Kamis, 19 September 2019
Wisata

Antaboga, Wisata Religi Miniatur Keragaman Agama di Indonesia

Antaboga, Wisata Religi Miniatur Keragaman Agama di Indonesia Wisata Religi Antaboga, Banyuwangi. (FOTO: Agung Sedana/ TIMES Indonesia)
Rabu, 19 Juni 2019 - 18:04

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIAntaboga, merupakan salah satu wisata religi di Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi ini memiliki keunikan dari sisi keagamaan. Di dalamnya terdapat ikon keragaman agama yang mencerminkan tubuh Indonesia dalam bentuk miniatur, Rabu (19/6/2019).

Pantas saja, apabila wisata ini disebut sebagai miniatur Indonesia. Pasalnya, di dalam wisata hutan yang masuk ke dalam wilayah Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Glenmore Banyuwangi Barat ini terdapat bermacam - macam tempat beribadah. Islam, Kristen, Katolik, Hindu serta Budha dan juga Konghuchu berada satu kompleks di lahan seluas 3 hektare.

Hening dan sejuk, itulah kata pertama yang terlintas saat memasuki area Antaboga tersebut. Dipayungi oleh pohon pinus dan suara gemercik air dari sendang pancuran (air mancur), membawa hawa ketenangan pada setiap wisatawan.

Wisata-Religi-Antaboga-b.jpg

Seorang pemangku sekaligus pemandu di Antaboga, Pak Gimin, kepada TIMES Indonesia mengatakan selain wisatawan lokal, Antaboga kerap juga dikunjungi wisatawan luar daerah maupun mancanegara.

Ada tiga sendang (kolam) berada ditempat ini. Pertama, Dewi Gangga yang berarti penyucian. Kedua, Dewi Uma yang berarti peleburan, dan yang ketiga adalah Bedawang Nale, yang berarti permohonan. Ketiga kolam tersebut bersumber dari air pegunungan lereng gunung Raung yang mereka sebut Tri Murti.

"Sesuai dengan maknanya, yakni kebahagiaan. Saat melihat perbedaan yang menjadi satu kesatuan, itu membuat bahagia," kata Pak Gimin.

Wisata-Religi-Antaboga-c.jpg

Lebih jauh, pemangku tersebut menceritakan sedikit fenomena yang membuatnya meneteskan air mata. Pernah suatu hari, kata pak Gimin, saat itu ada kunjungan dari umat Hindu dari Bali sedang melakukan ibadah. Di saat yang bersamaan, ada rombongan dari sekolah. Di waktu yang bersamaan keduanya melakukan ibadah, satunya di mushola satunya di pura.

"Saya merinding saat itu, air mata netes gitu aja. Itu benar - benar membuat bahagia melihat kerukunan seperti itu. Keduanya, saling menghormati tanpa membedakan," katanya.

Pura simbol umat Hindu, Mushola simbol umat Islam, Patung Dewi Kwam Im dan sebagai simbol umat Budha dan Konghuchu. Ada juga, patung Yesus dan Bunda Maria sebagai simbol umat Kristen dan Katolik. Serta ada patung Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan) yang merupakan sosok kepercayaan Kejawen (Jawa).

Masih banyak juga beberapa simbol yang berdiri di area Antaboga tersebut. Di mana, hal tersebut sangat kental dengan unsur Nusantara.

"Seperti Pancasila Indonesia, kita membangun Antaboga dengan tujuan persatuan tanpa ada perbedaan," katanya.

Untuk masuk ke dalam area Antaboga sendiri tidak dikenakan tiket masuk seperti tempat wisata lainnya. Mereka hanya diperkenankan untuk memberikan donasi sebagai perawatan tempat ibadah.

Saat ini, nama Antaboga sendiri sudah menjadi ikon keragaman agama di Kabupaten Banyuwangi. Di mana, pengunjung bisa merasakan kecintaan yang benar - benar tinggi terhadap bumi Pertiwi. Terwujud dalam bentuk miniatur NKRI, mencerminkan Pancasila sebagai lambang kesatuan Negara Indonesia. (*)

Jurnalis : Agung Sedana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration