Senin, 16 September 2019
Peristiwa - Daerah

Kiai-Habaib Doakan Bangsa di Masjid Agung Sunan Ampel

Kiai-Habaib Doakan Bangsa di Masjid Agung Sunan Ampel Guru Tarekat Tijani Malang, KH Abdullah Muchith.
Rabu, 22 Mei 2019 - 18:03

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Sejumlah ulama, habaib dan umat Islam dari berbagai daerah berkumpul di Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya untuk memperingati Nuzulul Quran dan juga mendoakan bangsa yang tengah memanas akibat penolakan hasil pekilu 2019 Selasa (21/5) malam hingga Rabu (22/5).

"Mari kita kembalikan kepada Allah. Lewat tempat yang mulia ini, peninggalan Sunan Ampel, kita memohon agar bangsa Indonesia jangan sampai dibawa berlarut-larut dalam situasi kesusahan," ajak Guru Tarekat Tijani Malang, KH Abdullah Muchith.

Menurutnya, situasi politik yang panas seperti sekarang, harus disambung dengan dzikir dan doa agar bangsa Indonesia diselamatkan Allah Swt.

"Lewat dzikir, kita memohon supaya bangsa Indonesia segera dikendalikan oleh Allah Swt. Supaya bangsa Indonesia bisa maslahat dan makmur, sebagaimana amanat Undang-undang Dasar 1945," kata Kiai pendiri Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM)

"Kalau diteruskan dan sampai menderitakan, kasihan umat. Kita harus benar-benar minta kepada Allah, agar jangan sampai ada kejadian yang tidak disenangkan bersama oleh bangsa ini. Makanya saya ajak dzikir kepada Allah," tambah kiai karismatik ini

Jiwa Alqur'an

Sementara ulama kharismatik asal Lasem, Jawa Tengah, KH Abdul Qoyyum Mansur mengingatkan umat Islam, lebih-lebih penguasa, agar memiliki spirit dan jiwa Alqur'an.

"Dengan spiritual Alqur'an, maka akan menjadi orang yang punya arah lebih baik, meskipun dia punya otoritas, punya wewenang," kata kiai yang akrab disapa Gus Qoyyum itu dalam ceramahnya.

Kalau dalam diri sudah tertanam jiwa Alqur'an, sambung Gus Qoyyum, maka akan berpikir bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini. Selain itu, berpikir sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.

"Semua manusia harus berpikir sebelum dan sesudah tapi tetap sesuai dengan nilai-nilai Alqur'an, karena Alqur'an adalah sumber hidayah dan tidak mungkin salah," terlebih.

Terlebih di zaman gersang spiritual seperti sekarang. Maka, tandas Gus Qoyyum, spiritual harus ditingkatkan, baik dalam kehidupan pribadinya, bermasyarakat, berorganisasi maupun bernegara.

"Wali saja dibagi menjadi macam-macam. Ada waliyurrahman, kekasih Allah. Ada waliyusyaithon, kekasih setan. Ada lagi yang ketiga, waliyusulton, kekasih penguasa, tapi bukan kekasih Allah," jelasnya di Masjid Agung Sunan Ampel. (*)

Jurnalis : Nasrullah
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration