Senin, 16 September 2019
Kopi TIMES

Fitri di Papua; Takbir Keliling Ramai di Kota Injil Manukwari, Umat Nasrani Jaga Shalat Id di Raja Ampat

Fitri di Papua; Takbir Keliling Ramai di Kota Injil Manukwari, Umat Nasrani Jaga Shalat Id di Raja Ampat Muliansyah Abdurrahman, Dosen FISIP UMS dan Peneliti Institut Politik Indonesia (IPI). (FOTO: Dok. TIMES Indonesia)
Senin, 10 Juni 2019 - 13:02

TIMESINDONESIA, MALANG – Ini cerita “Om Alex” di saat berlebaran di Kota Waisai Kabupaten Raja Ampat, tepatnya di Papua Barat. Kala itu penulis sempat melihat pada saat Om Alex berlebaran di rumahnya, pukul 11.00 waktu Indonesia bagian timur setelah sholat Id di pantai WTC (Waisai Torang Cinta), salah satu destinasi wisata di Raja Ampat.

Om Alex tiba dengan aurah wajah yang cerah, meriah, bangga dan bersalaman dengan orang-orang rumah sambil menyampaikan “Assalamualaikum” dan menyatakan “mohon maaf lahir bathin semua yang ada disini”.

Om Alex juga bertanya canda masih puasakah? Semuanya di dalam rumah menyambut Om Alex dengan tertawa sebagai orang rumah sudah berlebaran juga. 

Ramadhan telah usai. Tibalah saatnya hari kemenangan, seluruh umat Islam merayakan hari raya tersebut dengan suka cita, menyambut hari kemenangan bagi umat Islam yang berpuasa sebulan penuh, terkhusus di Tanah Papua. Om Alex menjadi cerita indah di hari lebaran ini, Om Alex langsung mengucapkan banyak terima kasih kepada setiap orang di Waisai bahwa kita di Raja Ampat sudah berlebaran, tanya lagi Om Alex.

Kenapa lebaran hanya berapa hari “ini kah”?, Kenapa lebaran tidak panjang-panjang kah”?, Artinya dari kata tersebut Om Alex bermaksud dan beranggapan kalau lebaran hanya satu atau dua hari, kota Waisai ini akan sunyi dan tidak akan lagi macam-macam kue di berbagai tempat secara gratis, di setiap rumah bahkan dengan hidangan yang teristimewakan. 

Istimewa di hari raya idul fitri adalah kemenangan untuk kita semua dan rahmat bagi alam semestaan, Om Alex ternyata ingin berlebaran terus, melihat begitu indahnya berlebaran, ternyata Islam hadir di tanah Papua memberikan nilai dan manfaat bagi masyarakat pada umumnya, lebaran idul fitri 1440 H/2019 M pada hari Rabu tanggal 5 juni di Raja Ampat – Papua Barat menjadi cerita bahagianya masyarakat tanah Papua yang terkhusus Om Alex yang beragama Nasrani/Kristiani.

Islam hadir di tanah Papua dengan suasana hidup damai, rukun dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Tanpa membedakan dari suku apa maupun agama apapun. Islam adalah agama “rahmatan lil alamin”. Artinya Islam adalah agama yang datang untuk memberi rahmat bagi seluruh mahluk di muka bumi ini.

Bahkan Islam Papua di zaman kedaulatan kerajaan Tidore masih menjadi jembatan para misionaris untuk melaksanakan misi Kristen kepada masyarakat Papua yang belum beragama, sebagaimana menjadi catatan sejarah hidup kita masyarakat Papua, bahwa Manukwari adalah pusat peradaban injil pertama kali di Tanah Papua. 

Kini Manukwari menjadi kota peradaban injil. Namun bukan berarti Islam tidak hadir dalam pengembangan kota tersebut.  Islam justru menjadi kesejukkan membangun kota Manukwari sebagai kota injil masa kini.

Fitri di kota Injil adalah argumnetasi tema bahwa idul fitri di tanah Papua. Khususnya di Raja Ampat, Sorong, Fak-Fak dan Manukwari adalah bagian dari kehidupan keberagaman yang hidup rukun. Berdampingan tanpa ada keraguan satu agama dengan agama lain. 

Persaudaraan masyarakat di tanah Papua sangat memberikan nilai positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, rasa nasionalisme hadir ketika berbeda agama, suku dan ras yang dominasi masyarakat Papua. Terbukti kehadiran masyarakat Papua, kepala suku, tokoh agama, pemerintah dan tokoh masyarakat menyerukkan umat dan masyarakatnya agar menjaga ibadah dan perayaan umat Islam yang datang pada bulan ini. 

Di Raja Ampat hampir seluruh masyarakat beragama Kristen berbondong-bondong menjaga ibadah hari raya umat Islam di Pantai Waisai, yang menjadi tempat acara-acara masyarakat Raja Ampat. Di Manukwari yang di sebut sebagai Kota Injil kembali memeriahkan takbir di jalan-jalan keliling Kota Manukwari sebagai kota yang damai dan cinta atas kerukunan umat beragama. Alhasil masyarakat yang beragama Kristen dan Katolik ikut meramaikan dan menjaga acara takbir keliling tersebut.

Apalagi di Fak-fak yang mayoritas beragama Muslim, tentu lebaran menjadi ikon umat Islam di tanah Papua, juga di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong tetap menjadi lebaran idul fitri dari tahun ke tahun adalah sangat istimewah dan menjaga kedamaian tak pernah rapuh hingga kapan pun. 

Indonesia ada di tanah Papua, harmoni, rasa nasionalisme telah terbangun pada masyarakat Papua. Jangan melihat Papua dari satu sudut pandang. Lihatlah Papua dari berbagai sudut, agar mengenal Papua seutuhnya. Mulai dari masyarakat pantai hingga masyarakat di pegunungan.

Perbedaan bukan menjadi prinsip utama untuk berbeda. Tetapi perbedaan menjadi prinsip kebersamaan, prinsip toleran, prinsip kerukunann dan menjadi satu kekuatan untuk membangun prinsip hidup satu sama lain.

Dengan semangat filosofis bersama sebagaimana yang menjadi kajian bagi masyarakat Fak-Fak yakni “Satu Tungku Tiga Batu” artinya bila satu tujuan hidup harus ditonggak dengan tiga batu yang kuat untuk membangun peradaban masa depan tanah Papua.

Raja Ampat maupun Manukawari adalah Islam sangat minoritas. Tetapi keberagaman tetap terjaga hingga masa kini, Islam pun tetap menjadi agama yang dihormati bagi masyarakat yang beragama Kristen maupun Katolik. 

Semoga lebaran kali ini di tanah Papua menjadi pelajaran bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga negeri ini menjadi negeri yang damai, adil dan sejahtera, maka penulis yakin bahwa kehidupan masyarakat Indonesia akan bahagia selalu dari setiap perkembangan jaman ke zaman setelahnya. (*)

 

*) Penulis adalah Muliansyah Abdurrahman, Dosen FISIP UMS dan Peneliti Institut Politik Indonesia (IPI)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration