Pendidikan

Rizky Aulia Hasyim, Jadi Pengemudi Grab Karena Dukungan Sang Paman

Rizky Aulia Hasyim, Jadi Pengemudi Grab Karena Dukungan Sang Paman Rizky Aulia Hasyim di atas mobilnya ketika menunggu penumpang. (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)
Rabu, 10 Juli 2019 - 16:22

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Prestasi yang diraih Rizky Aulia Hasyim lulus cumlaude dari UII (Universitas Islam Indonesia) tentu tak dapat dilepaskan dari peran orang tua, keluarga dan termasuk sang paman. Sebab, usaha Rizky untuk menjadi mitra pengemudi Grab tak dapat dilepaskan dari bantuan sang paman. Karena sang paman lah yang mengajak bergabung sebagai mitra pengemudi GrabCar.

“Waktu itu paman saya menawarkan untuk jadi mitra pengemudi di GrabCar. Karena saya ada tanggungan bayar cicilan mobil dan harus menafkahi keluarga, saya langsung daftar. Dari situ, saya sudah mulai mengurangi jadwal mengajar les privat,” kenang Rizky.

Berselang setahun bergabung menjadi mitra pengemudi Grab, Rizky akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat ia mengajar les privat. Bukan karena masalah waktu, timpalnya, melainkan karena dia memilih untuk mendirikan tempat mengajar les privat sendiri.

“Memang, dari semester pertama, saya kerja sambilan sebagai guru les privat. Setiap hari ada beberapa murid, ada yang seminggu 3-4 kali. Saya mengajar semua mata pelajaran, kalau SMA itu khusus Matematika dan IPA. Sekarang, sejak bergabung jadi mitra pengemudi Grab, saya bikin tempat mengajar les privat kecil-kecilan karena agar tetap bisa punya pendapatan dari sini.  Saya juga ingin punya usaha, sudah lama saya ikut orang di tempat mengajar les privat, dan sekarang gantian mau merasakan mengelola tempat les sendiri,” terang perempuan kelahiran, 22 April 1997 ini.

Bekerja sebagai mitra pengemudi Grab, seorang guru les privat, dan menjadi mahasiswa, tentu bukan perkara mudah untuk dilakukan Rizky dalam waktu yang bersamaan. Karenanya, Rizky benar-benar mencanangkan prinsip keseimbangan antara hidup dan bekerja yang dilakukan dalam skala prioritas.

“Saat kuliah, saya akan fokus untuk belajar, dan setelah selesai kelas langsung nge-Grab. Kadang kalau kuliah lagi libur, saya justru akan optimalkan di Grab. Atau, kalau lagi libur di Grab, saya akan memanfaatkan waktunya untuk belajar selama sehari penuh. Semua dilakukan berdasarkan prioritas. Memang, cukup melelahkan. Tetapi kalau dilihat hasilnya, baik itu dari pendapatan saya dari Grab dan juga hasil kerja keras dan belajar saya hingga akhirnya cumlaude, rasa capek-nya jadi hilang,” pungkasnya.

Kisah Rizky merupakan salah satu dari jutaan perjuangan mitra pengemudi Grab meraih impiannya demi membahagiakan orang tersayang. Terlebih, Grab sebagai everyday superapp terkemuka di Asia Tenggara, juga baru saja meluncurkan program #KarenaAman untuk terus mendorong setiap perempuan untuk mengejar tujuan pribadi mereka dalam hidup tanpa rasa takut atau enggan.

Saat ini, Grab tercatat menyediakan layanan dengan jangkauan terluas di Asia Tenggara di 338 kota yang tersebar di 8 negara dengan lebih dari 152 juta unduhan aplikasi, termasuk Indonesia tempat Grab beroperasi di 224 kota dari Sabang hingga Merauke.

Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics, Grab telah berkontribusi sebesar 48,9 triliun rupiah bagi perekonomian Indonesia di tahun 2018. Pada layanan GrabCar, rata-rata pendapatan mitra pengemudi tumbuh 114% dengan kisaran pendapatan Rp 7 juta per bulan. Selain transportasi, bisnis layanan pesan-antar makanan GrabFood juga berkembang pesat di Indonesia, beroperasi di 178 kota di Indonesia dengan volume pengiriman tumbuh hampir 10 kali lipat pada tahun 2018.

“Saya bangga jadi pengemudi Grab dan dapat lulus dari kampus UII. Terima kasih buat ayah, ibu, saudara, dan paman,” terang Rizky Aulia Hasyim. (*)

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration