Kamis, 19 September 2019
Adv Advertorial

‘Gully Plugs’ Karya Dosen Poliwangi Mampu Minimalisir Banjir Bandang Alas Malang

‘Gully Plugs’ Karya Dosen Poliwangi Mampu Minimalisir Banjir Bandang Alas Malang Pembuatan Kontruksi Check Dam
Senin, 05 Agustus 2019 - 10:12

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIBanjir bandang di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, 15 Mei 2018 lalu, menjadi inspirasi bagi Zulis Erwanto, ST, MT. Dosen Program Studi D3 Teknik Sipil, Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), ini menciptakan konstruksi bangunan Check Dam yang teknologinya mampu meminimalisir terulangnya bencana.

Check Dam yang diberi nama Gully Plugs dan disusun menggunakan bata lego (Interlock Lego Brick), tersebut dibangun dekat aliran hulu sungai lereng Gunung Raung. Tepatnya dekat aliran sungai Wisata Pinus Songgon (WPS), di Desa Sumber Bulu, Kecamatan Songgon.

Check-Dam-2.jpgPelatihan Pembuatan Batu Bata Lego (Interlock Lego Brick) Bersama Masyarakat Wisata Pinus Songgon (Foto : Roghib Mabrur/Times Indonesia)

Pencapaian dosen kampus negeri tertua di Bumi Blambangan disini tidak ujug-ujug begitu saja. Namun melalui observasi hingga permodelan yang njelimet.

Bermula dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), kampus Poliwangi tahun 2019. Yang melibatkan Dadang Dwi Pranowo, ST, M.Eng, dosen program studi D3 Teknik Sipil dan satu dosen program studi D4 Agri Bisnis, Abdul Holik, S.TP, M.Sc. Pihak Perhutani KPH Banyuwangi Barat dan Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) WPS.

“Di sana belum ada bendung atau Gully Plugs,” kata Zulis Erwanto pada TIMES Indonesia, Senin (5/8/2019).

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat material longsor seperti tanah dan bebatuan dari gunung Pendil, dilereng gunung Raung, bisa terbawa ke hilir hingga merusak fasilitas umum. Termasuk rumah warga. 

Guna optimalisasi, letak pembangunan ditentukan berdasarkan potensi erosi. Menyesuaikan dengan potensi erosi lahan yang kritis dan tererosi, atau pada tanah yang membutuhkan konservasi lahan. Seperti erosi lembar, erosi alur, erosi parit dan erosi jurang. Sementara itu, potensi erosi yang ada di WPS termasuk kategori erosi alur dan erosi parit.

Pembangunan konstruksi Gully Plugs dikerjakan oleh tim bersama 10 mahasiswa semester 3 dan 5 dari Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan dibantu warga WPS. Proses pembuatan memakan waktu selama satu minggu.

“Konstruksi awal pasangan batu kali, dilanjutkan dengan bata lego, yang mana jarak lokasi bangunan Gully Plugs dengan aliran sungai lebih kurang 60 meter,” jelas Zulis.

Panjang konstruksi bangunan mencapai 10 meter dengan ketinggian 50 senti meter dan lebar bangunan mencapai 60 senti meter. Produksi batu bata lego mencapai 2000 biji dengan realisasi 1700 biji. 

Check-Dam-3.jpgPembuatan konstruksi Check Dam "Gully Plugs" Berbahan Dasar Batu Bata (Interlock Lego Brick) di Wisata Pinus Songgon, Banyuwangi (Foto : Roghib Mabrur/Times Indonesia)

Pada umumnya bahan dasar pembuatan konstruksi Gully Plugs hanya dari campuran batu kali, pasir dan beton. Di sini, akademisi Poliwangi, berinovasi dengan membangun bendung lain dari pada yang lain. Yakni menggunakan batu bata lego (Interlock Lego Brick). Yang artinya terdapat lubang khusus pada bentuk batu bata, yang berfungsi sebagai kuncian.

“Jadi konstruksi bangunan lebih kuat, karena itu dijuluki batu lego karena bentuknya mirip dengan lego,” kata Zulis.

Fungsi bangunan Gully Plugs, lanjutnya, untuk menahan sedimen-sedimen tanah yang terbawa longsoran banjir. Puluhan tahun mendatang, diharapkan akan tertutup tanah, sehingga tanah di sekitarnya menjadi lebih subur.

Batu bata lego karya Zulis dijual antara Rp. 1.300-1.500 per biji. Lebih mahal dibanding harga batu bata merah, yang hanya Rp 500 per biji. Namun lebih murah jika dipadankan dengan nilai batako, yang per bijinya mencapai Rp 2.500.

“Keistimewaan bata lego secara teknis mutunya lebih bagus dari pada bata konvensional bata merah biasa, tetapi tidak lebih bagus dari batako, namun secara ekonomis lebih bagus bata lego. Ukurannya lebih tebal dari bata merah tapi lebih kecil dari batako, mutunya tingkat dua, jadi di atasnya batu merah dan di bawah batako,” cetusnya.

Ditambahkan, bahan dasar bata lego menggunakan campuran dari tanah liat, semen, pasir dan, abu ampas tebu atau abu lainnya. Tetapi mutunya bisa ditingkatkan lagi, apabila bahan dasarnya hanya menggunakan semen dan pasir. Bahkan kualitasnya bisa jauh diatas batako.

Ingin bangunan teknologi ciptaanya memiliki manfaat lebih luas, Zulis berharap kerjasama dengan Perhutani KPH Banyuwangi Barat yang telah terjalin bisa terus berlanjut. Apalagi, secara teknis keberadaan Check Dam bukan hanya satu, tapi berlapis.

Check-Dam-4.jpgPenerapan konstruksi Gully Plugs di daerah Program Pengabdian Masyarakat 2019 (Foto : Roghib Mabrur/Times Indonesia)

“Kami terkendala biaya, jadi hanya membuat satu bangunan Gully Plugs untuk percontohan, harapan kami kedepan tidak hanya bangunan konservasi secara mekanik atau bangunan fisik tetapi juga dalam konservasi vegetatif yang ramah lingkungan,” katanya.

Kehadiran Check Dam berteknologi buatan Dosen Poliwangi ini mendapat apreasiasi dari masyarakat WPS dan sekitarnya. Bahkan, sambutan baik tersebut telah nampak pada sosialisasi program PKM, pada 25 Mei 2019 silam.

Baik Pemerintah Desa Sumberbulu maupun Ketua Pengelola WPS, Yusuf dan H Bakir, selaku BPKH Rogojampi, Perhutani KPH Banyuwangi Barat, juga datang.

“Kita sangat mendukung program akademik dari Poliwangi di wilayah tersebut, karena sangat mendukung program perhutani dalam perlindungan tanah di kawasan hutan produktif,” ucapnya.

Selain itu, Bakir juga menyarankan perlu adanya MoU antara Politeknik Negeri Banyuwangi dengan Perhutani KPH Banyuwangi Barat terkait penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka konservasi air dan tanah kawasan hutan produktif di Kabupaten Banyuwangi secara berkesinambungan.

Selain melakukan pembangunan Gully Plugs, kegiatan rangkaian Program Hibah Desa Binaan (PHBD) kampus Poliwangi ini juga dilakukan penyuluhan tentang teknik mitigasi bencana banjir bandang. Teknik konservasi lahan serta pelatihan konstruksi Gully Plugs dengan Interlock Lego Brick, sekaligus prakteknya. (adv)

Jurnalis : Roghib Mabrur
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration