Glutera News

Tetesan Air dan Kerasnya Batu

Tetesan Air dan Kerasnya Batu Ilustrasi (Foto: Gluteranews)
Sabtu, 25 Mei 2019 - 13:23

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kisah ini berawal dari seorang pemuda biasa yang dianggap bodoh dan terbelakang. Ia memiliki orangtua yang sangat menyayangi dan mendukungnya. Saat orangtuanya terkena wabah dan hampir meninggal, mereka memberikan sebuah wejangan bagi pemuda ini.

“Jika kami meninggal, maka tidak ada lagi yang akan mendukungmu, oleh karena itu kamu harus bisa mandiri. Jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu. Fokuslah pada apa yang kamu kuasai dan kamu akan menjadi seseorang yang disegani banyak orang,” ujarnya pada sang anak.

Pemuda ini kemudian melanjutkan usaha ayahnya sebagai tukang kayu. Karena sejak kecil ia sudah sering membantu ayahnya dalam menilai kayu, ia memperoleh kemampuan untuk mengenali dan menilai kayu dengan baik.

Suatu hari, seorang yang sudah tua mendatangi pemuda tersebut untuk mencari kayu yang dapat dipahat menjadi patung. Pemuda tersebut dengan cepat memberikan kayu terbaik untuk pahatan.

Siapa sangka, orangtua tersebut nyatanya adalah pemahat terkenal di desa tersebut, dan karena kayu yang diperoleh dari pemuda tersebut sangatlah bagus, ia menjadi langganan yang terus membeli kayu dari sang pemuda.

Lama kelamaan, pemuda tersebut menjadi dekat dengan sang pemahat, dan ia pun memutuskan untuk belajar memahat dari sang pemahat. Namun, saat ia baru akan mulai belajar memahat, sang pemahat memberikan wejangan.

“Jika ingin menjadi pemahat terbaik, jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, fokuslah pada apa yang kamu kuasai maka kamu dapat menjadi seorang yang sukses,” ujar si pemahat.

Mendengar nasihat tersebut, pemuda itu menyadari bahwa wejangan dari sang pemahat dan orangtuanya memang menjadi pedoman kesuksesan. Walaupun ia adalah seorang yang dianggap bodoh dan terbelakang, dengan fokus dan kerja keras, ia akhirnya menjadi pemahat yang disegani di seluruh dunia.

Sebuah kisah yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, yang membuktikan bahwa tidak peduli seberapa kerasnya sebuah batu, tetesan air dapat menaklukannya.

Ini merupakan sebuah analogi dimana dunia ini penuh dengan ujian hidup yang begitu kerasnya, namun tetap dapat dikalahkan oleh tekad dan fokus perjuangan yang dilakukan. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Loading...
Registration