Ketahanan Informasi

Ini yang Dipaparkan Mahasiswa Unair Surabaya dalam Konferensi Internasional Malaka

Ini yang Dipaparkan Mahasiswa Unair Surabaya dalam Konferensi Internasional Malaka Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti International Conference on Youth, Ocean, and SDG 14 di Malaka. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Jum'at, 12 Juli 2019 - 16:49

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Mahasiswa Unair Surabaya, Mohammad Wahyu Syafi’ul Mubarok menghadiri International Conference on Youth, Ocean, and Sustainable Development Goals (SDG) 14, di Malaka, (1-5/7/2019).

Dalam komferensi tersebut, mahasiswa fisika memaparkan tentang bagaimana menjaga ekosistem laut tetap berkelanjutan walau di tengah pencemaran maupun perubahan iklim. Dirinya pun menuliskan draft project sebagai syarat seleksi.

“Jadi saya tulis dalam bentuk paper singkat, mencoba membahas terkait perdagangan karbon antara Indonesia dan Cina untuk mewujudkan SDG 14, live below water,” ujarnya.

Ide tersebut muncul saat dirinya mencoba mengkaji permasalahan karbon di negeri tirai bambu. Indonesia, lanjutnya, memiliki hutan yang merupakan penyerap karbondioksida terbesar. Sementara Cina merupakan negara industri salah satu penghasil polusi terbesar di dunia. Dia pun menulis sebuah gagasan kerjasama antara kedua negara.

Mahasiswa-Unair-Surabaya.jpg

“Untuk mengikuti Paris Agreement, sebuah kesepakatan di Paris 2015 mengenai produksi karbon, mereka butuh membeli penyerap karbon untuk menjaga batas produksi karbon, dalam hal ini hutan Indonesia. Akhirnya muncullah peluang kerjasama,” terang Wahyu.

Sebagai informasi, International Conference on Youth, Ocean, and Sustainable Development Goals (SDG) 14 digelar oleh World Youth Foundation. Salah satu NGO di bawah PBB yang berfokus pada pengembangan sumber daya pemuda di dunia internasional. Setiap peserta akan mempresentasikan ide yang dibawa, melakukan capacity buliding training, dan diskusi.

Acara yang digelar pada 1-5 Juli 2019 di Ames Hotel, Malaka itu diikuti oleh peserta dengan beragam latar belakang, di antaranya mahasiswa S1, mahasiswa magister atau S2, profesional, Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Non Pemerintah (NGO), hingga representasi pemerintah.

Konferensi ini iikuti oleh 100 pemuda dari 17 negara lainnya. Dari Indonesia sendiri terdapat 5 orang delegasi dari Indonesia, yakni 1 mahasiswa dari Unair, 3 dari IPB, dan 1 lagi dari NGO di Bali.

Minimnya delegasi dari Indonesia membuat Wahyu terpaksa mengasah kemampuan bahasa inggris. Dirinya mengaku, lima hari mengikuti acara tersebut berdampak pada peningkatan kapasitas bahasa inggrisnya.

“Intinya senang banget bisa berkolaborasi bersama pemuda brilian dari seluruh dunia untuk merumuskan sebuah gerakan atau solusi untuk menjaga bumi tetap dapat ditinggali di masa depan,” kata mahasiswa fisika Unair Surabaya itu bangga. (*)

Jurnalis : Dr. Suko Widodo (CR-135)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Loading...
Registration