Gaya Hidup

Indonesia's Cultural Dining Series Adalah Kelebihan Hotel Tugu

Indonesia's Cultural Dining Series Adalah Kelebihan Hotel Tugu Suasana Indonesia's Cultural Dining Series 42 yang menyajikan Dramatari Brastho Durjono di Hotel Tugu, Sabtu (15/6/2019) malam. (FOTO: Widodo Irianto/TIMES Indonesia)
Minggu, 16 Juni 2019 - 01:14

TIMESINDONESIA, MALANG – Inilah kelebihan Hotel Tugu Malang dibanding lainnya yang selalu membikin tamu-tamunya terpukau oleh apresiasinya terhadap seni dan budaya, seperti Sabtu (15/6/2019) malam saat menggelar Dramatari Brastho Durjono yang dikemas dalam Indonesia’s Cultural Dining Series 42.

Mereka, yang kebanyakan dari luar Malang, bahkan luar Jawa serta asal mancanegara tampak terhibur dan terkagum-kagum atas tampilan seni dan budaya malam itu, sembari menikmati hidangan yang disuguhkan pihak hotel.

Cultural-Dining-Series-2.jpg

Sungguh, malam itu di ruang Tirta Gangga, tempat pertunjukan seni budaya itu berlangsung, suasananya menjadi penuh dinamis, apalagi para pengiring gamelannya dari sanggar budaya Ginaris Art pertama kali langsung menyuguhkan tembang Ngidam Sari. Beberapa saat kemudian disusul Perahu Layar, Ojo Dipleroki, Gambang Suling,Tembang Kangen, dan sebagainya, meski waktu itu acara utama pagelaran Dramatari Brastho Durjono belum dimulai.

Hotel Tugu memang konsisten dalam menjunjung tinggi sisi pelestarian cultur dan budaya melalui seni. Kali ini adalah seri ke 42 dan acara yang dikemas dalam tema Indonesia's Cultural Dining ini ditampilkan sebulan sekali setiap tanggal 15, pertengahan bulan. Disamping itu, yang menarik hotel Tugu selalu menampilkan para kawula muda yang komitmen di dunia seni dan budaya.

Public Relation Hotel Tugu Malang, Richard Wardana mengatakan, hotel Tugu memang komitmen sejak awal dalam upaya menghidupkan dan mempertahankan seni dan budaya Indonesia. "Hotel Tugu selalu melihat bahwa kekuatan seni dan budaya Indonesia sangat mengapresiasi para tamu, baik domestik maupun mancanegara. Mereka juga mencintainya," ujarnya.

Ini terbukti, setiap kali menyelesaikan sesi-sesi pertunjukkan itu, applaus mereka luar biasa. Meskipun saat itu mereka sembari menikmati hidangan dari Hotel Tugu.

Cultural-Dining-Series-3.jpg

Dramatari Brastho Durjono itu sendiri oleh anak-anak muda Sanggar Budaya Ginaris Art malam itu ditampilkan dengan dinamis. Berkarakter jaran kepang, bersama Hotel Tugu mereka mencoba menterjemahkan konflik gejolak dan sifat manusia dalam menyeimbangkan kepuasan diri dengan kedamaian.

Dramatari ini diciptakan dengan memadukan esensi tari Topeng Malang dengan tarian Jawa lainnya. Seperti gerakan singet, labas dan kencak dalam melambangkan dongeng rakyat utama.

Richard menambahkan, dalam upaya menghidupkan kembali apresiasi terhadap seni dan budaya Indonesia, sebulan sekali bagi para tamunya yakni pengalaman bersantap malam sambil menyaksikan pertunjukkan seni budaya lokal. Hotel Tugu mengusung tema yang berbeda setiap bulannya, mulai dari musik, tarian, dongeng wayang, dan sebagainya.

Para tamupun malam itu menikmati aksi tari tradisional Jawa Timur yang dibawakan oleh delapan penari perjuangan dalam upayanya memenangkan kebaikkan atas keburukkan disertai dengan pertunjukan gamelan di. Hotel Tugu Malang yang terletak tepat di jantung kota, 5 menit dari Stasiun Kereta Api Kota Malang.

Hotel Tugu Malang merupakan hotel bintang lima pemenang penghargaan ‘Certificate of Excellence’ selama 8 tahun berturut-turut. Koleksi barang-barang seni yang tak ternilai harganya menghiasi setiap sudut hotel, menciptakan suasana klasik peninggalan era kolonial Belanda, tradisi Indonesia yang berabad umurnya, dan juga kebudayaan Jawa Peranakan yang romantis. Dengan 49 kamar, 4 restoran, serta 5 ruang serbaguna, Hotel Tugu Malang memadukan romatisme budaya dengan kecanggihan fasilitas masa kini.

Kelebihan Hotel Tugu Malang dibanding lainnya adalah selalu membikin tamu-tamunya terpukau oleh apresiasinya terhadap seni dan budaya, seperti Sabtu (15/6/2019) malam saat menggelar Dramatari Brastho Durjono yang dikemas dalam Indonesia’s Cultural Dining Series 42. (*)

Jurnalis : Widodo Irianto
Editor : Widodo Irianto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration