Kopi TIMES

Barokah Sabar dan Ngempet

Barokah Sabar dan Ngempet Moh Syaeful Bahar.
Senin, 20 Mei 2019 - 10:35

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tulisan ini tidak ada kaitan langsung dengan konstelasi politik tanah air, saya sedang tidak ingin menulis hiruk-pikuk politik yang semakin hari semakin memanas. Saya mencoba sabar untuk ngempet (menahan diri), tidak akan memberikan tanggapan atas apa yang saya dengar dan saya lihat terkait politik. Meskipun, apa yang akan saya tulis, juga merupakan sebuah keprihatinan karena latar belakang politik.

Pesantren Tempat Belajar Tentang Akhlaq dan Perjuangan

Di pesantren, di tempat dulu saya belajar, kiai seringkali mengingatkan pentingnya akhlaq. Pentingnya karakter moral, bahkan, di pesantren, posisi akhlaq lebih penting kedudukannya dibandingkan ilmu. Kiai juga mencontohkan, bukan saja mengajarkan dalam bentuk ucapan dan dalam bentuk kajian, tapi juga mempraktikkan, dalam kehidupan dan keseharian. 

Praktik akhlaq yang sangat mulia. Misal, KH Zuhri Zaini, salah seorang guru saya di PP. Nurul Jadid, beliau tak segan-segan menghaturkan sendiri minuman dan makanan bagi para tamunya. Menuang teh atau kopi ke dalam gelas para tamu, atau membukan tutup stoples tempat kue-kue disuguhkan. 

Beliau duduk bersila, sejajar dengan para tamu yang datang menghadap beliau. Beliau juga menemui semua tamu tanpa pembeda, semua diperlakukan sama, antara tamu yang masuk kategori elit di masyarakat, hingga tamu rakyat jelata yang datang dari desa-desa.

Tutur katanya santun, sejuk dan terkesan tak menggurui. Beliau tak pernah menyalahkan. Jangankan pada orang lain, pada para santrinya saja, beliau tak pernah secara vulgar menyalahkan. Pilihan kata yang biasa beliau pakai, adalah pola (mungkin). "pola sae engak nikah" (mungkin lebih baik begini), itu bahasa yang selalu beliau pakai jika ada santri yang dianggap bersikap kurang bijak. Sama sekali tidak ada kesan menyalahkan, marah dan menghardik. Begitulah akhlaq kiai, kiai kami di pesantren.

Apa yang beliau-beliau ajarkan, adalah apa yang beliau contohkan. Ini kata kunci kedua, setelah akhlaq tadi. 

Para kiai itu benar-benar guru, sosok yang digugu lan ditiru, begitu falsafah Jawa mengatakan. Sosok yang dipercaya dan dapat membuktikan memang pantas dipercaya. Karena apa yang diajarkan, terlebih dahulu beliau contohkan, beliau praktikkan. Sehingga, kami, para muridnya, tidak hanya sekadar mengagumi keilmuannya, namun memercainya, lahir dan batin. Kami percaya bahwa kesuksesan, keberhasilan dan prestasi kami, para santrinya, di dunia maupun akhirat, sangat tergantung dari untaian doa para kiai kami di pesantren. 

Ketiga, mereka, para kiai, tidak sekadar berakhlaq mulia dan sosok yang pandai memberi tauladan, tapi mereka juga para orang pilihan yang pandai bersabar dan ngempet (menahan diri). Ini juga kata kunci utama keberhasilan dakwah dan pendidikan ala kiai di pesantren. 

Para kiai itu, bersabar di jalan dakwah. Mereka bersabar membimbing santri dan ummat, serta mereka juga sangat pandai ngempet (menahan diri). Para kiai itu tak mudah terpancing emosi, tak mudah mereaksi jika tak benar-benar memiliki bukti, tak mudah memberi instruksi jika keadaan tak benar-benar perlu koreksi. 

Semua apa yang dilakukan, dikaitkan dengan satu semangat perjuangan. Perjuangan melindungi dan membela kemanusian agar tak lepas dari ikatan ketuhanan. Membela kemanusiaan agar tak termakan nafsu syetan. Bahkan, KH Zaini Mun'im, pendiri PP. Nurul Jadid, orang tua dari KH Zuhri Zaini, berpesan, bahwa semua santri Nurul Jadid wajib berjuang di tengah-tengah masyarakat. 

Berjuang demi kebaikan orang banyak, bukan kebaikan dan prestasi individual. Tapi kebaikan dan prestasi rakyat banyak, kebaikan dan prestasi untuk masyarakat. Begitu pesan yang dijiwai oleh semua santri PP. Nurul Jadid, berjuang. Tak berjuang, sama artinya dengan maksiat, perbuatan dosa yang harus dipertanggungjawabkan. Maka, berjuang adalah wajib. Fardhu Ain hukumnya, kewajiban individual.

Akhlaq Menjadi Barang Langka, 
Perjuangan Palsu Belaka.

Karena politik, karena kepentingan, bermunculan para "tokoh agama" yang tak lagi mengindahkan ahklaq sebagai parameter tingkah lakunya. Mereka menjadi buas, bringas, mengumbar kata-kata culas dan pedas. Semua larangan agama tentang ghibah (membicarakan keburukan orang lain), fitnah (menuduh tanpa dasar bukti) namimah (mengadu domba) dan memberi laqab (panggilan) buruk pada orang lain, dilanggar. Padahal jelas, semua itu adalah larangan tuhan, jelas termaktub dalam al Qur'an. Namun, demi nafsu kekuasaan, semua menjadi hilang, tak bernilai, sekedar tulisan dan larangan dalam al Qur'an.

Di panggung-panggung kampanye, di media-media sosial, mereka, para tokoh agama ini, ikut menebar kebencian, layaknya para politisi yang sedang berebut kekuasaan. Menyisir para simpatisan yang fanatik tanpa ilmu pengetahuan. Mereka nyinyir, memproduksi hoax dan ujaran kebencian, terus memprovokasi rakyat dengan dalil agama yang memukau, seakan merekalah pemilik kebenaran mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Apalagi, dipermanis dengan jubah kebesaran, seakan benar-benar mewakili kebenaran tuhan.

Mereka tak lagi mengindahkan akhlaq sebagai prasyarat kebaikan dalam dakwah menyampaikan kebenaran. Dakwah tak lagi sejuk dan menyenangkan, tapi berubah menjadi sangar dan menakutkan. Islam tak lagi ramah tapi berubah wajah menjadi amarah. Ajaran nabi tak lagi merangkul, tapi menjadi memukul. Ajaran para sahabat yang menyantuni dan mengayomi berubah menjadi bringas penuh caci maki.

Para tokoh agama yang garang ini, sedang laku dijual. Sedang tokoh agama yang lemah lembut, sedang dirundung habis-habisan. Para tokoh agama yang sesuai dengan kepentingannya, dibela dan diberi gelar ulama, sedang tokoh agama yang tak sepaham, dihajar dan diberi predikat pengkhianat ummat.

Akhlaq menjadi barang langka. Dakwah dengan kekerasan lebih diminati. Dianggap lebih jelas ke Islamannya, dibanding mereka yang berdakwah dengan lemah lembut. Dakwah dengan cara lemah lembut dianggap munafik, tak jelas arah perjuangannya pada Islam. Dianggap lemah dihadapan musuh Islam. 

Benarkah begitu? Saya kira tidak. Saya kira kesimpulan yang salah besar jika menganggap dakwah dengan lemah lembut adalah sebuah kemunafikan dan kelemahan. Karena, menurut saya, seharusnya dakwah memang lemah lembut dalam koridor kesantunan, karena begitulah Rasullullah saw mengajarkan. 

Belajarlah Pada Rasulullah SAW!

Rasulullah saw mengajarkan dakwah yang efektif. Caranya, sama dengan cara dakwah para kiai di pesantren. Karena para kiai benar-benar berpegang pada manhaj (metode) Rasulullah saw. Akhlaq menjadi landasan dakwahnya. Rasulullah saw tidak hanya sempurna menjaga hubungan dengan Allah swt, tapi juga sempurna berhubungan dengan sesama makhluk Allah swt. Itulah akhlaq. Sempurna berhubungan dengan sesama makhluk Allah karena alasan demi Allah swt semata.

Rasulullah saw tak pernah mencela, tak pernah menghardik. Jikapun Rasulullah saw harus marah, marahnya bukan ditujukan pada individu pelaku kejahatan, tapi marahnya ditujukan kepada prilaku kejahatannya. Rasulullah SAW tetap sekuat tenaga berupaya agar individu, atau pelaku kejahatan mendapatkan pintu hidayah.

Itulah dakwah. Mengajak dan mendoakan agar seseorang atau satu kaum menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, mendoakan dan mendorong-dorong orang atau satu kaum semakin jauh dari pintu hidayah, dan akhirnya masuk neraka. Itu bukan dakwah, itu adalah nafsu, nafsu syetan. Karena cita-cita terbesar syetan adalah menjerumuskan ummat Nabi Muhammad saw ke dalam neraka.

Rasulullah saw juga sangat pandai mengelola sabar dan ngempet. Karena sabar dan prilaku ngempet ini, dakwah Rasulullah saw sukses menjalankan misi dakwah Islam meskipun relatif singkat waktunya. Rasulullah saw tak cepat melaknat seseorang yang nyata-nyata memusuhi dirinya serta Islam, bahkan beliau mendoakan agar orang tersebut mendapat hidayah dan menjadi pembela Islam. Sebutlah, Umar bin Khattab dan Khalid Bin Walid. Dua preman di jaman Jahiliyah, dua pendekar pilih tanding yang memusuhi Islam. Mereka berdua ditakuti oleh orang-orang Islam sebelum akhirnya mendapat hidayah Allah dan memeluk Islam. 

Rasulullah saw juga tak segera mendoakan buruk dan melaknat para musuh Islam yang sulit diajak ke jalan Islam. Rasulullah saw tetap mendoakan. Sekalipun pintu hidayah tidak untuk mereka, tapi Rasulullah saw tetap berharap anak dan keturunan mereka kelak ada yang menjadi pengikut dan pembela Islam. 

Misal, sabar dan ngempetnya Rasulullah saw menghadapi fitnah dan hoax serta adu domba yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay, seorang tokoh munafik di Madinah. Bahkan, ketika Abdullah bin Ubay meninggal, jubah Rasulullah SAW diserahkan sebagai kain kafannya. Sungguh perilaku yang penuh kesabaran dan ngempet. Hasilnya, ribuan orang yang sesuku dengan Abdullah bin Ubay masuk dan menjadi pembela Islam. Putra Abdullah bin Ubay, yaitu Abdullah bin Abdullah bin Ubay akhirnya menjadi salah seorang sahabat yang terkenal soleh dan alim.

Itulah berkah sabar dan ngempet. Sudah terbukti. Berhasil. Bagaimana dengan dakwah dengan cara marah-marah, caci maki dan penuh kebencian? Saya belum pernah menemukan cerita suksesnya. (*)

 

*Penulis, Moh Syaeful Bahar, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Pengurus PCNU Bondowoso.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Loading...
Registration