Gaya Hidup

“Secangkir Rindu untuk Kotaku”, Karya Anak Muda untuk Bondowoso

“Secangkir Rindu untuk Kotaku”, Karya Anak Muda untuk Bondowoso Launching dan screening lagu. (foto: Istimewa)
Selasa, 16 Juli 2019 - 15:52

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Lima anak muda asli kelahiran Bondowoso ini sangat kreatif dalam menluapkan rasa rindu ke tanah kelahirannya. Ini terlihat saat mereka mengekspresikan rasa rindu itu dalam karya lagu “Secangkir Rindu untuk Kotaku”.

Lama aku tak pulang, ke kota 1000 kenangan. Rindu tak pernah hilang. Ingin selalu datang, kembali, ke sini.” Begitu penggalan lirik lagu yang mereka ciptakan.

Mereka adalah Lutvan sebagai  pengarang lagu dan musik, Ghuntur dan Debora sebagai vocalis, dan Sutradara Video Klip yakni Izra Tamaris, terakhir didapuk sebagai produser adalah Tiara.

Launching-dan-screening-lagu-b.jpg

Karya kolaboratif lima anak Bondowoso yang tengah merantau dan menempuh pendidikan di luar kota ini sangat luar biasa.

Keseluruhan lagu betul-betul berisi kerinduan pemuda asli kelahiran Bondowoso tersebut, akan keindahan kotanya.

Mereka menamai diri sebagai Estetiga, yang merupakan plesetan dari kata estetika.  Sementara makna tiga sendiri, diambil dari tiga orang inti dalam pembuatan lagu dan musiknya.

Estetiga melaunching dan menscreening video klip lagu tersebut kepada khalayak di Cafe DRK, Senin (15/7/2019) malam.

Menurut Izra Tamaris, bahwa lagu bergenre pop akustik itu dibuat karena pihaknya ingin memberitahukan kepada publik tentang  apa yang tengah dirasakan mereka. Yakni sebagai perantau yang lama tidak pulang ke Bondowoso.

“Setidaknya kerinduan pun bisa tergambar jelas di dalam lirik lagu yang memang banyak sekali kata-kata diambil dari ikon Bondowoso,” katanya.

Menurutnya, ketika orang mendengarnya, langsung ingat kota yang dikenal sebagai penghasil kopi itu.

Kata-kata dimaksud seperti, Jalan Diponegoro, Kotakulon – Bondowoso, biji kopi pilihan dari hamparan Puncak Ijen, sebatang gagak hitam, dan lainnya.

“Karena kita gerak di musik indie. Di situ juga tercantum tentang rokok gagak hitam (ini non komersil). Kita suarain apa adanya aja. Tanpa Batasan-batasan, tidak seperti musik industry,” jelas mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.

Menurutnya, proses pembuatan lagu dan video klip, hanya memakan waktu kurang lebih satu bulan.

Izra menambahkan, tak ada sepeser pun budget sponsor yang masuk. Semua dibuatnya dengan peralatan seadanya. Bahkan proses rekaman pun dilakukan di rumah salah seorang anggota.

“Karena memang sejak awal, pembuatan lagu ini hanyalah iseng yang ternyata berbuah keseriusan dalam tahapannya,“ jelasnya.

Jika dibilang akan berujung pada komersial, Izra menyebut bahwa semuanya tak ada niatan ke arah tersebut. Bahkan dia dan keempat temannya hanya ingin berkarya terus untuk Bondowoso tanpa perlu diminta oleh pemerintah.

Apalagi yang disuarakan dalam lagu adalah kegelisahan dan perasaan yang ingin tersampaikan kepada publik tentang kota kecil Bondowoso.

“Harapan komersil masih belum terpikirkan. Tapi ya itu nanti lah ya kita mau fokus garap beberapa lagu ke depan dan bikin album, insyaallah,” ungkapnya.

Adapun video klip lagu tersebut berdurasi sekitar 4 menit 59 detik. Semua spot pengambilan gambar dilakukan di Bondowoso. Seperti di rumah anggota Estetiga yakni di  Jalan Mawar, Gerbong Maut, Kebun Kopi Kluncing, Museum Kereta Api.

“Random sih lokasi shootingnya, lebih mengambil landscape kota, Alun-alun gerbong maut, stasiun dan rumah. Karena kan memang menggambarkan kerinduan ke Bondowoso,” paparnya.

Sincha, salaha satu warga Bondowoso mengapresiasi “Secangkir Rindu untuk Kotaku”. “Sumpah enak didengar. Liriknya menceritakan kerinduan akan Bondowoso,” ucapnya. (*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Loading...
Registration