Selasa, 17 September 2019
Peristiwa - Daerah

Belum Dapat Perhatian, Empat Anak Yatim di Bondowoso Hidup Serba Kekurangan

Belum Dapat Perhatian, Empat Anak Yatim di Bondowoso Hidup Serba Kekurangan Alia (13 tahun, kiri), Alisa (9 tahun, dua dari kiri), Sifa (4 tahun, kanan), dan Dela (tengah), umurnya masih 22 bulan (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
Jum'at, 24 Mei 2019 - 18:35

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Empat anak yatim di Desa Gubrih RT 4 RW 1 Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso hidupnya memprihatinkan. Mereka sudah sekitar 9 bulan ayahnya meninggal. Sementara ibunya pergi merantau ke luar kota.

Bahkan yang nomor tiga dan si bungsu masih balita. Mereka adalah, Alia (13 tahun), Alisa (9 tahun), Sifa (4 tahun), dan Dela yang umurnya masih 22 bulan.

Saat Jurnalis TIMES Indonesia mendatangi tempat tinggalnya. Mereka hidup di sebuah rumah, yang depannya terbuat dari kayu seadanya. Sementara dindingnya dari anyaman bambu, yang sebagian sudah ada yang rusak.

Mereka tinggal bersama neneknya, Hanati (57 tahun). Hanati sendiri selain sebagai pengasuh tunggal empat yatim bersaudara tersebut, sekaligus juga sebagai tulang punggung, yang sehari-hari harus memenuhi kebutuhannya.

Hanati menturkan, bahwa mereka ditinggal pergi oleh ayahnya, saat si bungsu Dela masih berusia 13 bulan.

rumah-anak-yatim.jpg

“Ayahnya meninggal saat ini (Dela) masih disusui. Ibunya sebenarnya bekerja di perusahaan udang di Situbondo. Namun tidak mencukupi, akhirnya pergi ke Kalimantan, sudah tiga bulan,” kisahnya, sambil menenangkan cucunya yang masih balita.

Dia juga mengisahkan, bahwa untuk kebutuhan sehari-hari dia bekerja sebagai buruh tani. Mancari daun singkong ke hutan, untuk kemudian dijual ke pasar. Dia juga ngangon atau memelihara sapi milik tetangga.

Bahkan, Sifa dan Dela kadang-kadang juga dibawa mencari rumput ke ladang, karena kedua kakaknya kalau pagi harus sekolah.

“Saya sambil gendong Dela ini, saat mencari pakan sapi,” jelasnya, dengan menggunakan bahasa Madura.

Kalaupun ada pekerjaan yang tidak bisa membawa anak kecil, seperti jadi buruh tani. Maka dia titip Dela dan Sifa ke tetangga. Kadang-kadang kedua kakaknya memilih tak masuk sekolah, untuk menemani adik-adiknya.

Walaupun sudah sekuat tenaga, banting tulang. Dia mengaku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keempat cucunya. Apalagi yang pertama dan yang kedua sudah sekolah.

“Kalau tidak ada jajan mereka. Maka saya cari cara, bagaimanapun caranya, agar mereka bisa jajan dan bisa makan. Kadang upah saya tidak cukup untuk makan,” jelasnya sambil berusaha menutupi kesedihan di wajahnya.

Menurutnya, si Sulung Alia masih kelas 4 SD, sementara adiknya, Alisa, kelas 3 sekolah dasar.

“Kakaknya ini (menunjuk Alia dan Alisa), kadang-kadang tidak sekolah. Demi menemani adiknya yang masih kecil, saat saya bekerja,” dia lanjut bercerita.

Diakuinya juga, bahwa dirinya beserta keempat cucunya itu, belum pernah menerima bantuan apapun dari pihak berwenang. Baik dari desa maupun bantuan yang lain, seperti PKH atau seragam gratis.

“Dulu pernah dapat bantuan sekali. Karena ATMnya hilang, tak ada yang ngurusi, akhirnya tak dapat lagi hingga sekarang,” tuturnya.

Dia juga menuturkan, bahwa ibu dari keempat cucunya itu pernah menghubungi. Melalui handphone saudaranya, setelah tiga bulan di Kalimantan.

“Alhamdulilah ada yang pulang dari Kalimantan, dan berkirim uang. Semoga cukup untuk lebaran nanti,” harapnya.

Dia berharap, keempat cucunya yang yatim tersebut, bisa hidup layak. Mendapatkan pendidikan seperti anak-anak yang lain yang ada di desanya.

Tak berbeda dengan penuturan dari neneknya. Tetangga, Sucik juga menceritakan di sela-sela menemani Times Indonesia ke rumah empat anak yatim bersaudara tersebut. Kata Sucik, meski tua, neneknya itu sangat gigih untuk menafkahi keempat cucunya yang sudah yatim.

"Mau gimana lagi mas. Ibu dari empat anak yatim bersaudara itu harus bekerja ke luar, untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka di Bondowoso kan tidak punya lahan untuk bertani," kata perempuan yang masih punya hubungan famili tersebut. (*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Registration