Entertainment

IndUniverse Collaboration Concert Obati Kerinduan pada Tanah Air

IndUniverse Collaboration Concert Obati Kerinduan pada Tanah Air Kolaborasi delapan pianis Surabaya bertaraf internasional dalam sebuah konser bertajuk IndUniverse di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Sabtu (10/8/2019) malam. (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Senin, 12 Agustus 2019 - 23:02

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Delapan pianis Surabaya bertaraf internasional tampil memukau dalam sebuah konser IndUniverse Collaboration Concert di Gedung Cak Durrasim Surabaya.

Mereka adalah pianis muda berbakat yang menempuh studi dan berkarir di Amerika Serikat, Australia dan Kanada. Lifia Teguh, Kevin Rahardjo, Ayunia Indri Saputro, Gillian Giraldine Gani, Jeneffer Widjaja, Jesslyn Julia Gunawan, Melivia Raharjo dan Aloysius Albert Oenaryo. 

IndUniverse-Collaboration-Concert-2.jpg

Beragam musik mulai klasik barat hingga tradisional Indonesia dan Indonesian-fusion khusus ditulis oleh Lifia Teguh, seorang pianis, komposer, dan arranger asal Surabaya.

Pada pamungkas konser, Lifia menampilkan delapan pianis dalam sebuah kolaborasi indah Mosaik Khatulistiwa. Rangkaian harmonisasi ragam musik daerah sebagai bentuk kerinduan dan rasa cinta tanah air.

Dentingan piano apik Yambo Rambe Yamko, Ampar-ampar Pisang, Cublak-cublak Suweng, Manuk Dadali, dan lagu nasional Tanah Airku menggema di seluruh gedung Cak Durasim pada Sabtu (10/8/2019) malam lalu.

“Saya aransemen dan berikan jembatan yang indah sebagai bukti keragaman Bangsa Indonesia,” terang Lifia Teguh, yang menjadi pengajar di Portland State University, Amerika Serikat. 

IndUniverse-Collaboration-Concert-3.jpg

Megah dan kaya nuansa. Melarutkan penonton dalam sebuah karya Mosaik Khatulistiwa nan elok. Magisnya gending Jawa, rancak tembang dolanan Kalimantan, serta kegagahan lagu perang Papua.

“Ini saya buat karena benar sebagai anak rantau di Amerika saya sering rindu Indonesia,” sambung mahasiswa S2 tersebut.

Lebih dalam, perjalanan sebagai anak rantau tersebut tertuang di A Traveller’s Journey, komposisi Indonesian-fushion melibatkan dentingan piano Lifia Teguh, dua pemain biola (Yoanita Kartadihardja dan Erwin Prasetya), viola oleh Juanita Sidharta, cello oleh Lita Tandiono, dan perkusi dari Ebenhaezer Silmalipa.

“Saat hidup sendiri saya merasakan pertolongan Tuhan luar biasa, intimate dan semacam berdoa dalam musik ini,” tandasnya.

Komposisi ini menggabungkan genre dangdut, klasik, dan Latin. Keunikan dari kedua komposisi tersebut adalah keterlibatan penonton, mulai dari bermain Ampar-ampar Pisang, menghentakkan kaki, bertepuk tangan, dan menjentikkan jari sehingga ada interaksi dengan penonton yang hadir.

“Saya ingin orang Indonesia menikmati musik karya anak bangsa dengan style fusion dangdut klasik dan Amerika, kita berasa benar seperti merantau dari satu tempat ke tempat lain,” tutur Lifia.

IndUniverse-Collaboration-Concert-4.jpg

Masterpiece klasik turut disuguhkan, Four Seasons: Spring & Winter karya Vivaldi, Java Suite komposisi Godowsky, hingga Sonata karya sang maestro, Mozart. 

Lifia Teguh berharap dengan konser yang disiapkan selama delapan ini, musik Indonesia bisa semakin maju dan dikenal masyarakat dunia. Karena musik juga sebagai bahasa yang mampu menyatukan perbedaan.

“Saya mencampurkan berbagai harmonisasi unsur musik. Saya suka dangdut meskipun beda dengan musik klasik. Saya nggak mau musik dikotak-kotak kan. Tantangan style berbeda jadi agak susah tapi saya dibimbing dosen yang luar biasa,” ungkap perempuan yang didapuk sebagai ambassador untuk budaya Indonesia di kampusnya tersebut.

Pada penutup, Lifia berucap jika kolaborasi delapan pianis Surabaya lulusan luar negeri dalam IndUniverse Collaboration Concert ini semoga mampu memajukan pendidikan musik klasik dan kontemporer di Indonesia. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration