Pendidikan

Gus Muwafiq Bakar Semangat Ribuan Peserta PIONIR IX 2019 dalam Gelar PTKIN Bershalawat

Gus Muwafiq Bakar Semangat Ribuan Peserta PIONIR IX 2019 dalam Gelar PTKIN Bershalawat Gus Muwafiq bershalawat bersama peserta Pionir IX di UIN Malang. (FOTO: Imam Kusnin/TIMES Indonesia)
Jum'at, 19 Juli 2019 - 18:28

TIMESINDONESIA, MALANG – Sekitar tiga ribuan mahasiswa peserta dan offisial Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset / PIONIR IX 2019 diberikan siraman ruhani oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dari Jogjakarta. Acara bertajuk PTKIN Bershalawat ini digelar di hall UIN Malang Kamis (18/7/2019) malam.

Gus Muwafiq menguraikan kehebatan dan keunggulan bangsa Indonesia dan bagaimana Islam menjadi tata hidup dan kehidupan yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Acara diawali dengan pembacaan shalawat barzanji dengan diiring rebana dari dosen muda tuan rumah. Peserta diajak larut memanjatkan pujian kepada baginda Rasulullah SAW. 

Tidak cukup dengan senandung shalawat, lagu-lagu khas nusantara yang sarat makna juga turut didendangkan. Lagu “Sluku-Sluku Bathok”, “Suket Teki”, “Ilir-Ilir”, dan lagu cinta tanah air “Ya Lal Wathon” menambah semarak acara “PTKIN Bershalawat” pada malam itu.

Gus Muwafiq, dalam ceramahnya di hadapan peserta PIONIR IX 2019 membakar semangat kebangsaan dan ke-Indonesiaan. “Negara-negara yang dekat dengan turunnya Islam dan di situ ada para Nabi, sampai sekarang masih dilanda banyak pertikaian dan perang. Sedangkan Indonesia yang berjuta suku, bahasa, dan golongan hidup dengan persatuan, damai dan saling tolong menolong,” ungkap alumnus UIN Sunan Kalijaga ini.

Mantan demonstran ’98 ini mengajak generasi muda Islam dari kalangan PTKIN ini untuk terus memperjuangkan Islam. Tidak hanya sebagai agama tetapi juga Islam sebagai gerakan perubahan. 

“Kalau ada ungkapan al Islamu Yu’la wala Yu’la alaih, lantas apakah sekarang Islam sudah lebih tinggi dengan bangsa dan peradaban agama lain?" tanya Gus Muwafiq kepada para jamaah.

Pionir-IX-di-UIN-Malang2.jpg

Siapa yang menciptakan pesawat? Handphone dan bebagai sarana elektronik? Sistem perbankan mana yang diterapkan di dunia? Perbankan Islam, syariah atau perbankan konvensional?, gelitik alumnus Fakultas Dakwah UIN Suka ini.

Menyoroti fenomena fanatisme yang berkembang di Indonesia, Gus Muwafiiq kembali menegaskan bahwa ber-Islam di nusantara harus siap menerima perbedaan. Tidak hanya perbedaan agama yang merupakan sunnatullah namung juga perbedaan politik. “Perbedaan adalah anugerah dari Tuhan dan seharusnya kita mengambil hikmah atasnya termasuk perbedaan politik pada Pilpres yang lalu," katanya. 

“Saat ini ada orang yang tidak suka Pak Jokowi dan Pak Prabowo Subianto akur dan damai, mereka menginginkan terus berkonflik, layaknya kelompok khawarij pada peristiwa perang antara Ali dan Muawiyah pasca arbitrase (tahkim),” tutur Gus Muwafiq.

Gus Muwafiq mensinyalir munculnya neo khawarij di Indonesia pasca Pilpres. “Pengikut Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sahabat Ali Bin Abi Tholib telah sepakat untuk damai, namun ada pengikut yang tidak puas dengan kedamaian yang akhirnya berujung munculnya khawarij,” cetus arek Jawa Timur ini. 

Senada dengan Gus Muwafiq, Wakil Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim KH Isroqunnajah mengatakan kita harus bersyukur hidup di negeri yang berdaulat seperti Indonesia. “Marilah kita saling menggenggam tangan dan merapatkan barisan serta menatap ke depan untuk kejayaan dan melupakan perbedaan,” kata Gus Is.

Nampak hadir dalam PTKIN Bershalawat dalam rangka PIONIR IX 2019 antara lain, Ketua Forum Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PTKIN se-Indonesia Waryono, Para Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PTKIN, Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Ruchman Basori, tokoh masyarakat dan segenap civitas akademika UIN Malang. (*)

Jurnalis : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration