Kopi TIMES

BUMDesa dalam Perspektif Kritis Transformatif

BUMDesa dalam Perspektif Kritis Transformatif Hary Prasetyo, LPM Oase Nusantara Ponorogo (Grafis: TIMES Indonesia)
Jum'at, 12 Juli 2019 - 19:04

TIMESINDONESIA, JAKARTA – DANA Desa (DD) untuk pembangunan fisik tampaknya masih menjadi primadona. Dan sesungguhnya, ada fokus target lain, yakni untuk bidang pemberdayaan masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Perjalanan lima tahun Dana Desa, seharusnya sudah melahirkan inovasi-inovasi usaha ekonomi kreatif di bidang pemberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi masing-masing desa.

Begitu banyak sesungguhnya, bidang-bidang usaha ekonomi yang secara umum dimiliki semua desa untuk dapat masuk menjadi unit usaha BUMDesa. Berorientasi kebutuhan pokok pemerintah dan masyarakat desa misalnya, PPOB, e-Warung, toko material, toko material, fotokopi, toko ATK dan lainnya.

Jika ada usaha yang tidak mampu dilaksanakan dan didanai oleh BUMDesa, maka bisa dilaksanakan oleh Badan Usaha Bersama Desa (BUMADesa) misalnya pembiayaan, pembelian pengolahan padi hasil petani sampai menjadi produk beras lokal. Pasca itu marketing beras lokal, bisa kerjasama penjualan dengan Bulog dan BUMDesa masing-masing pesa dalam pelayanan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Sinergi dan strategi Bulog dengan BUMADesa akan bisa mengukur kekuatan pangan sembako khususnya beras dalam setiap wilayah, sehingga kekuatan "tengkulak" dalam permainan harga bisa ditekan.

Mayoritas pemerintah desa masih ambigu dalam penggalian potensi desa, apalagi secara khusus menyentuh analisa keahlian individu maupun kelompok masyarakat. Selain itu transparansi terkait akses anggaran masih sangat terbatas, mayoritas masyarakat desa masih belum begitu memahami utuh, apa itu Dana Desa.

Kolaborasi seluruh elemen pemangku kepentingan yang membidangi Dana Desa untuk memahamkan semua regulasi secara rinci belum menyentuh masyarakat langsung. Padahal pada dasarnya Dana Desa merupakan sebuah solusi pendanaan untuk masyarakat merealisasikan keahlian individu atau kelompok masyarakat menjadi kegiatan nyata dalam usaha ekonomi kreatif sehingga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat secara signifikan.

Gerakan pendidikan masyarakat akan regulasi Dana Desa secara utuh serta tranparansi akses anggaran desa, akan mampu menumbuhkan kembangkan semangat inovasi ekonomi kreatif masyarakat, dalam hal ini mereka memahami bahwa Dana Desa bisa akses untuk pendanaan usaha mereka melalui BUMDesa dengan menjadi unit usaha BUMDesa yang diatur oleh turunan Undang-Undang, Peraturan Menteri, Peraturan Bupati dan Peraturan Desa tentang BUMDesa maupun BUMADesa. Walaupun masih ada pemerintah kbupaten yang belum memiliki peraturan bupati tentang BUMDesa/BUMADesa tetapi ini bukan sebuah masalah yang signifikan untuk tidak menjalankan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui BUMDesa/BUMADesa.

Hidupnya usaha-usaha ekonomi kreatif masyarakat yang difasilitasi oleh desa dengan BUMDesa pasti akan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADesa), implikasinya akan berbanding lurus dengan peningkatan nominal APBDesa, sehingga semua elemen Desa terdampak positif mengalami peningkatan.

Pendapatan Asli Desa (PADesa) ini adalah murni sumber anggaran milik desa, jadi penggunaannya murni sesuai dengan keinginan pemerintah dan masyarakat desa, kegiatan yang tidak bisa didanai dari sumber ADD, DD, BKD bisa didanai dengan sumber anggaran PAD. Semakin segala kegiatan bisa didanai oleh Desa, kesadaran masyarakat untuk berdaya dan berusaha membesarkan BUMDesa akan semakin masif juga, Pemerintah Desa akan semakin terpercaya dalam masyarakat sehingga akan berdampak politis secara tidak langsung. (*)

*)Penulis Hary Prasetyo, LPM Oase Nusantara Ponorogo

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Evita Mukharomah (MG-74)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration