Kopi TIMES

Pengorbanan dan Kurban

Pengorbanan dan Kurban Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat. (Grafis: TIMES Indonesia)
Senin, 12 Agustus 2019 - 21:58

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAPengorbanan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup, bahkan perjalanan hidup untuk meraih sukses. Tidak bisa raih cita-cita tanpa pengorbanan Tidak ada sukses tanpa pengorbanan. Tak bisa mendapatkan cinta tanpa pengorbanan. Tak bisa meraih kejuaraan tanpa pengorbanan. Tak bisa mencapai yudisium dengan IPK atau GPA tertinggi tanpa pengorbanan.

Tak bisa mencapai karir tertinggi tanpa perjuangan. Tak ada ketaatan tanpa pengorbanan. Tak bisa membangun keluarga sakinah tanpa pengorbanan. Tak bisa raih puncak karir tanpa pengorbanan. Tak bisa bisa mencapai keselamatan tanpa pengorbanan. Karena itulah pengorbanan merupakan kunci utama atau faktor yang sangat penting dalam kehidupan.

Pengorbanan yang merupakan kata generik pada hakekatnya dapat diderivasi dari kata kurban. Kurban tidak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban kemanusiaan. Kurban tidak hanya mulai dari peristiwa Ibrahim dan Ismail saja yang kini diabadikan pada setiap kehadiran Idul Adha. Peristiwa kurban dimulai ketika awal sejarah kemanusiaan, yang ditandai dengan peristiwa kurban antara Qabil dan Habil (dua anak Nabi Adam dan Ibu Hawa).

Keduanya melakukan kurban untuk memenuhi permintaan Allah SWT terkait dengan adanya konflik perebutan wanita yang ingin dinikahi Iqlimiya. Ternyata Allah SWT menerima kurban kambing yang gemuk dari Habil dengan menutup kain diangkat ke atas, sebaliknya kurban Habil yang berupa gandum yang jelek tidak diterima.

Al-Qurthubi menukil dari Sa’id bin Jubair rahimahullah dan lainnya bahwa kambing itu diangkat ke surga dan hidup di sana hingga diturunkan lagi ke bumi untuk dijadikan tebusan bagi Nabi Ismail ‘alaihissalam ketika hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Wallahu a’lam.

Peristiwa kurban ini memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa Allah SWT dengan sifat Adil dan Rahman-nya menerima qurban  hamba-Nya dengan tepat sekali. Mari kita cermati firman-Nya berikut ini: QS, Al-Maidah ayat 27, yaitu:

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma qurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.”

Selanjutya, pelajaran berharga dari praktik kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Terutama Nabi Ibrahim yang diuji dengan isteri pertama, Sarah yang berlangsung lama dan belum melahirkan anak. Akhirnya nikah dengan Hajar yang seorang budak sebagai  isteri kedua, tanpa menunggu waktu lama melahirkan seorang anak lelaki bernama Ismail.

Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu? Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat: 102-107).

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan bukti Ayat-ayat tersebut di atas memiliki arti yang sangat penting, bahwa Ibrahim untuk memperoleh seorang anak tidaklah mudah, karena harus menikah lagi. Itupun dari seorang budak dan lebih jelek lagi daripada isteri pertama. Ketika Ismail anak yang dirindukan sudah beranjak dewasa dan sangat disayangi atas dasar perintah Allah SWT harus disembelih. Bisa dibayangkan bahwa Ibrahim benar-benar diuji.

Betapapun berat perintah itu, karena didasarkan cinta dan taatnya kepada Allah SWT Nabi Ibrahim AS pasrah dan ikhlas untuk menyembelih anak yang sangat dicintai dan Ismail ikhlas dan pasrah disembelih. Ketaatan kalahkan ego. Ketakwaan menjadi motif terkuat untuk berkurban. Anugerah Allah SWT bagi hamba-Nya yang berkurban merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Persoalan hidup tidak bisa didekati logika Matematika melainkan logika iman dan akhlaq.

Pelajaran yang sangat berharga ini memberikan keteladanan bagi ummat Islam dan seluruh manusia. Bahwa kita berkorban harus didasarkan atas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Adapun yang dikorbankan adalah sesuatu yang baik, yang dicintai dan disenangi, bukan sesuatu yang jelek yang tidak lagi disukai dan dibutuhkan.

Karena sesuatu yang baik dan disukai itu dikorbankan dan diserahkan ke pihak lain, Insya Allah akan diterima dengan baik dan senang. Sebaliknya, jika sesuatu yang tidak baik dan tidak disukai itu dikorbankan dan diserahkan atau dibagikan ke orang lain, maka boleh jadi mereka tidak mau menerima, menolaknya, atau menerima tapi dibuang.

Kurban berasal dari kata ‘qoroba yaqrobu’ Jim yang artinya mendekat. Jadi, berkurban adalah salah satu ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Karena kurban juga merupakan ekspresi syukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kita yang sangat banyak. Allah SWT juga berfirman dalam QS Al Kautsar:1-2 yang artinya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.”

Bahkan Allah juga tegaskan melalui firman lainnya, bahwa.

“Jika kamu menghitung nikmat Allah SWT, maka kita  tak akan mampu menghitungnya (wa in ta’dduu ni’matan laa tukhshuuhaa).”

Hal ini memperjelas bahwa untuk mensyukuri nikmat Allah SWT kita harus mendekat, baik dengan melakukan sholat maupun berkorban yang lillaahi ta’aala. Jika tidak karena-Nya, maka adzab itu pedih. Bisa secara fisik, bisa secara psikis. Bisa terjadi di dunia, bisa terjadi akhirat. Karena itu berkorban menjadi kebutuhan setiap hamba Allah SWT.

Berkurban yang perlu kita lakukan tidak cukup dengan menyembelih ternak (kambing, domba, sapi, lembu, atau onta) melainkan niat yang mendasarinya, yaitu ketaqwaan dan keikhlasan. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam QS Al Hajj:37), yaitu:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Dengan mengikuti syare’at-Nya, insya Allah kurban kita diterima oleh Allah SWT, dan bermanfaat bagi yang menerimanya. Kurban yang dilakuan tidak hanya dapat memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT (hablum minallah), melainkan juga mengokohkan hubungan dengan manusia lainnya (hablum minannaas) secara seimbang sesuai konteksnya.

Selain daripada itu dalam mencapai hajat kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita, sudah seharusnya kita dukung dengan pengorbanan secara sungguh-sungguh dan ikhlas. Semoga kehadiran kita bermakna, semoga kurban kita diterima disisiNya. Aamiin. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration