Pendidikan

Unusa Jadi Tuan Rumah Pertemuan, Sekjen FIMA Puji Kinerja FOKI

Unusa Jadi Tuan Rumah Pertemuan, Sekjen FIMA Puji Kinerja FOKI Sekjen FIMA, Prof. Abdul Rashid bin Abdul Rahman, saat menjadi pembicara dalam acara pertemuan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI) di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Jumat (12/7/2019). (Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Sabtu, 13 Juli 2019 - 07:26

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendapat kesempatan menjadi tuan rumah dalam pertemuan tahunan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI). 

Bertempat di Hotel Novotel Samator Surabaya, acara bertema “Empowering Community for Health Status Improvement” ini membicarakan peran fakultas kedokteran Islam di Indonesia terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan status kesehatan.

Pertemuan rutin tahunan FOKI diikuti 30 delegasi dari Fakultas Kedokteran di Indonesia dan Sekjen Federation of Islamic Medical Association (FIMA), Prof. Abdul Rashid bin Abdul Rahman. 

“Sebenarnya FOKI sudah lama bertapak di Indonesia dan memiliki mekanisme yang sangat baik, mereka saling share untuk memantapkan kedokteran Islam, FOKI lebih banyak keahlian dan pengalaman dari segi out came daripada negara lain. Mereka semua mengamalkan best practice dalam standarisasi dunia kedokteran,” puji Prof. Abdul Rashid, Jumat (12/7/2019).

Prof. Abdul Rashid bin Abdul Rahman, juga menambahkan, jika model Yayasan Rumah Sakit dan Fakultas Kedokteran Islam di Indonesia merupakan langkah yang bagus di mana masyarakat bisa menyumbang dana dan wakaf untuk kepentingan perkembangan dunia medis dan kedokteran Islam.

FOKI sendiri beranggotakan fakultas kedokteran yang mengajarkan kurikulum dengan keislaman. Kedokteran Islam bersinergi dengan keislaman seperti holistik, kesehatan mental dan rohani, serta mengajarkan anak didik nilai keislaman yang nanti akan dibawa kepada pasien. 

“Salah satunya bagaimana pasien menghadapi penyakit secara rasional dan spiritual, itulah pendidikan di fakultas kedokteran Islam lebih komprehensif,” terang Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Dr. Handayani, M.Kes.

Pertemuan tersebut, lanjut Handayani, merupakan momentum tepat bagi seluruh anggota FOKI untuk saling bertukar pikiran terkait upaya mensinergikan energi tiga pilar antara rumah sakit, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Sebetulnya, kata Handayani, tiap fakultas kedokteran yang berbasis Islam sudah memiliki konsep untuk menyinergikan antara rumah sakit, perguruan tinggi, dan masyarakat. 

“Unusa misalnya, dalam upaya menjalankan tiga pilar itu menjadikan PosKesTren (Pos Kesehatan Pondok Pesantren) sebagai ujung tombak dalam memberikan layanan kesehatan menuju peningkatan status kesehatan di lingkungan pondok pesantren. Unusa juga sudah menyiapkan mahasiswa untuk bisa bekerja di Rumah Sakit Syariah, tapi mungkin masih ada kekurangan yang harus dibenahi,” katanya.

Hal lain yang menjadi topik dalam pertemuan itu adalah terkait dengan ilmu kedokteran Islam yang dipadukan dengan kedokteran modern seperti pemanfaatan bekam dan ruqyah yang dalam Islam itu cukup dikenal.

Menurut Handayani, jika sinergi energi tiga pilar berjalan baik, maka Islam akan lebih eksis dan dikenal sebagai agama rahmatan lilalamin pada tingkat global. Apalagi, memasuki era revolusi industri 4.0 dengan berbagai perubahan dan disruption menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi perguruan tinggi. 

​Sementara, Wiwiek Afridah, SKM., M.Kes, selaku Ketua Surabaya International Health Conference (SIHC), mengatakan, jika agenda ini adalah pertemuan ilmiah di bidang kesehatan yang digagas Unusa tiap dua tahun sekali.

“Secara kebetulan tahun ini juga peringatan Dies Natalis Unusa ke-6, sehingga semua dijadikan satu,” katanya.

Ada beberapa agenda dalam SIHC, selain pertemuan FOKI juga diagendakan pertemuan dengan antara Unusa dengan University of Northern Pilipina (UNP) yang membahas tentang implementasi kerjasama di bidang penelitian serta pertukaran mahasiswa dan dosen, khususnya untuk bidang keperawatan dan kebidanan.

Selain itu digelar acara workshop leadership yang di selenggarakan secara online dengan topik Leadership Course on Tobacco Advocacy, beberapa pembicara dalam acara ini antara lain datang dari Turki, Malaysia dan Thailand. 

“Di beberapa pondok pesantren di Turki punya budaya yang hampir sama seperti di Indonesia tentang rokok. Pembicara akan berbagi pengalaman terkait dengan upaya-upaya gerakan pencegahan anti tembakau atau anti rokok,” katanya di sela forum yang telah disiapkan Unusa tersebut.(*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration