Senin, 16 September 2019
Peristiwa - Nasional

Ramadhan Kebangsaan, Najib Attamimi: Sabar dan Harus Menahan Diri

Ramadhan Kebangsaan, Najib Attamimi: Sabar dan Harus Menahan Diri Najib Attamimi (FOTO: Istimewa)
Senin, 27 Mei 2019 - 14:27

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ramadhan Kareem, Ramadhan penuh berkah, dan Ramadhan penuh ampunan. Begitu umat Islam menyebutnya karena keagungan bulan Ramadhan yang diberikan oleh tuhan untuk makhluknya. Pada kondisi ramainya polemik kebangsaan, usai Pemilu serentak 2019, saatnya semua pihak membangkitkan ‘Ramadhan Kebangsaan’. Jangan menggunakan pikiran lapuk yang sudah usang. Harus sabar dan lebih menahan diri dari hal apapun yang bisa membatalkan pahala puasa.

Hal itu disampaikan Chairman John Caine Center (JCC), Najib Salim Attamimi, kepada TIMES Indonesia, di Jakarta, Senin (27/5/2019). Di bulan Ramadhan ini jelasnya, semua pihak, terutama para petinggi negara, politisi atau tokoh dibidang apapun, untuk menahan diri dari pernyataan yang akan menuai pro-kontra.

“Di bulan Ramadhan ini, waktunya untuk tadarus Ramadhan Kebangsaan. Mengkaji dan mendalami pemahaman soal kebangsaan. Bagaimana menerapkan civil society di negeri ini, bukan malah memaksakan pikiran lapuk yang sudah usang, yang tak bisa diterapkan di era milenial saat ini,” terangnya.

Najib mengulasi soal Ramadhan, ia menjabarkan dari kata Imsak. Menurutnya, kata Imsak adalah salah satu arti penting dalam siyam atau puasa. Karena puasa adalah Imsak. Yaitu menahan diri untuk tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan intim suami-istri di siang hari. “Itu perspektif Fiqh,” terangnya.

Sementara itu, dalam perspektif psikologi, kemampuan menahan diri atau pengendalian diri (self control) itu, sangat penting dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari apa yang sering disebut sebagai kecerdasan emosional (emotional quotient).

“Jika seseorang atau kelompok masyarakat tidak memiliki kemampuan menahan atau mengendalikan diri, maka emosi yang muncul akan menjadi sumber energi bagi munculnya pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan yang negatif dan bahkan destruktif,” jelasnya.

Hidup secara sendiri dan apalagi secara bersama-sama (di level apapun) katanya, membutuhkan otak dan pikiran yang sehat dan positif, perasaan yang posistif, ungkapan atau ujaran yang sehat dan positif, tindakan perilaku dan adat istiadat dan budaya yang positif. “Dari itu, jelas dibutuhkan tatanan sosial dan politik serta kepemimpinan yang positif dan konstruktif,” katanya.

Apalagi, hidup yang sehat itu adalah hidup yang memiliki kecerdasan emosional dan hal itu dibuktikan dengan kemampuan untuk menahan dan mengendalikan diri. “Hal itu makna dari Imsak dalam pengertian yang lebih luas,” katanya.

Selama bulan Ramadhan ini harap Najib, para tokoh bangsa, pejabat tinggi negara, para Menteri, politisi, para purnawirawan TNI atau Polri, lebih bijaksana segera merumuskan masa depan Indonesia usai Pemilu serentak, sesuai dengan tanggungjawabnya masing-masing.

“Jika hal itu dilakukan, adalah langkah yang luar biasa. Bukan malah membicarakan hal yang ngelantur tak jelas arah. Mengkritik dan menyalahkan pihak lain dengan membabibuta. Padahal Indoensia sudah punya landasan berenegara. Civil society harus dibumikan dengan baik dan benar, ” katanya.

Mengapa? Karena kebangkitan civil society perlu kehadiran pemimpin yang sanggup mendorong proses pendewasaan civil society agar resistensi sosial bebas dari sentiment golongan, dan sanggup membantu proses pemberdayaan masyarakat untuk saling bekerja sama dalam memecahkan persoalannya sendiri, juga sanggup mengembangkan kapasitas yang dimilikinya.

“Masyarakat sipil yang tangguh sangat diperlukan bagi terwujudnya demokrasi yang beradab. Oleh karena itu, kebangkitan civil society ini seharusnya tidak “dinodai” dengan fanatisme golongan. Tidak saling membenci antar etnis. Karena Indonesia sudah sejuk dan saling menghargai para pahlawannya,” katanya.

Pejabat tinggi negara, tokoh politik beber Najib, kini harus mencontoh atau meneladani apa yang disampaikan oleh sosok pemimpinnya. Presiden Jokowi sudah tegas menyampaikan, semua pihak diharapkan menahan diri selama bulan suci Ramadhan.

“Pak Jokowi selaku capres 01, sudah tegas menyampaikan, bahwa dirinya sangat menghargai sikap Prabowo-Sandi yang membawa pesoalan penghitungan suara Pilpres ke MK. Hal itu sudah sangat bijaksana,” katanya.

Maka dari itu, para tokoh partai politik pendukung dan pengusung duet Jokowi-KH Ma’ruf Amin, para relawan, harus mengikuti apa yang disampaikan pemimpinnya (Jokowi). “Jangan membuat gaduh suasana dan konflik baru. Atau memanas-manasi keadaan. Apalagi saat ini bulan suci Ramadhan,” katanya.

Terakhir Najib menambahkan, pihaknya sangat mengapreasiasi kepada sosok Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang dengan jiwa besarnya untuk kepentingan bangsa, menemui Prabowo Subianto atas permintaan Presiden Jokowi. “Pak JK memang tokoh bangsa yang menyejukkan. Tokoh teladan bagi generasi bangsa ini. Sosok yang mengayomi semua kelompok,” katanya.

Dari itu, pada momentum Ramadhan, bulan penuh berkah, Najib Attamimi berharap, semua pihak bersabar dan bisa menahan diri dari hal apapun yang bersifat negatif bagi keamanan dan kesejahteraan bangsa ini. “Mari bersama-sama, menatap Indonesia yang aman, damai dan sejahtera. Karena itu tujuan utama sebuah negara,” katanya. (*)

Jurnalis : Imadudin Muhammad
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Registration