Wisata

Begini Perjalanan Bambang Widhyo Sadmo, Pemilik Warung Ayam Goreng Bugisan

Begini Perjalanan Bambang Widhyo Sadmo, Pemilik Warung Ayam Goreng Bugisan Para pelanggan Ayam Goreng Bugisan ketika sedang menikmati makanan di warung milik Bambang Widhyo Sadmo. (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)
Minggu, 23 Juni 2019 - 15:45

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Bagi sebagian warga Yogyakarta, Warung Makan Ayam Goreng Bugisan (AGB) tentu tak asing. Ya, sebuah warung yang menyadikan makanan khas ayam kampung Jawa ini merupakan miliki Ir Bambang Widhyo Sadmo MT, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdinas di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Bambang menceritakan asal muasal mendirikan warung makan yang menyajikan serba ayam kampung ini. Menurutnya, berdirinya warung makan Ayam Goreng Bugisan ini tidak lepas dari sosok sang isteri, Rima Widiana. Dia adalah cucu seorang pengusaha kuliner legendaris asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Ayam-Goreng-Bugisan2.jpg

“Kebetulan isteri saya bisa masak. Karena keluarga besarnya memang pengusaha kuliner. Selain untuk meneruskan usaha keluarga, warung makan Ayam Goreng Bugisan ini untuk menambah penghasilan keluarga,” kata Bambang kepada TIMES Indonesia, Minggu (23/6/2019).

Kelezatan Ayam Goreng Bugisan ini telah membuat pecinta kuliner ketagihan. Mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia (lansia). 

“Ayam adalah salah satu jenis makanan nusantara warisan leluhur negeri ini. Jadi, harus terus dijaga dan dilestarikan,” terang Bambang.

Bambang mengaku ingin membesarkan usahanya seperti warung makan lain sejenisnya yaitu Ayam Goreng Kalasan, Mbok Berek, Ny Suharti, Mbok Sabar, Bu Tini, Code, Bonita, Pak Parman dan sebagainya yang memiliki utility live panjang.

Ayam-Goreng-Bugisan3.jpg

Karena itu, dirinya pilih usaha ayam goreng sebagai menu spesifik yang belum tergantikan sampai saat ini. “Apabila kita bisa menyajikan ayam goreng berkualitas maka tentu para pelanggan akan puas dan kembali ke Ayam Goreng Bugisan,” terang Bambang.

Bambang mengaku, untuk mendirikan warung Ayam Goreng Bugisan butuh waktu panjang. Warung ini didirikan pada tahun 2004 atau lima belas tahun yang lalu. Tahap awal, ia bersama sang isteri merumuskan ayam yang seperti apa yang akan dijual. Bagaimana mewujudkannya sampai merumuskan bumbu dan kemasan produknya.

“Jadi resep AGB betul-betul hasil ekperimen selama 6 bulan. Dimulai dari teskis pasar sekitar 3 bulan. Sampai menemukan sesuatu yang spesial dan dapat di terima oleh publik,” papar Bambang.

Ayam-Goreng-Bugisan4.jpg

Dalam sehari, Ayam Goreng Bugisan menghabiskan 100 sampai 200 ekor ayam kampung. Ayam di ambil dari suplier. Untuk menjamin stabilitas stok, warungnya hanya menyediakan menu ayam kampung berukuran kecil, sedang dan besar.

Dari perjalanan panjang merintis usaha tersebut, kini Bambang WS mengaku baru bisa merasakan dinamika hidup. Dimana orang berdagang tidak bisa memastikan omzet. Sangat bertolak belakang dengan pegawai, mereka bisa di ukur berapa pendapatan perhari, perminggu atau perbulannya. 

“Bisnis sangat tergantung pada iktiar doa dan usaha,” terangnya.

Ayam-Goreng-Bugisan5.jpg

Pada tiga bulan pertama membuka warung makam, Bambang mengaku sempat down. Bahkan, dirinya sempat berpikir akan beralih buka Warung Makan rantengan seperti cikal bakal usaha keluarga istri. Namun, hal tersebut kembali di urungkan dan terus memutuskan bereksperimen. 

“Betul-betul coba sendiri, hingga menemukan racikan masak tanpa bumbu masak atau MSG. Jadi, kami pakai bumbu alami. Garam harus pakai yang ini, cabe , brambang dan lainya harus kualitas seperti ini,” paparnya..

Kini Ayam Goreng Bugisan sudah memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Juga punya suplier bumbu dapur sendiri. Sehingga, ia berani menjamin makanan ayam di AGB sama rasanya dengan yang di makan seminggu, sebulan atau bahkan setahun mendatang.

Alhamdulillah, sekarang warung Ayam Goreng Bugisan da di berbagai tempat. Seperti, Purworejo, Kulonprogo, Wonosobo, dan Sambilegi dan Denggung Sleman,” ungkap Bambang Widhyo Sadmo. (*)

Jurnalis : Fajar Rianto
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration