Peristiwa - Daerah

Sambil Diskusi, Anggota IMJ IAIN Jember Juga Nyeduh Kopi di Sentraliterasi

Sambil Diskusi, Anggota IMJ IAIN Jember Juga Nyeduh Kopi di Sentraliterasi Anggota IMJ IAIN Jember saat memperhatikan teknik penyeduhan kopi oleh barista kedai kopi Sentraliterasi dalam acara ngopi, ngobrol, dan silaturahmi, Minggu (10/6/2019). (FOTO: Dody Bayu Prasetyo/TIMES Indonesia)
Minggu, 16 Juni 2019 - 08:24

TIMESINDONESIA, JEMBER – Sekitar 15 anggota Ikatan Mahasiswa Jember (IMJ) yang berasal dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Jawa Timur antusias mengikuti kegiatan ngopi, ngobrol, dan silaturahmi yang digelar oleh kedai kopi Sentraliterasi dan TIMES Indonesia beberapa waktu lalu.

Diskusi yang diadakan di kedai kopi Sentralisasi yang bertempat di kompleks Perpustakaan Universitas Jember (Unej) tersebut diisi oleh Owner Sentralisasi Bonie Ifar Martha dan Kepala Biro TIMES Indonesia Jember Dody Bayu Prasetyo.

Dody mengatakan bahwa kegiatan diskusi tersebut bertujuan untuk membahas berbagai potensi yang ada di Kabupaten Jember, namun diskusi berlangsung ngejazzy alias nyantai.

IMJ-IAIN-Jember-a.jpg

Dody menerangkan bahwa salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Jember adalah kopi. Menurutnya, kopi yang ada di Jember memiliki kualitas dan rasa yang tidak kalah dengan kopi yang ada di kabupaten lain. Baik arabikanya maupun robustanya.

"Bahwa kopi di Jember ini sudah ikut membentuk budaya masyarakat Jember. Selain tembakau, kopi adalah tanaman yang paling banyak ditanam di Jember," ujar Dody.

Hal tersebut diamini oleh Owner Sentraliterasi Bonie Ifar Martha.

Dia mengatakan Jember termasuk kabupaten penghasil kopi terbaik di Jawa Timur. Kopi yang terkenal salah satunya yang berasal dari Lereng Argopuro, Jember.

"Di sana jenis kopi arabikanya memiliki kualitas dan rasa yang tidak kalah dengan kopi-kopi lain di Indonesia," ujarnya.

Namun, Bonie mengatakan bahwa potensi kopi di Jember perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak, khususnya pemerintah. Hal itu mengingat reputasi kopi di Jember tidak sejaya kopi di kabupaten tetangga, misal Kabupaten Bondowoso yang dikenal dengan sebutan Republik Kopi, meski kualitas kopinya bersaing.

IMJ-IAIN-Jember-b.jpg

Dia menerangkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya yakni kurangnya keinginan petani kopi di Jember untuk menggalakkan petik merah pada tanaman kopinya.

"Padahal, dengan memilih memetik biji kopi yang sudah merah (petik merah, Red) kualitas dan rasa kopi akan lebih berkelas dibandingkan dengan biji kopi yang masih hijau. Dan dari sisi harga, kopi dari hasil petik merah jauh lebih mahal dari petik hijau atau kuning," terang Bonie kepada peserta diskusi.

Selain itu, dalam acara tersebut peserta juga diperkenalkan dengan teknik menyeduh kopi ala barista, langsung dari baristanya Sentraliterasi.

Tidak cuma disuguhi teori penyeduhan kopi yang benar. Peserta juga diajak langsung untuk melakukan penyeduhan kopi sendiri. Hasil nyeduh kopinya macam-macam. Ada yang terlalu kental. Ada juga yang terlalu encer. Kendati demikian, tidak mengurangi sedikitpun antusiasme mereka. Apalagi nyeduh kopi langsung ala barista itu jadi pegalaman pertama bagi mereka.

Recananya, kegiatan diskusi oleh kedai kopi Sentraliterasi yang didukung oleh TIMES Indonesia tersebut akan dijadikan agenda rutin yang melibatkan lebih banyak mahasiswa. (*)

Jurnalis : Dody Bayu Prasetyo
Editor : Dody Bayu Prasetyo
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Jember

Komentar

Loading...
Registration