Ketahanan Informasi Ketahanan Informasi Pendidikan

Rektor Unair Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Siapa Saja Mereka?

Rektor Unair Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Siapa Saja Mereka? Foto bersama para guru besar yang dikukuhkan Rektor UNAIR pada Sabtu (22/6) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)
Senin, 24 Juni 2019 - 08:55

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Tiga guru besar baru Unair Surabaya resmi dikukuhkan Rektor Prof. Dr. Muhammad Nasih, S.E., MT., AK., CMA., Sabtu (22/6).

Prosesi pengukuhan guru besar digelar di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Universitas Airlangga Surabaya. Tiga gubes baru itu masing-masing dari Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Mereka adalah Prof. Dr. Ernie Maduratna Setiawatie, drg., M.Kes.,Sp.Perio(K), guru besar bidang ilmu periodensia Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si, guru besar ilmu embriologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Prof. Dr. Raditya Sukmana, S.E., M.A, bidang ilmu ekonomi islam Fakultas Ekonomi Bisnis.

Dalam sambutannya, Prof. Nasih mengatakan bahwa dari tiga misi guru besar yang baru saja dikukuhkan ini sebenarnya hanya bermuara pada satu yakni meningkatkan kesejahteraan umat. Sehingga, penelitian maupun produk yang telah dihasilkan dapat diimplementasikan dan digunakan sebaik-baiknya. Yang pada akhirnya ketiga gubes mampu memberikan kontribusi nyata terhadap almamater, juga Indonesia.

“Ketiga gubes ini diharapkan terus meningkatkan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak cepat bosan. Sehingga mampu menciptakan produk-produk yang lebih baik dan bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.

Atas pengukuhan itu, lanjut Prof. Nasih, diharapkan para guru besar mampu mengemban amanah sebaik-baiknya. Paling tidak produk-produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan produk yang sudah terkenal lebih dulu.

“Tentu kita berharap penelitian dan riset selanjutnya akan dapat meningkat. Publikasinya juga akan meningkat,” ucap rektor. “Unair harus terus berpacu dalam memenuhi perkembangan zaman. Berkontribusi pada pembangunan dan bermanfaat bagi umat manusia,” tambahnya.

Unair-Surabaya2.jpgProf. Dr. Raditya Sukmana, S.E., M.A, saat melakukan pidato pengukuhan guru besar tentang wakaf, pada Sabtu (22/6) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)

Gagasan Guru Besar

Sebagai guru besar pertama yang memaparkan orasi, Prof. Ernie menyampaikan orasi yang bekaitan dengan kajian periodonsia. Menurut dia, Periodonsia merupakan penyakit yang dapat menyebabkan peradangan pada jaringan penyangga gigi. Sehingga menimbulkan kerusakan yang bersifat terus menerus pada jaringan gusi, tulang dan jaringan lain yang ada di gigi.

“Penyakit periodontal dapat dicegah dan dalam banyak kasus dapat diobati dengan mudah, maka perlu disosialisasikan upaya pencegahan penyakit periodontal pada seluruh masyarakat Indonesia sebagai upaya pencegahan menurunkan faktor risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, stroke, bayi lahir premature, Rheumatoid Arthritis  dan penyakit sistemik lainnya,” jelasnya.

Menurut Prof. Dr. Ernie, di era revolusi industry 4.0, teknologi dapat diterapkan di bidang ilmu penyakit periodontal dengan mengeksplorasi potensi telemedicine. Yaitu suatu pemantauan dan pengobatan pasien jarak jauh melalui sensor yang tersambung ke internet.

Diharapkan bahwa teknologi telemedicine akan sangat bermanfaat dalam pengobatan penyakit periodontitis  kronis yang dihubungkan dengan penyakit sistemik. Dengan kemajuan teknologi, ke depan dapat dimungkinkan periodontist dapat menerima cek-up medis rujukan dari dokter gigi di lokasi terpencil.

Selanjutnya, paparan disampaikan oleh Prof. Widjiati. Guru besar aktif Fakultas Kedokteran Hewan ke-28. Data riset yang dihasilkan menunjukkan bahwa pertumbuhan ternak sapi di Indonesia berjalan lambat dari tahun ke tahun. Hal itu menyebabkan pemerintah mengimpor daging dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging masyarakat.

“Sudah saatnya memikirkan teknologi reproduksi berbantu lainnya selain inseminasi buatan untuk mengatasi lambatnya pertumbuhan populasi ternak,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan program TE, diperlukan stok embrio. Stok embrio akan mampu menopang keberhasilan TE yang berdampak pada kebuntingan ternak sapi. Hal itu tidak lagi bergantung pada hasil kawin secara alami atau kawin suntik, tetapi dapat melalui TE. Embrio dapat dihasilkan secara in vivo maupun in vitro.

Menurutnya, embrio sapi yang diproduksi secara in vitro memegang peran penting untuk meningkatkan  produktivitas ternak. Melalui produksi embrio in vitro dapat melakukan seleksi genetik, sehingga memungkinkan untuk mempertahankan genetika yang unggul. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki infertilitas yang tidak dapat menghasilkan kebuntingan ternak sapi.

Unair-Surabaya3.jpg Prof. Widjiati. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan saat melakukan pidato pengukuhan guru besar pada Sabtu (22/6) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen UNAIR. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)

Terakhir, orasi disampaikan oleh Prof. Raditya Sukmana. Ia menyampaikan bahwa kini wakaf telah mengalami ekspansi di berbagai sektor, seperti wakaf pada bank syariah, pasar saham, dan takaful. Wakaf bukan sekedar “kelembagaan religius” yang hanya mengurusi hal-hal keagamaan ritual, melainkan dapat menjadi “kelembagaan sosio-eknomi” apabila perannya dioptimalkan.

Pengelolaan wakaf seharusnya dapat dikembalikan pada khittahnya, yakni pengelolaan secara produktif dengan mengupayakan adanya nilai tambah ekonomi di samping mempertahankan kekekalan pokok aset wakaf dan manfaatnya.

Optimalisasi peran wakaf bagi pembangunan bangsa diharapkan dapat mengacu pada konsep faith-based impact investing di tengah iklim IR 4.0 yang berinovasi dengan kehadiran platform digital. Salah satunya melalui penggunaan blockchain.

Pengelolaan wakaf produktif dengan menggunakan Blockchain memungkinkan peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan wakaf dari dua sisi. Pertama, jika wakif dan nazhir (pihak yang menerima harta benda) terhubung pada suatu sistem Blockchain, maka transaksi donasi wakaf dapat dilakukan dengan simultan secara digital dan transparansi.

Kedua, apabila wakaf berbasis Blockchain dapat menjangkau nazhir wakaf global, maka sangat mungkin wakif dari suatu negara untuk berwakaf di negara lain, utamanya negara yang membutuhkan pendanaan pembangunan. Hal ini dapat mewujudkan dampak pengelolaan wakaf produktif yang bersifat inklusif pada skala global. (*)

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Loading...
Registration