Kopi TIMES

Belajarlah Kerukunan di Indonesia

Belajarlah Kerukunan di Indonesia Moh Syaeful Bahar. (Grafis: TIMES Indonesia)
Senin, 10 Juni 2019 - 13:33

TIMESINDONESIA, MALANG – Momentum Idul Fitri menjadi salah satu cermin Islam Indonesia, Islam Nusantara. Cermin indah yang patut dicontoh oleh negara lain, oleh negara muslim yang lain. Banyak ritual, baik yang murni berdeminsi spritual atau juga yang berdemensi sosial tumbuh di Indonesia.

Halal Bihalal, ketupat lebaran, ziarah kubur pasca sholat Ied hingga ke tellasan lontong (hari raya ketupat di hari ke tujuh syawal) adalah sebagian dari pernak pernik 'Idul Fitri di Indonesia. Semuanya indah, semuanya adalah warisan leluhur para perintis dakwah Islam pertama di bumi Nusantara, Wali Songo.

Halal Bihalal menjadi salah satu yang paling unik. Istilahnya saja tak mungkin ditemukan di negara lain. Halal Bihalal murni lahir dari ide ulama Indonesia. Konon, KH. Wahab Hasbullah yang menjadi inisiatornya. Atas permintaan Bung Karno, Presiden pertama RI, KH. Wahab Hasbullah mengusulkan acara Halal Bihalal sebagai bentuk rekonsiliasi nasional setelah perpecahan politik yang akut antar elit politik tanah air saat itu. 

Karena manfaat besar dari Halal Bihalal, maka tradisi Halal Bihalal bertahan hingga sekarang, bahkan semakin semarak. Semua melaksanakan Halal Bihalal. Mulai dari instansi pemerintah hingga ke masyarakat luas, semua melakukan Halal Bihalal. 

Sebagaimana keyakinan para sosiolog, bahwa sesuatu yang memiliki nilai fungsional akan dapat bertahan di masyafakat, berkembang di masyarakat. Halal Bihalal adalah salah satu contohnya. Halal Bihalal dapat dipercaya memiliki nilai fungsional, buktinya, dapat bertahan bahkan berkembang di tengah-tengah masyarakat hingga saat ini.

Saling Support Antar Umat Beragama

Bebarapa hari yang lalu, beberapa orang tokoh agama Kristen dan Katolik sowan dan bertamu ke rumah Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan. Kehadiran mereka dalam rangka Halal Bihalal. Habib sepuh yang santun dan menyejukkan ini menerima mereka sebagaimana layaknya tamu lebaran yang lain. Mendapat posisi istimewa sebagai tamu dan sebagai saudara sebangsa setanah air. Nampak sekali keakraban antara Habib Lutfi dan para tokoh agama nasrani tersebut. Nampak sekali bentuk pengayoman Habib Lutfi bagi mereka yang minoritas di negeri ini. Pemandangan yang sangat indah. Pemandangan yang menumbuhkan optimisme bagi mereka yang menginginkan Indonesia selalu rukun dan damai.

Tidak hanya Habib Lutfi, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Istri mendiang Gus Dur juga menunjukkah sikap yang tak kalah sejuknya dengan Habib Lutfi. Selama Ramadhan, Ibu Sinta keliling Indonesia untuk menyapa masyarakat, rakyat Indonesia. Terutama di saat santap sahur. Beberapa titik kumpul sahur masyarakat bersama Ibu Sinta Nuriyah juga dilaksanakan di Gereja. Misal yang terjadi di Surabaya. 

Ibu Sinta Nuriyah sengaja memilih Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) sebagai tempat sahur bersama. Acara sahur bersama ini sukses, berhasil meleburkan anak bangsa dalam satu nilai persaudaraan dalam bingkai ke Indonesiaan dan kemanusiaan. Luar biasa. Sahur yang berdimensi ibadah ritual berhasil melebarkan fungsinya ke ibadah sosial.

Beberapa interaksi positif dalam bentuk saling support antar umat beragama juga terjadi secara sporadis di beberapa daerah. Terutama di saat pelaksanaan shalat Idul Fitri. Misal, yang terjadi di Timika. Sejak pukul 05.30 WIT, pemuda pemudi dari Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha, sudah berada di sekitar Lapangan Timika, Kota Timika, Papua. 

Kehadiran mereka, tak lain untuk ikut membantu mengamankan pelaksanaan shalat Idul Fitri 1440 Hijriah bagi umat Muslim di lapangan tersebut, Rabu (5/6/2019).

Selain di Timika, pemandangan saling support juga terjadi di Bali. Menjelang lebaran, ada tradisi Ngejot. Yaitu tradisi sedekah oleh kaum muslimin bagi tetangga non muslin di Bali. Berbagai makanan siap saji menjadi menu utama yang disedekahkan. Tradisi ini telah ada turun temurun. Sudah lama sekali. Bertahan hingga saat ini. Karena itu, menjadi hal yang tak mengherankan jika di saat pelaksanaan lebaran, umat Hindu yang mayoritas turut dalam kegembiraan dan memberikan support pada saudaranya yang beragama Islam. Luar biasa bukan. 

Kerukunan umat beragama di Indonesia memang layak dan pantas dibanggakan. Karena itu, tak heran jika banyak negara Islam memuji kerukunan umat di Indonesia. Umat Islam yang mayoritas dapat menjadi pengayom, pelindung bagi yang minoritas. Sedang mereka yang minoritas menghormati yang mayoritas. Indahnya Indonesia. Eloknya kerukunan umat beragama di Indonesia.

Beberapa ulama Afganistan datang ke Indonesia, belajar kerukunan. Afganistan pecah, hancur lebur karena konflik berkepanjangan yang tak berkesudahan. Tujuh etnis terbesar di Afganistan tak bisa menjadi perekat nasionalisme mereka, malah menjadi bumerang yang turut menjadi stimulan konflik. Mereka heran, Indonesia yang memiliki 714 suku dapat hidup berdampingan. Diikat oleh nasionalisme yang kuat. 

Beberapa ulama Mesir juga mengapresiasi Indonesia. Ummat Islam Indonesia yang mayoritas dianggap berhasil memberikan perlindungan bagi mereka yang minoritas. Islam Indonesia dianggap menyerupai wajah Islam Madinah di saat Rasulullah saw dan para sahabatnya berhasil membangun peradaban Madinah yang luar biasa itu. 

Kita memang sempat khawatir, bahwa konstelasi politik tanah air di saat digelarnya Pilpres 2019 akan menggerus nilai-nilai kerukunan umat beragama, terutama setelah para elit yang provokatif dan diskriminatif sempat menguasai panggung politik nasional. Namun, semua kekhawatiran tersebut sirna, hilang berubah menjadi optimisme, seiring banyaknya tokoh Islam inklusif dan Islam ramah turun gunung "melawan". Sebutlah KH. Musthofa Bisri, Habib Lutfi bin Yahya, Habib Prof. Quraish Shihab, Prof. Buya Syafii Maarif dan Ibu Sinta Nuriah.

Nabi Telah Memberi Contoh 

Prilaku saling menghormati umat antar beragama sebenarnya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Nabi adalah tetangga yang baik bagi mereka yang tak seiman saat itu. Nabi adalah pemimpin yang adil bagi mereka yang minoritas di saat itu. Nabi berdiri tegak sebagai juru adil bagi semua warga Madinah, tanpa memandang agama dan keyakinannnya.

Banyak cerita yang masuk kategori soheh (valid dan terpercaya) mengisahkan hal ini. Misal, Nabi Muhammad saw pernah satu ketika diundang oleh seorang tetangganya yang beragama Yahudi. Rasulullah saw hadir, memenuhi undangan tetangga Yahudi dimaksud. Bahkan beliau mengajak beberapa sahabatnya. Beliau dan para sahabatnya menyantap makanan yang disuguhkan. Tanpa mempertanyakan apakah makanan tersebut suci atau tidak? Dimasak dengan cara Islami atau tidak? Dan seterusnya. Demi menghormati tetangga yang baik hati tersebut, Rasulullah saw menunjukkan sikap yang jauh lebih baik. Lebih sempurna. Menunjukkan kesempurnaan akhlaq Rasulullah saw.

Berikut juga, ketika ada rombongan umat Yahudi yang sedang membawa jenazah untuk dikebumikan, melewati majlis Rasulullah saw, beliau berdiri, memberi hormat. Beliau tidak menunjukkan sikap acuh apalagi memusuhinya. Tidak. Beliau bersimpati dan menghormatinya.

Begitulah Rasulullah saw. Akhlaq dan prilaku beliau yang menjadi contoh para ulama nusantara memperlakukan dan memposisikan umat non muslim. Terhormat dan dilindungi. 

Lalu, jika ada yang memprovokasi dengan dalil agama agar tak hormat dan memusuhi kelompok non muslim, kepada siapakah mereka mencontoh? Pasti bukan Rasulullah saw. Kenapa? Sekali lagi, karena Rasulullah saw menghormati siapapun, meskipun tidak seiman dengannya. Wallahu a'lam. (*)

 

*) Penulis adalah Moh. Syaeful Bahar

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration