Kopi TIMES

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran Kooperatif Prof Dr Rochmat Wahab
Rabu, 19 Juni 2019 - 13:07

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Pada hakekatnya tidak ada metode pembelajaran yang the best for all purposes. Namun setiap metode pembelajaran memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing.

Untuk mendapatkan perubahan perilaku, maka metode pembelajaran yang tepat adalah pembelajaran behavioristik, untuk meningkatkan kemampuan kognitif digunakan metode eksperimen, dan untuk meningkatkan kecakapan sosial yang tepat digunakan metode Pembelajaran Kooperatif (PK).

Kita bangsa Indonesia sebenarnya bangsa yang mengunggulkan sikap gotong royong. Sikap gotong royong merupakan local wisdom yang tidak hanya menjadi kekayaan masyarakat, melainkan juga bangsa Indonesia.

Bahkan nilai kehidupan gotong royong menjadi salah satu pilar negara Indonesia, yaitu persatuan Indonesia. Namun dengan gencarnya pengaruh budaya asing melalui keterbukaan dan globalisasi model kehidupan individual (yang tercermin dalam faham materialisme, kapitalisme, pragmatisme dan hedonisme), kehidupan kolektif mulai tererosi secara perlahan-lahan.

Kehidupan individual semakin fenomenal. Kondisi demikian tidak bisa dibiarkan dan perlu dilakukan recovery dengan memasukkan nilai-nilai sosial melalu pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif pada dasarnya membantu meningkatkan prestasi belajar siswa, membangun hubungan positif di antara siswa, memiliki nilai penting untuk menciptakan suatu komunitas belajar yang menghargai keragaman, dan memberikan pengalaman yang dapat mengembangkan keterampilan belajar dan kecakapan sosial yang baik.

Dengan memperhatikan esensi PK, maka tepat sekali di disrupsi, para siswa tidak seharusnya didorong untuk berkompetisi secara personal, yang sangat mengandalkan inteligensi individual, melainkan didorong untuk berkompetisi secara kolektif atau hidup secara kolaboratif, sehingga mampu menyelesaikan masalah yang kompleks lebih efisien dan efektif.

Di sinilah peran inteligensi kolektif sangat tinggi, sehingga dapat terhindar dari arogansi disiplin. 

Pembelajaran kooperatif itu dalam prakteknya dapat diorganisasikan dengan menggunakan kelompok kecil untuk meningkatkan kualitas belajar siswa dan saling ketergantungan siswa.

Para siswa diberi suatu tugas dan mereka bekerja sama untuk menyelesaikan tugas ini. Di sinilah para siswa memperoleh kesempatan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman serta melatih empati, care, dan  toleransi.

Dengan begitu terjadi penguatan sense of colletictiveness. Siswa berprestasi tinggi dengan tidak mendominasi pembicaraan dan memberikan kesempatan siswa berprestasi rendah untuk berekspresi, sehingga siswa merasa eksis. Semua siswa dalam kelompok dan antar kelompok bisa saling respek.

Di balik PK dengan berbagai keuntungan, Brandon Gaille (2015) mengemukakan ada beberapa keterbatasan, di antaranya (1) PK membuat sistem gradien-gradien-gradien yang dapat dianggap tidak fair, (2) PK menciptakan sistem struktur sosialisasi baru  yang tidak selalu memberikan manfaat, (3) PK menempatkan tanggung jawab guru terhadap siswa (tidak selalu guru mengenali siswa secara detil), dan (4) PK menciptakan suatu sistem ketergantungan.

Dengan melihat tujuan, keuntungan dan keterbatasan PK, maka diperlukan kemampuan kreativitas dan inovasi guru untuk menciptakan konsep PK dan mengendalikan implementasi dalam setiap mata pelajaran dan bahan pembelajaran, sehingga memungkinkan proses pembelajaran mampu mengembangkan kecakapan sosial, terutama saling respek dan toleran baik dalam kelompok maupun antar kelompok.

Selain daripada itu ada pengakuan kapasitas setiap individu (individual differences). Juga bisa membuat siswa berpotensi unggul tumbuh rasa tawadlu dan terhindar dari sikap arogan. (*)

 

 

Rochmat Wahab

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Loading...
Registration