Kopi TIMES

Memahami Ibadah Haji

Memahami Ibadah Haji Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.
Jum'at, 09 Agustus 2019 - 12:27

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTASAAT ini kita sedang menghadapi hari-hari menjelang Idul Adha. Kita hampir setiap hari tersebari info tentang ibadah haji, terutama di antara kita dan keluarga yang sedang tunaikan ibadah haji. Naik haji musim ini, ada yang senang karena sudah lama, ada yang biasa/biasa saja, ada juga yang rileks saja tanpa peduli dengan dapat giliran kesempatan naik haji. Reaksi terhadap rangkaian ibadah haji sangat dipengaruhi oleh tingkat keilmuan dan kesediaan fasilitas.

Ibadah haji pada hakekatnya menyadarkan ummat Islam akan asal kejadian manusia dan arah kembalinya manusia pada akhirnya menyatu dengan Sang Maha Pencipta. Kelancaran rangkaian ibadah haji ditandai dengan meninggalkan warna dan warni kehilafan, kebanggaan dunia berupa kekayaan dan jabatan, dan pangkat dengan mengubur sedalam-dalamnya. Selanjutnya memulai bersihkan dan mantapkan hati menyatu dengan Allah swt.

Ada sejumlah hikmah yang bisa dipetik dari Ibadah Haji (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz:2007)di antaranya (1) Mengikhlaskan seluruh ibadah dan semata-mata untuk Allah, (2) Mendapat ampunan dosa-dosa dan balasan jannah,  (3) Menyambut seruan  Nabi Ibrahima as,  (4) Menyaksikan berbagai manfaat bagi kaum muslimin, (5) Saling mengenal dan menasehati, (6) Mempelajari agama Allah swt, (7) Menyebarkan ilmu, (8) Memperbanyak ketaatan, (9) Menunaikan nadzar (bagi yg pernah bernadzar), (10) Menolong dan berbuat baik kepada orang miskin, (11) Memperbanyak dzikir kepada Allah swt, (12) Banyak berdoa kepada Allah swt, (13) Menunaikan manasik dengan sebaik-baiknya, dan (14) Menyembelih kurban. Selain itu ada juga hikmah lainnya, yaitu (1) Berkesempatan banyak waktu membaca al Qur-an dan (2) Berziarah ke Makam Rasulullah, sahabat-sahabatnya serta tempat-tempat bersajarah.

Jika memperhatikan seluruh rangkaian ibadah haji, maka kemanfaatan yang dapat dipetik jauh lebih banyak daripada uang yang dikeluarkan. Tidak ada apa-apanya uang yang dibayarkan, karena itu jamaah haji harus optimal manfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah, baik yang ibadah khas maupun ibadah aam.

Kendatipun keutamaan ibadah haji itu tak ternilai, tetapi tidak mudah bisa diraih oleh setiap jamaah haji, karena syaitan tidak henti-hentinya menggoda dan mengganggu keikhlasan kita. Apalagi ada satu faktor yang sangat penting adalah Panggilan Allah swt. Menyadari kondisi ini maka bisa difahami bahwa  dasar hukum bagi diwajibkannya ibadah haji selalu disertai dengan kata “lillah” artinya Aku haji karena Allah. Misalnya, antara lain Allah berfirman, artinya “Dan karena Allah diperintahkan kepada manusia mengerjakan haji bagi yang mampu…” (Qs. Ali Imran:97). Juga “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah …” (QS Al-Baqarah:196). Dari dua ayat di atas dapat diketahui betapa pentingnya keikhlasan bagi calon jemaah haji dalam melaksanakan haji, betul-betul karena Allah bukan karena yang lain. Kita selalu menyadari bahwa tidak semua ummat Islam yang mampu menunaikan ibadah haji. Di sinilah secara proaktif kita tidak henti-hentinya berdoa, semoga selalu dijauhkan dari gangguan dan godaan syaitan.

Kita tidak bisa abaikan kewajiban tunaikan ibadah haji, terutama yang memiliki kemampuan (istatho’ah). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dari Ibnu Abbas, Mujahid dan lainnya, tentang firman Allah,  “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu: Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allâh tidak memerlukannya” (Tafsir Ibnu Katsîr, 2/84). Memperhatikan ayat tersebut, maka tidaklah ringan sanksi yang harus dihadapi oleh ummat Islam yang mengabaikan perubahan ibadah haji.

Ibadah haji memang seharusnya dijadikan kebutuhan kita, sekalipun kita belum memiliki kemampuan. Tekad harus dibangun sedini mungkin, sehingga aktivitas kita bisa  terarah, sehingga secara berangsur-angsur kita dapat mengumoulkan bekal. Jangan sampai kita telat berniat. Apalagi proses sekarang bahwa masa tunggu jauh lebih lama dari masa-masa sebelumnya.

Akhirnya, bahwa ibadah haji merupakan salah satu agenda hidup ummat Islam. Dengan haji bagi yang mampu akan menyempurnakan keislamannya. Tentu ibadah haji tidak hanya berhenti pada rangkaian ibadah ritual itu, yang jauh lebih penting adalah menjaga kemabruran setelahnya. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration