Kopi TIMES

Aktualisasi Diri

Aktualisasi Diri Prof Dr Rochmat Wahab
Selasa, 25 Juni 2019 - 10:10

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Manusia pada kekatnya dihadapkan antara dua kondisi, yaitu hidup sukses dan hidup gagal. Setiap individu selalu berjuang untuk raih sukses hidupnya, dan menjauhi atau hindari gagal hidupnya. Ada individu yang mudah raih sukses, tetapi ada juga susah untuk raih sukses. Ada individu yang sukses hidup dengan bertumpu pada potensinya sendiri, ada juga bertumpu pada dukungan dari orang atau pihak lain. Apapun alasannya banyak orang yang sukses bertumpu aktualisasi dirinya. 

Jika memperhatikan eksistensi manusia, pada awal kelahirannya secara fitrah telah diberi potensi, yang diharapkan potensi itu dijaga dan dikembangkan secara optimal. Individu yang mencapai perkembangan optimal disebut oleh Maslow, sebagai an actualized person. Sedangkan para ahli/pihak lain, seperti : Rogers menyebut a fully functioning person, Gilmore menyebut a productive personality, Dyer menyebut a no limit person, Iqbal menyebut insan kamil, dan Indonesia menyebut manusia seutuhnya. Sosok individu yang self-actualized inilah yang menjadi concern kita, bahkan seharusnya tak seorang pun yang mengabaikannya. 

Menurut Maslow (1954) bahwa aktualisasi menunjukkan pertumbuhan individu menuju pemenuhan kebutuhan yang tertinggi
 dalam hidupnya. Dengan kata lain bahwa individu yang self-actualized adalah individu yang telah mampu mewujudkan potensinya secara optimal yang diindikasikan dengan : The ongoing actualization of potentials, capacities, and talents;Fulfillment of mission (or call, fate, destiny, or vocation); A fuller knowledge of, and acceptance of, the person’s intrinsic nature, and An unceasing trend toward unity, integration, or synergy within the person.

Adapun karakteristik orang yang self-actualized menurut Kendra Cherry (2018) adalah sebagai berikut: (1) memiliki pengalaman puncak, (2) memiliki penerimaan diri dan pandangan dunia yang demokratis, (3) hidupnya realistik, (4) cenderung berpusat pada masalah, (5) cenderung mandiri, (6) menikmati kesendirian dan privacy, (7) memiliki rasa humor yang tinggi, (8) hidupnya spontan, dan (9) lebih menikmati suatu perjalanan (proses) daripada tujuan. 

Untuk meraih self-actualized merupakan kebutuhan kita sebagai wujud tanda syukur atas potensi apapun dari Allah swt. Tentu potensi yang diberikan kepada manusia sangat beragam baik jenis maupun tingkatnya. Kondisi ini merupakan ujian, ada  respon yang bisa tepat, sehingga dengan mudah bisa mencapai aktualisasi diri, sebaliknya ada yang tidak bisa tepat sehingga gagal untuk meraih aktualisasi diri. Memang banyak faktor yang dapat menentukan keberhasilan aktualisasi diri baik faktor internal maupun eksternal. Di antara dua faktor ini, faktor internal lebih menentukan, terutama faktor kemampuan mengenali diri dan komitmen akan tugas.

Setidak-tidaknya menurut Maslow (Scott Jeffrey) ada lima langkah untuk aktualisasi diri, yaitu : (1) mengetahui kekuatan inti kita, (2) belajar tentang cara untuk tetap pada pusat kekuatannya, (3) merancang visi personal, sosok apa yang diinginkan, (4)  satukan usaha untuk pembuatan rencana pengembangan diri, dan (5) melangkah melalui jalan menuju suatu pendalaman diri. Ingat bahwa untuk mampu mencapai aktualisasi diri, menurut Dyer lebih bertumpu pada potensi (pulling your string), dengan mengabaikan dan mengendalikan kelemahan (identifikasi your erronuous zone). 

Mencermati konsep Maslow bahwa setiap kebutuhan dari 5 kebutuhan berproses secara berurutan. Bahwa kebutuhan kedua (safety need) tidak bisa diupayakan sebelum dipenuhi kebutuhan pertama (physiological need). Demikian juga kebutuhan ketiga (social need) tidak bisa diupayakan sebelum kebutuhan kedua (safety need). Menurut hemat kami bahwa dalam perspektif Islam, kebutuhan aktualisasi diri (sebagai umat Islam) harus terjadi sejak ada upaya memenuhi kebutuhan pertama. Bahwa ummat Islam, tidak bisa makan dan minum tanpa dapat dipastikan, halalnya makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Dengan begitu perlu modifikasi terhadap implementasi Teori Kebutuhan Maslow. 

Akhirnya, bahwa setiap orang sangat membutuhkan informasi yang tepat tentang potensi dirinya, di samping kelemahan yang ada. Walaupun itu tidaklah mudah. Dengan mengetahui informasi diri diharapkan mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mencapai aktualusasi diri. Dengan langkah-langkah yang benar, diharapkan bisa terhindar kan dari perilaku yang perlu. Semoga dengan begitu, setiap individu bisa mewujudkan diri secara optimal. (*)

 

Rochmat Wahab

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration