Minggu, 22 September 2019
Kopi TIMES

Kenapa Mesti Berat Bersedekah

Kenapa Mesti Berat Bersedekah Noor Shodiq Askandar
Senin, 20 Mei 2019 - 12:02

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sedekah berasal dari bahasa Arab sodaqoh yang artinya adalah pemberian. Jika dimakanai dalam kehidupan, sedekah dapat berate pemberian kepada sesama dengan kerelaan dan keihlasan tanpa batas waktu dan jumlah. Ini tentu beda dengan zakat yang sudah ditentukan nisab dan tarifnya. Apa saja boleh diberikan, walaupun itu hanya berupa senyuman.

Namun demikian, terkadang memberikan sedekah itu terasa berat kalau tidak segera dimulai. Apalagi jika tidak dibiasakan, akan terasa membebani. Terdapat beberapa sebab beratnya sedekah dilakukan.

Pertama, kecintaan terhadap hal yang bersifat duniawi dan perhiasan yang sering kali berlebihan. Memang manusia itu diciptakan dan ditaqdirkan senang terhadap lain jenis, perhiasan, dan lain sebagainya (zuyyina linnasi hubbussyahawati minan nisa’ wal qonatiri……..dst). Akan tetapi jika berlebihan , tentu tidak baik. Harta bukan untuk dikuasai terus menerus untuk diri sendiri, karena bukan hak mutlak perorangan. Ada hak orang lain yang melekat. Harta juga tidak akan dibawa mati dan justru yang disedekahkan itulah yang menjadi milik kita sesungguhnya dan akan dibawa sampai ke akhirat.

Kedua, nafsu ingin kaya yang seringkali membuat manusia enggan berbagi. Setiap hari hanya berusaha unuk menumpuk kekayaan, tetapi tidak dibarengi dengan semangat berbagi kepada sesama. Segalanya kemudian menjadi sangat materialistis. Semua diperhitungkan dengan angka angka pertambahan, dan minim pengurangan apalagi pembagian. Nafsu ini yang membuat manusia terus merasa tidak cukup dan merasa serba kurang. Padahal yang membuat serasa kurang itu lebih karena keingainan manusia yang tidak terbatas.

Ketiga, perasaan takut miskin jika sebagian harta diberikan untuk meringankan beban yang lain. Padahal Islam mengajarkan bahwa dengan sedekah, harta tidak akan berkurang. Bahkan cdengan sedekah, harta menjadi lebih berkah. Keihatannya sedikit, akan tetapi manfaatnya meningkat tanpa disangka sangka dan tidak dapat diperhitungkan secara matematis.

Keempat, rasa pertanggungjawaban yang kurang atas harta. Harta kekayaan yang kita miliki sejatinya hanyalah amanat yang diberikan oleh Allah swt untuk kemudian didistribusikan sesuai ajaran Islam. Distribusi tersebut dalam zakat, infaq, dan sedekah yang dalam bahasa sekarang disebut Corporate Social Responsibility (CSR).

Bersedekah adalah upaya membangun hubungan yang lebih baik antar sesame manusia. Yang kaya membantu yang miskin, sehingga kesenjangan dapat dikurangi.  Saling membantu dan saling memberikan manfaat untuk hidup yang lebih bermartabat. (*)

 

*Penulis, Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration