Peristiwa - Daerah

Soal Tenggelamnya KLM Arim Jaya, Pemkab Sumenep Harus Siapkan Moda Transportasi Laut

Soal Tenggelamnya KLM Arim Jaya, Pemkab Sumenep Harus Siapkan Moda Transportasi Laut Tokoh Kepulauan Sumenep, Azasi Hasan, (Foto: Moh Aidi/Times Indonesia)
Rabu, 26 Juni 2019 - 18:02

TIMESINDONESIA, SUMENEP – Salah satu tokoh kepulauan Sumenep, Azasi Hasan mengaku ikut prihatin dengan tragedi tenggelamnya Kapal Layar Motor (KLM Arim Jaya) di perairan Sumenep pada Senin, (17/06/2019).

Sebelumnya, kapal berpenumpang 60 orang ini hendak menyeberang dari Guwa-Guwa ke Dungkek, Sumenep. Namun, di tengah perjalanan antara Pulau Sepudi dan Pulau Giliyang, kapal mengalami musibah. Akibatnya 21 orang dikabarkan meninggal dunia.

Menurutnya, Pemkab Sumenep seharusnya sejak awal bisa menyediakan transportasi laut yang terjangkau bagi masyarakat kepulauan di Sumenep, guna menekan angka kecelakaan laut di wilayah itu.

Ia mengatakan, dirinya bisa merasakan bagaimana penderitaan masyarakat kepulauan yang harus bertaruh nyawa, karena minimnya transportasi laut yang memadai. Akibatnya, masyarakat menggunakan perahu rakyat yang dibuat dan dikelola warga sebagai satu-satunya moda transportasi.

“Kita sangat terpukul dengan musibah ini. Seharusnya sejak awal Pemkab Sumenep menyediakan moda transportasi laut yang memadai untuk menunjang aktifitas masyarakat kepulauan. Pasalnya, untuk rute pendek masyarakat lazimnya menggunakan Kapal Layar Motor (KLM) yang dibuat dari kayu. Sehingga tingkat keamanannya sangat rendah. Masyarakat terpaksa menggunakan KLM, karena memang tidak punya pilihan lain,” katanya kepada TIMES Indonesia, Rabu, (26/06/2019).

Lebih Jauh Azasi menegaskan, Sumenep adalah daerah yang memiliki banyak pulau kecil yang terpisah dari Madura. Sedikitnya 48 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni di kabupaten ujung timur Madura itu.

Di antaranya Pulau Guwa-Guwa, pulau berpenghuni yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Raas. Pulau Guwa-Guwa satu di antara beberapa pulau yang terpisah dari Pulau Raas.

“Dalam keadaan mendesak, masyarakat kepulauan terpaksa menggunakan KLM yang tingkat keamanannya sangat kecil. Apalagi di utara Pulau Sepudi yang langsung berhadapan dengan laut Jawa, gelombangnya sangat tinggi. Sehingga potensi terjadi kecelakaan sangat besar,” tegas bankir di salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Apalagi, lanjutnya, sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat yang terletak di wilayah kepulauan didatangkan dari daratan Sumenep, Bali, Banyuwangi sampai Penarukan.

“Sehingga sarana transportasi laut yang memadai sejatinya merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang berdiam di wilayah kepulauan,” tegas Azazi.

Azazi mengaku bahwa insiden tenggelamnya KM Arim Jaya menunjukkan minimnya keberpihakan Pemkab Sumenep secara khusus kepada persoalan yang dihadapi masyarakat kepulauan sejak lama.

“Artinya ini kan sebenarnya soal keberpihakan. Tragedi ini bisa dijadikan gambaran paling nyata, apakah selama ini pemerintah sudah berpihak kepada kebutuhan masyarakat atau tidak. Jika memang ada keberpihakan, mestinya sudah disediakan moda transportasi laut yang aman dan menjangkau untuk pulau-pulau kecil dengan rute pendek. Tentu ini harus menjadi catatan bagi pemerintah agar mulai memperhatikan kebutuhan transportasi laut khususnya bagi masyarakat kepulauan,” imbuhnya.

Dia berharap Pemkab Sumenep bisa memberikan perhatian lebih kepada kebutuhan masyarakat kepulauan. “Kita meminta pemerintah lebih memperhatikan nasib masyarakat kepulauan. Karena tidak menghendaki peristiwa serupa kembali terulang,” tandas Azasi Hasan. (*)

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Madura

Komentar

Registration