Kopi TIMES

Santri Milenial yang Dirindukan

Santri Milenial yang Dirindukan Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.
Sabtu, 10 Agustus 2019 - 13:15

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Profil santri milenial menunjukkan perilaku yang berbeda dengan santri konvensional. Santri milenial melakukan akses informasi atau ilmu secara terbuka dan tidak terikat dengan kehadiran sumber ilmunya. Bahkan abaikan kesinambungan dengan pengarang buku sebagai sumber ilmu yang dipelajari.

Kondisi ini yang membuat santri milenial kehilangan kesempatan membangun ketawadluan. Santri milenial tidak boleh terbawa arus dan seharusnya tetap terjaga marwahnya. Santri milenial yang dirindukan perlu ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Kehadiran dunia digital memang tidak bisa dihindari. Santri milenial seharusnya mampu menghadapi dengan totalitàs, sehingga lebih banyak hikmah yang bisa dipetik. Memang mengakes ilmu dapat dilakukan dengan mudah.  Walaupun demikian kita tidak boleh mengabaikan etika akademik. Riyadhah dalam menuntut ilmu tetap dilakukan dengan proses dan belajar yang sungguh-sungguh, sehingga bisa hindari sifat instan.

Demikian juga karakteristik belajar di pesantren yang menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dengan cara pensanadan, sehingga mengetahui asal usul ilmu yang dipelajari. Upaya ini menjaga keterhubungan (muttashil) antara santri dengan penemu atau sumber pertama ilmu. Walau secara mudah dan cepat dilakukan para santri milenial dalam mempelajari ilmu, pada akhirnya perlu sekali disempurnakan dengan pensanadan.

Memang dalam mempelajari ilmu keislaman, kita tidak cukup hanya menguasai ilmunya saja. Karena itu untuk keberhasilan santri milenial perlu belajar dengan cara blended learning, di samping menggunakan cara online, sangat diperlukan juga dengan muwajahah atau tatap muka.

Dengan cara online lebih ditekankan untuk transfer of knowledge, sedangksn dengan cara face to face lebih ditekankan untuk transfer of values and transfer of psychomotor. Dengan cara yang komplementer diharapkan dapat menyempurnakan sosok santri milenial.

Santri millenial memang dapat menguasai ilmu sebanyak-banyaknya tanpa dibatasi dengan waktu dan tempat. Ilmu yang dipelajari harus bisa memberikan manfaat dan barakah. Untuk itu perlu dibantu dengan sholat malam yang memungkinkan dapat membantu kemanfaatan dan keberkahan ilmu bagi santri pada khususnya. Selanjutnya  ilmu yang dimiliki baru bisa menjadi miliknya, jika bisa diwujudkan dalam amaliah. Bahkan perlu disempurnakan dengan wujud role model.

 

Santri milenial yang diproyeksikan akan hidup dan memainkan peran yang penting dan strategis di masa-masa mendatang harus mendapatkan pendidikan dan pembinaan yang sebaik-baiknya. Untuk itu santri millenial perlu disiapkan dengan baik menjadi Agent of Change, sekaligus menjadi pelopor peradaban untuk masa depan yang lebih baik dan beradab.

Untuk menjadi agent of change, santri milenial sangat perlu dibekali dengan keilmuan islam yang selengkap mungkin dan amaliahnya; kecakapan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif; berintegritas dan kepercayaan diri; kemampuan berkomunikasi; kemampuan berkolaborasi; kecakapan interpreneurship; kecakapan leadership; kepedulian terhadap lingkungan; dan kesadaran kehidupan global untuk rahmatan lil’aalamiin.

Menjadi santri millenial banyak tantangan yang harus dihadapi, bahwa di luar pesantren  terdapat kehidupan yang serba pragmatis, kapitalistik, materialistik, dan hedonistik; akses informasi yang terbuka; pergaulan bebas, dan sebagainya. Untuk menghadapi tantangan yang sangat berat ini, terhadap santri milenial harus ditanamkan kesabaran, kejujuran, keikhlasan, kepatuhan, kedisiplinan, kesungguhan, ketangguhan, ketundukan, kebersamaan, dan kepedulian.

Dengan kemampuan pengendalian diri dan komitmen terhadap kesadaran kolektif (sebagai santri milenial), insya Allah santri milenial akan meraih kemenangan. Semoga alumni santri milenial selalu siap berkolaborasi dengan berbagai fihak  mampu menghadapi tantangan ummat pada jamannya. Aamiin. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration