Selasa, 17 September 2019
Peristiwa - Daerah

Puncak HJL ke-450, Lamongan Resmi Miliki Pakaian Khas

Puncak HJL ke-450, Lamongan Resmi Miliki Pakaian Khas Gayeng, Bupati Lamongan Fadeli bersama istri, Makhdumah naik kereta dalam kirab budaya dengan mengenakan Pakaian Khas Lamongan (PKL), Minggu, (26/5/2019). (FOTO: istimewa)
Minggu, 26 Mei 2019 - 23:22

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Resmi memiliki Pakaian Khas Lamongan (PKL), tepat di Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-450, membuat Bupati Lamongan, Fadeli, sumringah saat prosesi Pasamuan Agung HJL ke-450.

“Nanti jika dalam setiap undangan resmi tercantum pakaian yang dikenakan adalah PKL, Bapak dan Ibu jangan bingung, karena itu adalah busana adat kita, yang secara resmi kita kenalkan hari ini,” ujar Fadeli, di Pendopo Lokatantra, Minggu (26/5/2019).

HJL-Lamongan-2.jpg

Menurut Fadeli, mempunyai busana adat khas sendiri sangat penting bagi Lamongan yang memiliki sejarah besar di masa lampau, sejarah yang diukir oleh manusia-manusia gagah perkasa, sejak era Airlangga, Majapahit, hingga Sunan Giri dan Sunan Drajat,

“Yang mengucapkan Sumpah Palapa adalah anak Lamongan, karena Mahapatih Gajah Mada memang dilahirkan di Lamongan. Sejarah ini perlu diluruskan, agar anak-anak kita termotivasi dan memiliki kebanggan,” katanya.

Terkait sejarah ini, Fadeli juga terbuka jika memang ada fakta baru terkait sejarah Lamongan, karena ada satu literasi yang menyebutkan Panji Laras dan Panji Liris itu sudah ada sejak era Sunan Giri II.

Epos Panji Laras Panji Liris yang dilamar dua putri Adipati Kediri, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi selama ini sangat lekat dengan sejarah Lamongan. Sementara Panji Laras Panji Liris sendiri disebutkan sebagai putra Adipati Lamongan.

HJL-Lamongan-3.jpg

Sedangkan penetapan HJL yang berlaku saat ini didasarkan pada diwisudanya Hadi oleh Sunan Giri IV menjadi adipati pertama di Lamongan dengan gelar Tumenggung.

Puncak HJL Lamongan sendiri ditandai dengan pembukaan selubung pataka lambang daerah di Gedung DPRD. Pataka itu kemudian dikirab keliling Kota Lamongan.

Masyarakat Lamongan, cukup antusias menyambut kirab di sepanjang jalan, apalagi panitia menyuguhkan delapan kesenian tradisional di setiap perempatan yang dilalui rombongan kirab. Bahkan, ribuan takjil gratis sudah menanti untuk masyarakat yang hadir.

Di kirab memperingati HJL ke-450 ini pula, Pakaian Khas Lamongan untuk pertama kalinya digunakan di even resmi. Fadeli, menambahkan, even resmi selanjutnya di Lamongan akan terus menggunakan PKL, karena busana ini terinspirasi dari sejumlah budaya lokal. Mulai dari penggunaan batik singo mengkok, dan aplikasi kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adat tambal sewu. (*)

Jurnalis : Ardiyanto
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Registration