Ekonomi

Di Banyuwangi, Bisnis Rumah Kos Mulai Layu Akibat Sistem Zonasi PPDB

Di Banyuwangi, Bisnis Rumah Kos Mulai Layu Akibat Sistem Zonasi PPDB Salah satu usaha rumah kos di Banyuwangi. (FOTO: Agung Sedana/ TIMES Indonesia)
Senin, 24 Juni 2019 - 21:09

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Penerapan sistem zonasi dalam pendaftaran siswa baru membawa dampak bagi pemilik rumah kos di Banyuwangi.

Sejumlah pemilik usaha kos, khususnya pada rumah kos yang mangsa pasarnya merupakan anak sekolah menengah atas pun menjadi layu alias sepi, Senin (24/6/2019).

Seperti yang terjadi di wilayah Lingkungan Sukorojo, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Rosyid (39), pemilik rumah kos ini mengaku usahanya mendadak sepi pada tahun ini. Hal ini diakibatkan lantaran penerapan sistem zonasi.

"Biasanya kalau sudah masuk masa pendaftaran SMA atau SMK sudah banyak yang pesan kamar kos, sekarang sama sekali tidak ada," katanya.

Pemilik rumah kos di Jl. Teratai Gang II, lingkungan Sukorojo, Banjarsari tersebut mengatakan, sebelum penerapan sistem zonasi banyak siswa sekolah tersebut berasal dari Kecamatan lain. Mayoritas berasal dari Banyuwangi Selatan seperti Srono, Cluring, Bangorejo, Purwoharjo, Gambiran dan sekitarnya.

"Sekarang ke-9 kamar, semua kosong. Mana ada siswa yang mau kos kalau tinggalnya saja di sekitar sekolah," katanya.

Usaha rumah kos miliknya ini memang menyasar siswa SMA/SMK yang bersekolah di SMAN I Glagah, SMAN 1 Giri, SMKN 1 Banyuwangi dan SMKN 1 Glagah.

Dirinya juga menambahkan, meski banyak kamar kos miliknya yang kosong, namun dirinya tetap harus mengeluarkan biaya operasional. Sebab, dia tetap harus membayar biaya listrik, wifi, biaya kebersihan dan perawatan.

Di sisi lain, Muhammad Ikbal, yang juga memiliki usaha rumah kos mengeluhkan fase yang serupa. Namun, kali ini lebih parah lagi, lantaran selama empat semester ini usaha miliknya belum pernah sekalipun terjamah oleh penyewa.

Padahal, dirinya sudah memasang papan pengumuman di rumah kos miliknya. Ikbal menyampaikan, sistem zonasi ini sangatlah berdampak terhadap kelangsungan usaha rumah kos di semua daerah tentunya. "Dulu saja, banyak siswa yang bingung cari tempat kos. Nah sekarang, Sama sekali tidak ada," katanya.

Dirinya berharap, pemerintah yang telah menerapkan sistem zonasi tersebut bisa merubah sedikit peraturannya. Setidaknya, harus memberikan kuota khusus untuk pelajar dari luar daerah. Sehingga usaha rumah kos bisa bermekaran dan tidak layu seperti tahun ini, khususnya di Banyuwangi. (*)

Jurnalis : Agung Sedana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration