Kopi TIMES

“Kebo Nyusu Gudel”

“Kebo Nyusu Gudel” Nurudin, M. Si
Senin, 24 Juni 2019 - 15:18

TIMESINDONESIA, JAKARTA – SETELAH menyelesaikan kuliah doktoral di sebuah perguruan tinggi terkenal di Eropa, Swandaru  harus pulang ke Indonesia. Begitulah perjanjian saat akan menerima bea siswa lima tahun lalu. Ia mendapat banyak pelajaran dan pengalaman, khususnya sebagai dosen. Ia kebetulan mengajar di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang cukup terkenal pula.

Sebagai seorang dosen dan pernah belajar di Luar Negeri (LN)  ia bisa membandingkan sistem pendidikan di berbagai negara. Paling tidak negara dimana ia pernah belajar. Ia mempunyai satu tekad memperbaiki sistem belajar mengajar di kampusnya. Ia sangat menggebu-gebu sebagaimana awal mengajar di kampusnya.

Di kampusnya sistem pembelajarannya masih klasikal. Dosen menjelaskan dan mahasiswa menerima apa adanya. Kadang dosen memberikan tugas sementara dosen-dosen itu ada yang sibuk mengurus proyek di luar kampus.

Maka, mahasiswa harus dipacu dengan cepat agar tidak ketinggalan dengan negara lain. Dibandingkan dengan Eropa, Indonesia dianggap  ketinggalan ratusan tahun. Tak ada cara lain kecuali harus dipacu. Swandaru  punya tekad untuk itu.

Saat kembali ke kampus ia dielu-elukan. Tidak saja karena ia lulus cum laude, tetapi ia juga punya segudang prestasi saat kuliah. Awalnya ia diminta mengisi kuliah tamu. Saat ploting mata kuliah ia wajib mengajar.

Ia meminta mengajar semester awal. Ia ingin membentuk sedemikian rupa agar mahasiswa bisa ikut bersaing dengan mahasiswa di LN. Ia akan memberikan banyak contoh dari pengalamannya kuliah di LN itu.

Di ruang kelas, pada pertengahan semester ganjil.

“Saudara, saya akan berikan tugas tambahan setelah ujian tengah semester, “kata dosen Swandaru.

“Ya pak, “jawab mahasiswa hampir serentak.

“Tugas ini penting untuk masa depan kalian. Ini pengalaman saat saya dapatkan kuliah di Eropa”

Mahasiswa menyimak penjelasan tugas dengan mata menatap tajam.

“Jadi, kita tidak usah kuliah di kelas pasca UTS. Tugas Anda semua mereview jurnal saja. Jadi, setiap  mahasiswa wajib merevier artikel jurnal lalu menyampaikannya di depan kelas. Lalu diskusi”.

“Tugasnya dikirim email atau dicetak pak? “seorang mahasiswa nyeletuk. “Cetak saja. Biar saya mudah mengoreksi.”

Lalu suasana kelas agak gaduh. Mahasiswa berbicara satu sama lain memperbincangkana tugas yang dianggapnya unik dan menantang itu. “Paham kan? “Swandaru  melanjutkan. “Ya pak, “jawab mahasiswa hampir serentak.

Kemudian Swandaru  menjelaskan kisi-kisi tugas kepada mahasiswa itu. Ia juga harus menyiapkan banyak artikel jurnal untuk direview. Setelah selesai, kuliah diakhiri.

Minggu depan saat kuliah berlangsung, tak satupun mahasiswa yang mengumpulkan tugas. Tentu ini membuat marah dosen Swandaru . Ia menganggap bahwa mahasiswanya tidak mau diajak maju.

Bagaimana mungkin akan maju  diminta membuat tugas yang berguna untuk masa depannya saja tidak mau. Padahal Swandaru  mau menerapkan pengalamannya saat belajar di LN. Ia hanya terkagum dengan kemajuan negara-negara maju.

Dan itu semua dimulai dari kualitas pendidikannya. Meskipun geregetan tidak karuan, Swandaru  kemudian hanya pasrah. Merenung, kemudian sedikit lunglai sementara ekspektasinya masih sangat menggebu-nggebu.

Peran Komunikan

Sangat mungkin apa yang terjadi pada dunia PT tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Swandaru  dan mahasiswanya itu. Misalnya, ada dosen yang sudah menggebu-gebu ingin mengajar dengan metode baru.

Entah dia ingin menerapkan benar atau sekadar ingin “unjuk gigi” bahwa ia sudah menguasai banyak hal. Atau sekadar jaga image (jaim) bahwa ia lulusan PT bergengsi, apalagi luar negeri.

Namun, setelah kembali ke kampus asal pada akhirnya menghadapi banyak kendala. Bisa menyangkut fasilitas pendidikan atau kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak sesuai harapan. Maka proses belajar mengajar yang diharapkannya pun  tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Swandaru  bisa jadi bagus dan punya niat baik tetapi tentu perlu menyesuaikan dengan kenyataan yang ada. Nafsu besar tapi tenaga kurang tentu tidak baik. Niat baik tentu harus sejalan dengan cara untuk mencapai niat baik tersebut.

Saya jadi ingat pelajaran ilmu komunikasi. Pesan yang baik itu adalah pesan yang dikirim ke orang lain dengan memperhatikan siapa audiens atau komunikannya. Sehebat apapun pesan yang disampaikan orang lain tanpa melihat kondisi audiens pesan tidak akan efektif diterima.

Seorang guru TK dengan dosen cara menyampaikan pesannya tentu berbeda. Guru TK mungkin akan memulai mengajar dengan mengajak murid-muridnya menyanyi dulu. Sementara itu  seorang dosen tentu tidak bisa melakukan hal serupa pada mahasiswanya. Kalaupun dipaksakan akan terkesan lucu, bukan?

Oleh karena itu, meskipun seorang dosen bergelar banyak atau mentereng ia harus menyesuaikan pada komunikan saat menyampaikan pesan. Ia tidak bisa memaksa diri bahwa mahasiswanya harus menyesuaikan kemampuannya. Kalau begitu keadaannya, pesan tidak akan sampai dengan baik dan dipahami komunikan.

Kita lihat kasus dosen Swandaru . Saat dia memakai referensi dan pengalamannya sebagai mahasiswa tingkat doktoral dan diterapkan pada mahasiswa tingkat sarjana tentu tidak akan efektif. Mahasiswa S-1 tentu akan mabuk jika diajak menyesuaikan diri dengan cara mahasiswa doktoral.

Hemat saya, semua ada masanya. Seorang mahasiswa tingkat sarjana tentu mempunyai kemampuan dan pengalaman terbatas. Ia tidak bisa dipaksa mengikuti pola pikir mahasiswa master tau doktoral. Semua punya masanya.

Apa yang seharusnya dilakukan? Seorang yang berpendidikan tinggi dengan banyak pengalaman harus menyesuaikan dengan orang lain yang tingkatnya lebih rendah. Dengan kata lain yang berpendidikan tinggi itu turun level banyak, sementara yang level rendahnya berusaha menaikkan level. Tentu biar belajar. Yang level tinggi menuntut yang level bawah agar sesuai dengan levelnya tentu akan bingung.

Wayahe-Wayahe

Seorang yang dianggap berpendidikan dan berpengalaman tentu dikatakan bijak jika saat menyampaikan pesan dengan bijak pula. Salah satu bentuk kebijakan itu adalah kemampuannya menyesuaikan dengan siapa yang diajak bicara.

Tidak pada tempatnya seseorang menunjukkan bahwa ia pinter, cerdas, mumpuni kalau hanya sekadar “jaim”.  Kita sudah terlalu mabuk dengan pencitraan dalam kuran waktu lama. Saatnya kita berbicara konkrit sesuai kenyataan yang ada.

Seorang dosen perlu mengaca pada mahasiswanya. Bukan pada penguasaan keilmuwan,  tetapi keadaan yang nyata terjadi pada diri mahasiswa.

Misalnya,  menyangkut kemampuan mahasiswa. Dosen yang memahami kenyataan yang terjadi pada mahasiswa ini tentu dosen cerdas dan bijak. Mengapa? Karena  ia bisa menyesuikan dengan siapa yang diajak bicara. Dan ini menjadi kunci efektivitas pesan yang disampaikan.

Berapa banyak dosen yang ngotot dengan keinginannya sendiri? Tidak usah dijawab. Silakan cek sendiri teman dan dosen-dosennya dahulu. Memang ada kalanya “kebo nyusu gudel” (kerbau belajar dari anaknya).  

 

*Penulis, Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penulis bisa disapa lewat Twitter/IG: nurudinwriter

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Loading...
Registration