Wisata

Benteng Kedung Cowek Masuk dalam Jajaran Arsip Rahasia di Belanda

Benteng Kedung Cowek Masuk dalam Jajaran Arsip Rahasia di Belanda Benteng Kedung Cowek merupakan gudang persenjataan kolonial Hindia Belanda yang berhasil diambil alih oleh pasukan Tentara Keamanan Rakyat Pasukan Sriwijaya saat perang kemerdekaan. Namun kondisi benteng ini sudah tidak terawat lagi, Kamis (18/7/20). (fot
Kamis, 18 Juli 2019 - 23:54

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Menyusuri Benteng Kedung Cowek jejak peninggalan Belanda seperti kembali pada memori masa perang kemerdekaan. Meskipun kondisinya tak terawat dan berada di kawasan steril, ternyata arsip tentang benteng ini tergolong classified (rahasia) di National de Archive Den Haag. 

Ady Setyawan, penulis buku Benteng-benteng di Surabaya melakukan riset hingga ke Belanda. Ady mulai melakukan penelitian sejak 2010 lalu melanjutkan perjalanan ke Negeri Kincir Angin selama tiga bulan pada 2015.

Benteng Kedung Cowek masih tersimpan di deretan arsip berstatus classified. Sebuah buku terbitan Asia Maior memuat peta perkembangan Kota Surabaya. Sejak 1600-1950, sama sekali tidak pernah ditampilkan adanya benteng pertahanan modern. Mereka hanya menampikan benteng-benteng kuno mulai Prins Hendrik hingga Belvedere.

Benteng-Kedung-Cowek-b.jpg

“Benteng modern seperti Kedung Cowek, Kalidawir dan sebagainya nggak ada karena sifatnya rahasia,” terang Ady kepada TIMES Indonesia, Kamis (18/7/2019).

Meskipun mengaku sedikit mengalami kesulitan saat melakukan riset hingga menerima perlakuan kurang menyenangkan, ia tidak putus asa. Arsip tersebut sampai ke tangannya. 

“Walau sebenernya ya nggak rahasia-rahasia amat, buktinya bisa sampai ke tangan saya. Kalau ditanya bagaimana caranya, ya kembali ke teori bahwa senjata terbaik manusia adalah negosiasi,” terang Ady.

Benteng-Kedung-Cowek-c.jpg

Sistem perbentengan gudang peluru di tepi pantai ini, lanjut Ady, menganut teknologi modern pada masanya. Tidak menggunakan model benteng kotak karena pada masa tersebut teknologi saling kejar mengejar dengan teknologi artileri. 

Benteng Kedung Cowek didirikan pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai gudang persenjataan serta mengantisipasi serangan militer dari wilayah utara laut Surabaya. 

Secara historis, Benteng Kedung Cowek dibangun Belanda sebagai pertahanan melawan Jepang saat Perang Pasifik pada tahun 1900. 

Setelah Jepang menyerah pada sekutu, Benteng Kedung Cowek diambil alih oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat pertempuran 10 November 1945 melawan Inggris. 

Benteng-Kedung-Cowek-d.jpg

Pasukan yang gugur di tempat ini adalah Pasukan Heho dari Sumatera sehingga mereka menamakan diri sebagai Pasukan Sriwijaya. Sepertiga atau sekitar 700-800 orang gugur di tempat ini tanpa sempat dievakuasi. Oleh karena itu nama Sriwijaya memiliki kaitan erat dengan Batalyon Artileri Arhanud di Palembang, Sumatera Selatan di bawah Komando Kodam II/Sriwijaya.

“Jaman dulu persatuan sangat kuat, buktinya mereka berfikir membela kedaulatan yang sama dan konsekuensinya habis (gugur) di sini,” kata Ady sembari mengajak TIMES Indonesia berkeliling di lokasi benteng seluas 7,1 hektar tersebut. 

Benteng Kedung Cowek merupakan satu-satunya situs pertempuran di Surabaya yang belum tersentuh dan memiliki potensi sangat besar sebagai destinasi wisata cagar budaya. Karena merupakan satu-satunya benteng orisinil yang masih ada di Kota Pahlawan.

Banyaknya lubang-lubang bekas tembakan di tiap cekungan benteng merupakan tempat persembunyian para prajurit serta kondisi bunker yang pengap masih bisa dirasakan. 

“Museum ini merupakan museum hidup, dua minggu yang lalu kita juga menemukan banyak proyektil di sini,” ceritanya. 

Total terdapat sepuluh bunker sepanjang sisi Surabaya dan Madura atau di sisi timur Jembatan Suramadu, Kelurahan Kedung Cowek. 

Saat ini keberadaan gudang peluru sudah menjadi Barang Milik Negara (BMN) dan dikelola oleh Kodam V/Brawijaya. Namun belum ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Ady berharap Benteng Kedung Cowek mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk menjaga nilai historisnya.

“Menjaga nilai kesejarahan penting karena ke depan kita akan membangun. Namun dalam upaya membangun karakter Bangsa kita butuh contoh atau sample agar bisa merekonstruksi kejadian pada waktu itu,” sambungnya.

Saat riset ke Belanda ia juga menyempatkan diri mampir ke Perancis dan melihat beberapa bangunan benteng yang masih terjaga.

Ady ingin Benteng Kedung Cowek juga mendapat perlakuan serupa berkiblat pada negara-negara tersebut. “Di sana benteng yang udah hancur pun masih dikunjungi orang. Menariknya, mereka memberi sebuah infografis yang bisa dinikmati orang. Sehingga ketika orang datang bisa turut menyebarkan informasi dan yang lebih penting adalah menambah wawasan,” terang Ady.(*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration