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri. Karenanya sampai sekarang mereka masih percaya bahwa talinya masih bisa menahan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencoba membebaskan diri.

Sama halnya dengan keyakinan sebagian orang, bahwa mereka sudah meyakini dirinya tidak mungkin jadi orang sukses. Sehingga tidak mau mencari cara bagaimana mengubah dirinya. Ia lebih mengutamakan kenyamanan yang dinikmati saat ini. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration