Glutera News

Sapi dan Hobinya

Sapi dan Hobinya FOTO: Glutera
Kamis, 23 Mei 2019 - 16:17

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Suatu ketika ada seorang petani yang memiliki 2 ekor hewan pekerja yang menjadi pembantunya dalam mengelola ladangnya. Kedua hewan ini adalah sapi dan keledai. Kedua hewan ini merupakan hewan yang selalu diandalkannya untuk bekerja dari pagi sampai sore di ladangnya.

Suatu hari si sapi berkata kepada si keledai, “mari kita berpura-pura sakit hari ini supaya kita diberikan waktu istirahat yang lebih banyak”

Si keledai menjawab, “tidak mau, kita harus bekerja keras membantu tuan kita karena pekerjaan masih banyak dan waktu panen sudah dekat.”

Si sapi tertawa dan berkata “coba nanti kamu lihat, apa yang saya dapatkan dengan berpura-pura sakit.”

Melihat sapi yang sedang sakit, maka si petani menjadi kasihan dan menyediakan lebih banyak jerami dan rumput agar si sapi bisa makan lebih banyak dan segera sembuh.

Ketika si keledai pulang ke kandang dengan tubuh yang kotor setelah bekerja, maka si sapi tertawa lagi. Sapi lalu bertanya apakah ada yang dikatakan oleh petani tentang si sapi? Jawabnya “Tidak Ada”.

Si sapi ini terus berpura-pura sakit selama dua minggu lamanya. Si sapi begitu menikmati kebebasan dan waktu santai yang didapatnya saat ini. Sepertinya berpura-pura sakit sudah menjelma menjadi hobinya.

Di saat waktu panen tiba, si keledai bekerja lebih keras lagi karena tidak dibantu oleh si sapi.

Setelah selesai bekerja, si sapi bertanya lagi kepada keledai “apa yang dikatakan oleh petani?”

Sang keledai menjawab “sang petani memuji usaha keras saya dan memberikan hadiah untuk saya namun tadi saya melihat sang petani berbincang dengan seorang tukang jagal untuk menyembelihmu karena sudah sakit-sakitan.”

Moral dari cerita ini adalah tidak ada hadiah bagi orang yang memelihara kemalasan. Kemalasan yang menempel dalam diri seseorang akan membawa masalah ke dalam hidupnya.

Orang yang malas bekerja, dia akan senantiasa berhadapan dengan masalah finansial. Orang yang malas berinovasi, maka dia akan mudah digantikan oleh orang lain, orang yang malas berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya, akan menemukan masalah bahwa hidupnya tidak akan berubah dengan masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Setiap hari kita dihadapkan dengan begitu banyak tantangan dan halangan di dalam usaha dan pekerjaan kita. Ketika kita memelihara kemalasan, sesungguhnya itu adalah langkah yang paling efektif untuk membiarkan diri kita terus tenggelam.

Hidup ini bagai menaiki anak tangga eskalator yang berjalan turun. Untuk bisa bertahan di tempat sekarang, Anda harus memiliki kecepatan lari yang konstan mengimbangi kecepatan eskalator turun itu. Jika Anda diam saja, maka eskalator itu akan membawa Anda ke bawah. Maka untuk mencapai puncak, Anda perlu berlari lebih kencang dari kecepatan eskalator turun. (*)

Jurnalis :
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Loading...
Registration