Peristiwa - Daerah

Keren, Pemuda di Bondowoso Ini Bikin Alat Pengukur Tekanan Darah Umum Gratis

Keren, Pemuda di Bondowoso Ini Bikin Alat Pengukur Tekanan Darah Umum Gratis Warga sedang mengecek tensi darahnya secara gratis di tempat Tensi Umum buatan Fajri. (FOTO: Fajri for TIMES Indonesia).
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:49

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Jika dulu ada telepon umum berbayar. Kali ini pemuda di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, berhasil membuat alat pengukur tekanan darah yang mirip telepon umum.

Dia adalah Fitroh Nur Fajri (23 Tahun), pria asli Desa Kejawan, RT 30 RW 05 Kecamatan Grujugan, Bondowoso. Fajri menjelaskan bahwa karyanya tersebut, memang terinspirasi dari telepon umum. Dia sering melihat bekas telepon umum yang sekarang sudah tidak terpakai dan hanya seperti pajangan di pinggir jalan. 

Alasan dibuatnya alat tensi (pengukur tekanan darah) umum karena Puskesmas jauh dari desa tempat dia tinggal. Selain itu, karena sedikitnya SDM kesehatan di sekitar rumahnya yang bisa memberikan layanan tensi darah. Di sisi lain, tidak selamanya yang punya dan yang bisa memberikan layanan tensi itu stand by di rumah setiap hari.

Pengecekan-Tensi-darah-di-bondowoso-a.jpg

"Apalagi di  Bondowoso, penelitian saya 2018 itu, hipertensi menduduki angka pertama sebagai penyakit tak menular pada tahun 2017,” jelas pria yang akrab disapa Fajri tersebut. “Itulah yang menjadi faktor atau penyemangat saya untuk membuat karya itu,” sambung pria kelahiran 01 Maret 1996 tersebut.

Pria lulusan D III Keperawatan Akper Bondowoso itu melihat banyaknya telepon umum di kawasan kota yang sudah tak lagi difungsikan. Kemudian muncullah pikiran inovatif, untuk mengubah telepon umum tersebut menjadi alat pengukur tekanan darah. Hasilnya, kerangka telepon umum itu tak lagi dipajang percuma. Tapi bisa memiliki nilai guna atau bermanfaat.

“Saat itu saya tak tahu harus menghubungi siapa untuk menggunakan telepon umum tersebut sebagaimana yang saya inginkan,” kenangnya.

Namun pada akhirnya Fajri memilih menduplikat telepon umum dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat. Meski demikian dia harus merogoh kocek dari kantong pribadinya sebesar Rp 700.000.

Menurutnya, dibutuhkan waktu dua bulan untuk merakit tensi umum tersebut. Mulai dari pembuatan kerangka telepon umum dengan besi. Kemudian, membeli tensi digital.

Pengecekan-Tensi-darah-di-bondowoso-b.jpg

“Tak lupa saya menyiapkan leaflet yang berisi berbagai penjelasan tentang hipertensi. Misalnya darah rendah dan berbagai informasi tentang tekanan darah,” jelasnya.

Setelah tensi umum tersebut selesai, dia meletakkan di samping rumahnya. Sekarang, semua warga bisa memeriksa tekanan darahnya sendiri. Walaupun tidak ada tenaga kesehatan.

“Iya jadi hampir mirip dengan telepon umum, saya sediakan tempat duduk. Jadi warga tinggal duduk, mansetnya dipasang di lengannya, tinggal pencet. Nunggu aja beberapa detik. Sudah ketahuan hasilnya,” jelasnya.

Jika telepon umum harus membayar. Sebaliknya, warga yang mau memanfaatkan alat tensi umum buatan Fajri tersebut tak perlu membayar alias gratis.

Dia merasa bangga bisa membantu orang banyak. Apalagi sekarang anak-anak sekolah di lingkungannya diajaknya menjadi perawat cilik. Yakni dengan mengajari mereka cara memanfaatkan tensi umum, sehingga nantinya bisa membantu para lansia yang juga ingin memeriksa tekanan darahnnya.Edisi-Kamis-18-Juli-2019-A.jpg“Saya tidak mengharapkan apa-apa dari warga. Terpenting semuanya bermanfaat,” aku pria yang baru saja lulus tersebut.

Dia berharap karyanya itu bisa diproduksi masal. Yakni dengan mengubah semua telepon umum yang sudah tak terpakai menjadi tensi umum.

Utamanya di kawasan pelosok. Ujungnya nanti, semua warga masyarakat bisa memeriksakan diri secara mandiri.

“Impian saya itu, inginnya setiap desa ada. Apalagi yang pelosok itu bisa ada seperti tensi umum ini. Sehingga masyarakat itu tidak sampai kritis ketika ada di rumah sakit,” harap pria asli Bondowoso itu.(*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Loading...
Registration