Kopi TIMES

Pendosa vs Ahli Ibadah

Pendosa vs Ahli Ibadah Muhammad Hamim HR, Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Malang. (Grafis: Dena Setya Utama/TIMES Indonesia)
Senin, 22 Juli 2019 - 11:57

TIMESINDONESIA, JAKARTA – SAHABAT Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah SAW bersabda:

الفَاجِرُ الرَاجِيْ رَحْمَةَ الله تَعَالَى أَقْرَبُ إِلَى الله تَعَالَى مِنْ العَابِدِ المُقْنِطِ

“Pendosa yang mengharapkan rahmat Allah SWT lebih dekat kepada Allah SWT daripada Abid (Ahli Ibadah) yang membuat orang berputus asa dari (rahmat) Allah.”

Diceritakan oleh Zaid bin Aslam dari Sahabat Umar, bahwa ada seorang laki-laki yang sangat rajin beribadah, akan tetapi di sisi lain ia membuat orang lain berputus asa akan rahmat Allah. Di saat ia telah meninggal, lalu ia bertanya:

“Wahai Tuhanku, apa yang aku peroleh di sisiMu?” Allah SWT menjawab: “Ketetapan untukmu adalah neraka.” Laki-laki itu terkejut, lalu berkata: “Wahai Tuhanku, lantas di mana amal-amal ibadahku?” Allah menjawab: “Sesungguhnya kamu telah memutus pengharapan orang yang mengharapkan rahmatKu, maka sekarang Aku akan memutus rahmatKu kepadamu.”

Dikisahkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya ketika seorang laki-laki tidak beramal suatu kebaikan kecuali hanya meng-Esakan Allah, maka ketika maut akan tiba dihadapannya,  ia berkata kepada keluarganya: ‘Ketika aku mati, bakarlah diriku dengan api. Kemudian buanglah jasadku (yang telah menjadi abu) ke dalam laut.’ Setelah berkata seperti itu, ruh dalam dirinya diangkat dan nafasnya pun terhenti, lalu keluarganya melaksanakan apa yang ia katakan.” Allah bertanya: “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Laki-laki itu menjawab: “Aku melakukannya semata-mata aku takut kepadaMu, wahai Tuhanku.” Mendengar hal itu, Allah mengampuni segala dosa-dosanya.

Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa AS ada seorang laki-laki yang telah meninggal dunia, akan tetapi tidak ada seseorang pun yang mengurusnya, karena ia adalah orang yang fasiq.  Lantas Allah memberikan Wahyu kepada Nabi Musa:

“Wahai Musa, ada seorang laki-laki yang telah meninggal dunia, lalu  ia dibuang ke tempat kotoran hewan, sedangkan ia adalah kekasihKu. Tak ada seseorang pun yang mengurusnya, maka pergilah, lalu mandikan, kafani, shalati, dan kuburlah ia.”

Lalu Nabi Musa bergegas pergi untuk mencari laki-laki itu ke tempat yang telah ditunjukkan oleh Allah. Setelah berada di tempat yang ditunjukkan oleh Allah,  Nabi Musa bertemu dengan para penduduk di tempat itu dan bertanya dengan menceritakan sifat laki-laki tersebut.  

Mereka menjawab: “Ya, ia telah mati dan sesungguhnya ia adalah seorang laki-laki yang begitu fasiq.” Nabi Musa bertanya lagi: “Dimanakah tempatnya? Bawalah aku kepadanya.” Maka mereka berangkat dan melihat seorang laki-laki yang telah mereka buang ke tempat kotoran hewan.

Kemudian Nabi Musa bermunajat: “Wahai Tuhanku, Engkau perintahkan diriku untuk mengurusnya, sedangkan mereka menyaksikan atas keburukannya. Ya Allah, Engkau lebih mengetahui daripada mereka.”

Allah SWT menjawab: “Wahai Musa, benar apa yang dikatakan oleh mereka, akan tetapi ia telah meminta pertolongan kepadaKu di saat ajal telah datang dihadapanya dengan tiga perkara.” Nabi Musa bertanya: “Apa tiga perkara itu?”

Allah menjawab: “Ketika laki-laki itu sudah di ambang kematian, ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui dii dalam diriku bahwa aku telah bermaksiat, sedangkan hatiku sangatlah membencinya, akan tetapi aku melakukannya dengan sebab tiga perkara yang berkumpul dalam diriku, yakni hawa nafsu, teman yang buruk serta Iblis -laknatullah-. Tiga perkara inilah yang membuatku selalu bermaksiat, sesungguhnya Engkau mengetahui atas apa yang aku katakan, maka ampunilah aku.’”

Allah melanjutkan: “Yang kedua ia telah berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah bermaksiat, sedangkan tempatku bersama orang-orang fasiq, akan tetapi berteman dengan orang-orang shaleh lebih aku cintai daripada orang-orang fasiq.”

Dan yang terkahir Allah SWT melanjutkan: “Yang ketiga, ia telah berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui diriku bahwa orang-orang shaleh lebih aku cintai daripada orang yang fasiq, sehingga ketika aku bertemu dua orang laki-laki (satu sholeh, satu fasiq) maka sungguh aku dahulukan hajatnya orang yang shaleh daripada yang fasiq.’”

Di dalam riwayat yang lain, laki-laki itu berdoa kepada Allah dengan doa: “Wahai Tuhanku, seandainya Engkau mengampuni dosa-dosaku, maka kekasih dan Nabi-Mu akan berbahagia, sedangkan syetan akan sedih. Dan jikalau Engkau menyiksaku dari dosa-dosaku, maka syetan dan temannya akan berbahagia, sedangkan kekasih dan Nabi-Mu akan bersedih dan sesungguhnya aku mengetahui, bahwa kebahagiaan kekasih dan Nabi-Mu lebih Engkau cintai daripada bahagianya syetan, maka ampunilah aku. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui atas apa yang aku katakan, maka kasihanilah aku dan maafkanlah diriku.”

Lantas Allah SWT melanjutkan kalam-Nya: “Maka Aku mengampuni dan memaafkan segala dosa-dosanya, karena sesungguhnya Aku adalah Dzat yang banyak akan kasih sayang, apalagi kepada orang yang mengakui dosa-dosanya dihadapanKu, sedangkan laki-laki ini telah mengakui akan dosa-dosanya. Wahai Musa, lakukanlah perintahku, sesungguhnya Aku akan megampuni orang yang melakukan shalat jenazah untuknya dan hadir dalam pemakamannya dengan lantaran kemuliaan laki-laki ini, yakni kekasih dari sebagian kekasih-kekasih-Ku.”(*)

*)Penulis, Muhammad Hamim HR, Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

Komentar

Loading...
Registration