Kopi TIMES

Kolom Denny JA: Mereka Memang Meminta Fiksi

Kolom Denny JA: Mereka Memang Meminta Fiksi Denny Januar Ali. (Grafis TIMES Indonesia)
Senin, 08 Juli 2019 - 19:42

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kolom Denny JA kali ini berkisah tenyang Marco Polo. Salahkah tokoh legendaris Marco Polo? Salahkah jika catatan perjalanannya di abad ke 13 yang mengugah dunia ternyata hanyalah fiksi?

*

Renungan ini yang saya bawa ketika tiba di Venesia. Banyak yang menyebutkan Marco Polo lahir dan dimakamkan di kota ini. 

Tak ada mobil, sepeda motor, atau bahkan sepeda di sini. Hanya ada kanal- kanal air dan 400 jembatan penghubung daratan. Gondola, perahu kecil hingga taksi air yang menjadi transportasi. Begitu banyak bangunan kuno yang terendam air sejak dulu.

Keindahan kota ini tiada tara. Tak salah jika begitu banyak karya sudah ditulis yang mengaitkannya dengan Venice. Shakepeare menulis The Merchant of Venice (1596-1599). Juga karya Thomas Man: Death in Venice (1912).

Melewati kanal- kanal kecil dengan perahu motor, saya pun sampai di Gereja San Lorenzo. Ujar pemandu tour, turun temurun penduduk setempat meyakini Marco Polo dimakamkan di gereja sini. Itu kejadian 800 tahun lalu. Tapi gereja beberapa kali direnovasi. Kuburan Marco Polo tak lagi terlihat.

Namun kisah Marco Polo di sini sudah menjadi legenda, ujarnya. Dari perahu motor saya menatap keseluruhan gereja. Ingin saya rasakan jika bisa aura dan getaran seorang pejalan yang menjadi legenda.

*

Saya teringat guru sejarah saya di masa SMP. Ia begitu bersemangat menceritakan kehebatan Marco Polo. 

Samar-samar terbayang ruang kelas zaman dulu. Guru SMP mengulang saja apa yang di era itu memang menjadi keyakinan. 

Seorang remaja,  bernama Marco Polo, berusia 17-19 tahun berkelana ke Asia Timur. Ia sampai di China. Itu abad ke 13. Belum ada manusia Eropa yang berkelana sejauh itu. Total perjalanan Marco Polo, sejak pergi dan kembali lagi ke Venice, sekitar 24 tahun.

Marco Polo dianggap berjasa selaku pemula yang menjembatani dua budaya. Kepada dunia Asia Timur, khususnya Cina, Marco membawa budaya barat. Kepada budaya Barat, Marco membawa dunia timur.

Di abad ke 13, manusia Eropa sama sekali asing dengan wilayah di luar komunitasnya. Ada apa di ujung dunia sana? Apakah di belahan bumi di sana juga dihuni oleh manusia yang sama?

Di abad ke 13, banyak ahli yang mengembangkan imajinasinya sendiri. Bahwa di ujung dunia sana hidup manusia yang berbeda. Yaitu manusia berkepala srigala. Atau manusia yang tanpa kepala, karena kepalanya tumbuh di depan badan. Atau manusia yang kakinya hanya satu.

Marco Polo membawa kisah yang berbeda. Di bumi belahan ujung sana, ada China, dan juga ada peradaban. Manusia  yang sama juga hidup di ujung dunia sana. Bahkan, ujar Marco, manusia di China lebih maju karena pertanian dan perindustriannya lebih berkembang. 

Ada raja di China bernama Kubilai Khan. Marco menggambarkan raja ini maha arif dan bijaksana. Penduduknya sejahtera. Marco sendiri menyatakan dirinya bekerja selama 17 tahun membantu Kubilai Khan. Sang raja membutuhkan keahlian Marco sebagai penjelajah.  Marco diminta untuk mengawasi aneka wilayah Kubilai Khan, dan melaporkan hasilnya.

"Saat Eropa masih menggunakan uang koin dan emas," ujar Marco, China sudah mengenalkan uang kertas. Catatan perjalanan Marco Polo bahkan turut menginspirasi  Christoper Columbus untuk menjelajah lebih jauh.

Kisah dunia di ujung sana. Di China, membangkitkan keingintahuan lebih jauh. Kisah perjalanan Marco Polo meledak. 

Marco Polo kelahiran Venice pun dinobatkan sebagai petualang pertama yang mengisahkan perjalanannya. Ia ikut mengubah dunia.

*

Tapi kini satu persatu catatan perjalanan Marco Polo diragukan. Ia bahkan dinilai tak pernah menginjakkan kakinya ke China. Semua kisah di catatan perjalanan itu dituding hanya fiksi belaka.

Sejarahwan memeriksa dokumen di luar buku Marco Polo. Sama sekali tak ada catatan dalam sejarah Kubilai Khan yang mencatat bahwa pernah ada kunjungan seorang barat (baik bernama Marco Polo atau nama lainnya). Tak pula ada catatan Kubilai Khan bahkan mengangkat orang barat itu selaku pembantu pentingnya selama 17 tahun.

Mereka juga mengukur jarak daratan yang harus ditempuh Marco Polo untuk sampai ke China. Jarak itu terlalu jauh dan terlalu buas untuk ditaklukkan remaja Marco Polo (dan dua orang dewasa yang menyertai). Dalam buku itu, Marco Polo tak juga bercerita apa yang ia lakukan agar survive menembus jarak darat maha lebar itu.

Kisah tentang Kubilai Khan juga bertentangan dengan yang Marco sampaikan. Kubilai Khan yang sebenarnya terkenal kejam dan barbar, bukan arif dan humanis. Penduduk di bawah kekuasaan Khan juga dikenal mengalami kesulitan ekonomi, bukan sejahtera dan jaya.

Pun Marco dalam bukunya tak menyinggung hal yang sangat khusus di China. Misalnya hadirnya dinding besar (Great Wall) China. Atau gaya makan kultur China yang memakai chopstik. Hal ini terlalu penting untuk tidak disinggung Marco.

Kemudian diketahui pula Marco pernah dipenjara ketika ia kembali ke Venice. Di dalam penjara itu, Marco berjumpa dengan penulis fiksi romantis: Rustichello da Pisa.  Sang penulis ini juga sedang dipenjara.

Diduga Rustichello da Pisa yang sebenarnya menjadi penulis buku Marco Polo. Entah Marco berbohong pada Rustichello, atau kesepakatan mereka berdua, akhirnya yang ditulis adalah fiksi bukan fakta yang sebenarnya. Rustichello memang ahli fiksi di era itu.

*

Di Venice bulan Juli 2019, musim panas, jam 20.00 udara masih terang. Ini kota memang mengundang imajinasi. Saya duduk ditemani kopi, menatap teluk yang luas. Suasana hati mudah berbuah puisi. Tanah ini membuat orang cenderung melahirkan fiksi.

Bisa jadi memang Marco Polo ternyata tak pernah sampai ke China. Bisa jadi ternyata kisah perjalanan Marco Polo hanyalah fiksi. Tapi fiksi itu sudah mampu ikut memberikan inspirasi dan menggerakkan sejarah.

Bukankah memang banyak yang kita yakini dalam hidup, yang mampu menggerakkan kita, ternyata hanyalah fiksi?

Dalam film PK (2014) karya Rajkumar Hirani, sang tokoh berseru. Ada dua  konsep Tuhan yang kita kenal. 

Pertama Tuhan yang sebenarnya. Ia menciptakan Alam Semesta, yang kita tak pernah bisa memahaminya. Kedua, Tuhan yang kita kenal dalam sejarah. Kitalah yang menciptakan konsep Tuhan. Itu juga fiksi!

Apa daya. Masyarakat memang perlu mencapai sesuatu, perlu makna. Mereka membutuhkan fiksi. Marco Polo tumbuh dalam situasi itu. (*)

Jurnalis :
Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration