Kopi TIMES

Siapa Sekda NTB?

Siapa Sekda NTB? Sueab Qury Ketua LTN NU NTB. (FOTO: Istimewa)
Kamis, 11 Juli 2019 - 00:05

TIMESINDONESIA, MATARAM – Pengabdian terbaik dan tertinggi dari jenjang birokrasi di pemerintahan daerah adalah menjadi Sekda. Maka tidak heran para penjabat yang telah memenuhi syarat dengan sendirinya akan mendaftarkan dirinya menjadi calon Sekda.

Proses menjadi calon Sekda ditingkat Propinsi minimal esslon II A dan menimal sudah menjabat 2 kali sebagai kepala Dinas di tingkat Provinsi.

Kilas balik jejak terbaik yang telah dilakukan oleh beberapa Sekda NTB, sejak era pemilihan langsung Pilkada telah meletakkan figur- figur administratif daerah yang cukup tangguh dan banyak membawa perubahan dan kemajuan yang di torehkan oleh para Sekda yang terdahulu.  

Sebut saja para mantan sekda NTB yang telah mengabdi untuk NTB, seperti Abdul Malik. H.M Noer dan Rosyadi Sayuty yang telah purna tugas sebagai Sekda NTB pada tanggal 8 Juni 2019 lalu. 

Apa yang telah dilakukan oleh para sekda terdahulu selama mengabdi di NTB, telah banyak meletakkan dasar dan pencapain tata kelola adminstrasi pemerintah, pengeloaan keuangan daerah dan reformasi birokrasi serta perencanaan pembangunan daerah.  

Sebagai buktinya adalah keberhasilan NTB meraih 8 kali WTP dan peningkatan PAD NTB yang mencapai 1,5 T pertahunnya sejak era kepemimpinan TGB sampai tahun ini.

Oleh karena itu, mengapa penting figur dan sosok seorang Sekda untuk NTB ke depan? Tentu jawabannya adalah keberlanjutan (sustainable) dari apa yang telah dilakukan oleh Sekda sebelumnya. 

Meneruskan tugas dan tanggungjawab sebagai sekda NTB yang sebelumnya, sebagai administrator atas berjalannya pemerintahan daerah yang efektif, efesian transparan, terukur dan akuntable serta terencana merupakan bagian terpenting tugas seorang sekda untuk bisa mengendalikan dan memastikan berjalannya sistem kerja birokrasi pemerintah.

Begitu juga dengan penghargaan dan pengabdian serta keberhasilan lainnya yang telah diletakkan oleh para Sekda NTB sebelumnya. Tentu menjadi modal bagi para calon sekda NTB ke depan. Sebab tantangan dan beban tugas sebagai Sekda NTB harus bisa menyesuaikan dengan gaya dan irama Gubernurnya.

Bukan saja, bisa menjalankan fungsi dan tugasnya dalam merencanakan, menyusun mengendalikan serta mengelola keuangan dan administrasi pemerintahan daerah. Melainkan harus bisa mewakilkan dirinya sebagai abdi birokrasi dan melayani kepentingan ASN yang secara proporsional dan prosedural tanpa melihat sekat kepentingan dan tekanan politik.

Bersamaan dengan tugas yang dijalankan oleh penjabat pelaksana tugas Sekda NTB, sambil menunggu tim seleksi yang terbentuk, maka tugas utama dari penjabat Sekda NTB yang bertugas menjalankan roda administrasi dan pengendali anggaran TPAD sebagaimana diatur dalam UU No.5 tahun 2013 dan PP No 17 tahun 2017 daerah lebih kurang 6 bulan masa kerja.

Dan tentu tidak melampui tugas Sekda secara defenitif. Begitu juga dengan berjalannya waktu tugas penjabat Sekda yang sudah berjalan satu bulan tidak serta dapat mengambil keputusan yang melampui tugas seorang sekda.

Berbagai respon dan aspirasi dari kalangan tokoh agama, tokoh masyarakat, kepemudaan dan NGO yang menaruh harapan besar adanya perimbangan keterwakilan terkait dengan jabatan Sekda NTB, tentu semuanya berpulang pada Gubernur NTB Dr. Zul yang paham dan sangat mengerti siapa yang akan menjadi pendamping admistratif terbaiknya untuk menjalankan roda pemerintahan 4 tahun ke depan.

Berkaca dan merunut dari tradisi yang ada, hampir 2 Gubernur NTB yang terdahulu telah mempercayakan kepada putra terbaik dari Mbojo menjadi Sekda NTB, akankah sebaliknya Dr. Zul akan melakukan hal yang sama?. 

Teka teki publik ini, akan terang benderang, atau sebaliknya akan kabur, jika yang dikedepankan adalah pendekatan kewilayahan. Namun menjadi fokus dari Dr. Zul dalam berbagai komentarnya di media masa dan gaya politiknya dengan mengundang para tokoh masyarakat dan perwakilan suku yang ada di NTB.

Secara implisit Dr. Zul ingin membungkus teka teki, bahwa unsur kewilayahan menjadi foktor utama atau kualitas dan profesionalitas yang dikedepankan atau sebaliknya. Dan atau berdasarkan pertimbangan politik atas dasar kepentingan sang Gubernur.

Terlepas dari ragamnya pandangan masyarakat yang menginginkan adanya keterwakilan berdasarkan kewilayahan dan keterwakilan suku yang mendiami NTB. Para calon sekda yang akan mendaftar nanti dapat diprediksi secara kualitas dan pengalaman kerja sudah teruji dan mampu mengemban amanat sebagai Sekda NTB.  

Siapa mereka ini, sebut saja H. Ridwansyah, H. Iswandi, L. Gite Ariyadi dan Ibnu Salim serta tidak menutup kemungkinan penjabat Kabupaten Kota di NTB.

Melihat dari rekam jejak karir dan pengelaman kerja para calon Sekda NTB yang kemungkinan akan mendaftar sebagai calon sekda NTB, sudah tidak diragukan lagi kecakapan dan kepatutan dalam menjalankan tugas sebagai Kepala OPD di NTB. Dan hal ini sudah dipastikan dan dibuktikan dari keberhasilannya memimpin selama ini. 

Para calon Sekda NTB ke depan adalah kader terbaik birokrasi di NTB dan tentu memang prinsip bahwa siapapun berkesempatan menjadi Sekda NTB dengan atas dasar petimbangan kewilayahan dan profesionalitas serta kepatutan. Sebab tugas yang paling utama dari seorang Sekda NTB ke depan adalah yang bisa sejalan dan seirama dengan Gubernur. 

Memproyeksikan para calon Sekda NTB yang mendapat respon publik dan berdasarkan kepantasan dan kepatutan yang hendak diprioritaskan oleh Gubernur NTB, berdasarkan wacana publik yang berkembang. Dari sekian nama yang sangat santer dibicarakan ditingkat birokrasi dan para politisi serta masyarakat luas yakni nama H. Ridwansyah dan H. Iswandi merupakan dua tokoh yang memegang kunci.

Terlepas dari proses seleksi yang akan dilakukan oleh Tim ke depan, maka sudah dipastikan 3 nama yang akan muncul dan diusulkan oleh Gubernur. 

Menaruh harapan dan menitipkan aspirasi publik kepada sang pengambi keputasan Dr. Zul Gubernur NTB untuk segera mungkin menetapkan tim seleksi calon Sekda NTB demi percepatan dan keberlanjutan serta kepastian berjalannya roda pemerintahan daerah.

Menjadi lebih utama dari pada membiarkan ketidakpastian, dengan ditunda dan diulur-ulurnya waktu penetapan Tim seleksi. Mungkin saja Dr. Zul memiliki pertimbangan waktu dan menginput aspirasi publik sebagai panduan untuk memilih Sekda NTB. Wallahu a'awam bissawab.


*) Penulis, Suaeb Qury, Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (NU) NTB.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration