Kamis, 19 September 2019
Kopi TIMES

Bodoh Tapi Dermawan

Bodoh Tapi Dermawan Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Kamis, 23 Mei 2019 - 09:45

TIMESINDONESIA, MALANG – ADA kalimat menarik dalam kitab Nasoihul 'Ibad yang ditulis Syeh Imam Nawawi Al Bantani: Bahwa orang bodoh tapi dermawan itu masih lebih baik dari orang yang pintar, akan tetapi bakhil. Begitu para ulama menggambarkan kondisi orang yang tidak mau berbagi.

Kenapa demikian? Orang yang  dermawan itu mampu memberikan kemanfaatan lebih bagi kehidupan orang lain yang lebih lemah. Mereka mampu memberikan air pada saat yang lain lagi dahaga. Yang lemah bisa menjadi lebih kuat, yang susah menjadi lebih bahagia, yang kesulitan bisa terkurangi bebannya, dan berbagai hal baik lainnya yang tercipta.

Dengan kedermawanan kehidupan menjadi terasa lebih indah, karena semua bisa merasa lebih bahagia. Begitu juga beban berat yang dipikul akan dapat dikurangi, karena bisa diselesaikan secara bersama.
Kedermawanan juga bisa menguatkan perekonomian dan bahkan juga bisa menumbuhkan wirausaha baru.

Atas kedermawanan orang yang bisa jadi bodoh, bisa menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Usaha yang dilakukan masyarakat bisa lebih kuat modalnya, sehingga pertumbuhannya bisa dipercepat. 

Dalam sebuah rilis penelitian, lambatnya perkembangan industri kecil rumah tangga dan industri kecil menengah karena sebagian besar masih mengandalkan modal sendiri. Dengan tambahan modal, pertumbuhannya bisa lebih dipacu agar menjadi lebih dinamis.

Bagi masyarakat kecil, bantuan dari dermawan juga bisa memicu tumbuhnya wirausaha baru yang kedepannya bisa menjadi kekuatan baru dalam perekonomian. Hal lain, atas kedermawanan ini, daya beli masyarakat juga bisa lebih kuat, sehingga putaran ekonomi menjadi lebih besar.

Berbeda dengan yang berilmu tapi bakhil. Ilmu yang dimiliki tidak akan berarti, karena bakhil tidak bisa memberikan kemanfaatan apapun kepada masyarakat. Rasulullah saw memberikan peringatan kepada orang yang bakhil ilmu dengan mengibaratkan "bagai pohon yang tidak berbuah". Saat hidup, pohon yang tidak berbuah hanya memberikan kemanfaatan kecil.

Kemanfaatan lebih baru bisa diberikan saat pohon tersebut ditebang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beda dengan pohon yang berbuah. Saat hidup memberikan kemanfaatan berupa buah yang bisa dipanen, dikonsumsi, dan menyehatkan. 

Begitu juga saat pohon tersebut mati, ternyata juga masih memberikan kemanfaatan lain bagi ummat manusia.
Oleh karena itu, masih dalam kitab Nasoihul'Ibad disebutkan bahwa dengan kedermawanan bisa menjadikan lebih dekat kepada Allah SWT, sekaligus juga dekat dengan sesama manusia. Hampir tidak ada orang yang tidak senang kepada orang yang dermawan. 

Orang yang dermawan menurut kitab tersebut juga disebutkan akan disayang ng oleh Allah SWT dan sekaligus dijauhkan dari api neraka. Sebaliknya orang yang bakhil akan menjadikan lebih jauh dari Allah SWT dan sesama manusia. 

Hal ini bisa menjadikan hubungan dengan Allah SWT (hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas) menjadi kurang baik. Sungguh Allah SWT memberikan banyak kemuliaan kepada orang yang dermawan. Kalau sudah demikian, kenapa mesti berat menjadi dermawan?. (*)

*Penulis, Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Noor Shodiq Askandar (CR-057)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration