Kopi TIMES

‘Mengintip’ Silaturahmi Kepentingan

‘Mengintip’ Silaturahmi Kepentingan Imam Safi’i,S.Pdi,M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA. (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 11 Juni 2019 - 12:52

TIMESINDONESIA, MALANG – Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Satu sikap yang baik itu ialah bersilaturahmi menyambung kasih sayang antarsaudara seiman, antarbangsa dan umat manusia.

Bentuk keimanan manusia adalah senang bersilaturahmi. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra., Rasulullah bersabda, ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya memuliakan tamu dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah menyambung hubungan silaturahmi”. Hadis ini memberikan gambaran begitu pentingnya silaturahmi karena disambungkan dengan kadar keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Ketika berbicara tentang keimanan itu berarti berbicara tentang pokok dalam ajaran Islam dan menjadi kunci keselamatan manusia di dunia dan akhirat kelak.

Momentum di bulan Syawal menjadi hal yang istimewa bagi bangsa Indonesia untuk melakukan rekonsiliasi hubungan yang sempat retak karena beda pilihan di dalam pemilihan presiden untuk segera kembali membangun hubungan yang harmonis dan berfikir ke depan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Sudah waktunya di bulan Syawal ini kembali kefitrahnya sebagai manusia yang saling mengasihi dan menyayangi di dalam bingkai persatuan dan kesatuan. Syawal sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam dikarenakan di bulan Ramadhan mampu mengekang hawa nafsu. Jangan sampai setelah selesai bulan Ramadhan tidak ada bekas kebaikan yang dilakukan secara isikamah.

Menjadi pertanyaan yang menggelitik penulis di dalam melihat bulan Syawal atau saya sebut bulan silaturahmi di tahun ini, apakah betul orang yang melakukan kunjungan kesanak saudara, tetangga, kolega, pimpinan di kantor kerjanya, di tokoh terkemuka, dan ke kiai itu bentuk manifestasi dari keimanan seseorang atau justru di situ terselip agenda pamer, kesombongan, keangkuhan, kepentingan jabatan, dan yang paling parah lagi justru terselip saling menghibah atau membuka aib orang lain. 

Mari kita intropeksi diri amal yang kita lakukan apakah sudah termasuk amal yang ikhlas karena Allah atau masih tergantung terhadap selain-Nya. Ketahuilah bahwa amal adalah tubuh sementara ikhlas adalah ruhnya. Setiap jasad di dalamnya tanpa ada ruh adalah bangkai dan tentu akan dibuang sia-sia. Semua amal yang tidak dibarengi dengan keikhlasan akan dikembalikan kepada pelakunya bahkan neraka adalah tempatnya.

Sebagaimana dikatakan didalam ungkapan, ”Pada hari kiamat Allah SWT menghimpun semua amal-amal entah yang bersih,kotor dan yang murni. Lalu Allah berkata kepada manusia ambillah amal-amal yang terbukti dilakukan hanya karena-Ku”. Tidak seorang pun mengalami kesulitan ”mencari sesuatu yang hilang” yang lebih berat dari kesulitan dialami para pengamal dalam mencari ikhlas.

Ikhlas serupa burung sedikit sekali yang terjaring dalam jala. Kalau diibaratkan ikhlas itu manusia, tidak akan ada yang mengenalinya selain segelintir ahli ibadah. Kita harus memahami bahwa tangan orang yang ikhlas mengetuk pintu khushushiyah, kakinya mendaki tangga inayah, harganya di hadapan Allah sangat tinggi, meski mata kasar melihatnya sedemikian hina. 

Semoga amal yang kita lakukan mulai dari puasa Ramadhan, bersilaturahmi, dan amal-amal baik yang lain termasuk di dalam maqam ikhlas. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT yang Maha Luhur dan Maha Agung. (*)

*) Penulis: Imam Safi’i,S.Pdi,M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam UNISMA
 *)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Loading...
Registration