Ketahanan Informasi

Hadapi Kemarau Panjang, BNPB Gandeng ACT

Hadapi Kemarau Panjang, BNPB Gandeng ACT Melalui masukan sejumlah NGO seperti ACT, BNPB akan melakukan sejumlah langkah terkait dengan kesiapsiagaan menghadapi fenomena kekeringan yang sedang melanda Indonesia. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Senin, 22 Juli 2019 - 11:16

TIMESINDONESIA, JAKARTABNPB menggelar rapat koordinasi terkait kemarau panjang yang akan melanda beberapa daerah di Indonesia. Dalam rakor tersebut BNPB mengundang belasan organisasi serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), termasuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (19/7). Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi solusi guna menghadapi potensi kekeringan tahun ini.

Bambang Wahyu Putra, Pelaksana Harian (PLH) Direktur Kesiapsiagaan BNPB menjelaskan, pihaknya akan mencoba kembali memantau wilayah-wilayah yang mulai terdampak. Sejumlah wilayah terdampak tersebut meliputi hampir seluruh daerah Jawa dan Nusa Tenggara. Setelahnya BNPB juga akan mencari informasi langsung dari lapangan mengenai fenomena kekeringan.

Lembaga-lembaga yang hadir pun menjelaskan aksi-aksi mereka terkait pencegahan yang dimaksud. ACT telah melakukan distribusi air bersih di sebanyak 12 kabupaten di tahun 2019 ini. "Sebanyak 198.000 liter air telah didistribusikan kepada sekitar 17.795 jiwa atau mencakup sebanyak 3.533 kepala keluarga di seluruh wilayah terdampak kekeringan," kata Ryan Andriana Rachman tim pendistribusian air bersih ACT.

Bambang mengapresiasi ACT dan lembaga-lembaga terkait atas aksi-aksi dan masukan yang telah mereka berikan selama ini. Baginya, pemerintah terbantu dengan kehadiran aksi-aksi tersebut, terutama mengingat Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas sehingga butuh kontribusi dari berbagai pihak agar dapat mencakup masyarakat yang begitu banyak.

Selain itu, Bambang juga mengharapkan dengan kehadiran lembaga-lembaga ini dapat membantu masyarakat untuk berkontribusi sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 yang terkait dengan kebencanaan.

“Bahwa kita perlu meningkatkan kegotongroyongan,  kedermawanan. Kita berupaya agar masyarakat untuk mendapatkan kesempatan untuk menderma. Karena mendapatkan kesempatan untuk menderma itu kadang-kadang sulit. Makanya kita coba gali ini dengan dukungan ACT dan berbagai pihak supaya masyarakat memiliki saluran-saluran untuk mendermakan kemampuannya yang berlebih untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Bambang.

Berdasarkan BMKG kemarau panjang di Indonesia mulai masuk sejak awal Juni lalu. Hal ini akan berdampak pada bencana kekeringan.Puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus-September mendatang. (*)

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Loading...
Registration