Pendidikan

Demi Anak Nyantri di Pondok Gontor, Orang Tua Rela Tidur di Tenda

Demi Anak Nyantri di Pondok Gontor, Orang Tua Rela Tidur di Tenda Calon Santri Pondok Modern Gontor sebelum mengikuti tes tulis. (FOTO: Marhaban/TIMES Indonesia)
Selasa, 18 Juni 2019 - 13:25

TIMESINDONESIA, PONOROGO – Menjadi santri di Pondok Modern Gontor Ponorogo,  ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Harus melalui perjuangan yang berat, karena harus bersaing dengan ribuan calon santri lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 

Bulan Syawal,  merupakan tahun ajaran awal di Pondok Modern Gontor. Tahun ini 1440 Hijriah,  atau 2019 Masehi,  pendaftar calon santri putra maupun putri tingkat tsanawiyan dan aliyah,  setara SMP dan SMA,  tercatat hampir 10.000 siswa.  

Pondok Modern Gontor memberlakukan tes yang sangat ketat.  Sebelum melakukan tes tulis,  calon santri lebih dulu menyelesaikan tes wawancara,  kecakapan membaca Alquran dan menulis hurif arab. 

Proses tes yang panjang bagi calon santri,  mengharuskan orang tuanya tinggal beberapa hari di komplek pondok.  Bagi orang tua yang tebal kantongnya bisa nginap di hotel,  bagi yang mau irit bisa nginap dirumah warga atau tidur di tenda-tenda yang disediakan pondok. 

"Saya percaya dengan pendidikan di pondok Gontor ini,  karena dua anak saya sudah jadi alumni sini, dan ini adiknya akan mengikuti jejak dua kakaknya," ungkap Haji Rasyidin,  warga Cipondoh,  Tangerang,  yang sudah 10 hari berada di Ponorogo, Jawa Timur.

Menurut dia,  tes lisan dan tulis lokasinya berbeda. Untuk tes lisan dilakukan di Pondok Gontor II,  sedangkan tes tulis di Pondok Gontor I. Untuk berpindah ke Pondok I yang jaraknya sekitar 6 km lebih peserta tes diangkut menggunakan truk terbuka.  

"Mereka dari awal sudah dilatih berjuang,  dan anak-anak merasa senang,  mungkin dari mereka tidak pernah naik truk, " kata Rasyidin kepada TIMES Indonesia,  Selasa,  (18/6/2019). 

Salah satu pimpinan Pondok Modern Gontor,  KH Syamsul Hadi Abdan,  menyebutkan bahwa siswa yang berminat mau menjadi santri di Gontor dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat.  

"Santri diterima di Gontor,  murni hasil seleksi yang dilakukan secara transparan," tuturnya. 

Menurut dia,  transparansi ini dilakukan sejak pendaftaran,  saat mendaftar siswa harua datang sendiri,  tidak boleh diwakilkan.  Mengenai jumlah calon santri yang diterima,  akan disesuaikan dengan kapasitas pondok dan nilai tes.

 "Jadi yang menentukan diterima atau tidaknya adalah siswanya sendiri,  ukurannya kemampuan akademik dan kedisiplinan, " terang Syamsul Hadi Abdan. 

Pengumuman hasil tes calon santri Pondok Modern Gontor Ponorogo akan dilaksanakan hari Rabu,  19 Juni 2019, bertempat di Pondok Gontor II, dan bagi santri yang diterima akan masuk kurikulum khusus Pondok Modern Gontor,  di  
Khulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI).  

KMI  adalah lembaga pendidikan khusus santri putra tingkat menengah,  dengan masa belajar 6 atau 4 tahun,  setingkat tsanawiyah dan aliyah. KMI didirikan pada 19 Desember 1936, setelah Pondok Modern Darussalam Gontor berdiri 10 tahun. (*)

Jurnalis : Evita Mukharomah (MG-74)
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Ponorogo

Komentar

Loading...
Registration