Minggu, 15 September 2019
Ketahanan Informasi

Derita Warga Tambakrejo Setelah Normalisasi Sungai, Lazismu Buka Donasi

Derita Warga Tambakrejo Setelah Normalisasi Sungai, Lazismu Buka Donasi Suasana Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang yang dibersihkan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana untuk normalisasi aliran sungai Banjir Kanal Timur. (FOTO: Muhammad Hasan/TIMES Indonesia)
Minggu, 19 Mei 2019 - 19:01

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Pada Puasa Ramadhan 1440 Hijriah, amil Lazismu Muhammadiyah berkesempatan mengunjungi Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang, Kamis (16/5/2019). Dalam kunjungan ini, Lazismu bersama satu tim kesehatan dari RS Roemani yang terdiri dari dokter dan apoteker lengkap dengan bekal obat-obatan. 

Kampung Tambakrejo berdekatan Jalan Yos Sudarso atau yang lebih dikenal dengan Jalan Raya Pantura, tak jauh dari Kampung Tambak Lorok. Kampung yang berada di wilayah bantaran sungai Banjir Kanal Timur ini ditempati warga sebanyak 40 kepala keluarga sejak 1989. Bahkan mendapatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), resmi sebagai warga Semarang.

Iklan-Times1440.gif

Seorang amil Lazismu Semarang, Hasan mengatakan, di lokasi kampung dilaksanakan pembersihan oleh otoritas sungai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, untuk normalisasi aliran sungai Banjir Kanal Timur.

Informasinya, Pemerintah Kota Semarang sudah menyediakan lokasi pemukiman baru bagi warga di Rusun Kudu, yang berjarak sekitar 20 km dari lokasi sekarang. Namun, warga menolak karena sumber penghasilan mereka sebagian besar diperoleh dengan melaut sebagai nelayan.

Berdasarkan penulsuran Lazismu, dari hasil pertemuan warga dengan Pemkot pada Minggu (12/5/2019) disepakati akan dibangun rusun di Kalimati, masih di lokasi yang bersebelahan dan tidak terkena proyek normalisasi sungai. Sementara waktu warga harus menunggu dibangun rusun yang direncanakan pada 2020.

Lazismu-Donasi-2.jpg

Warga tetap akan tinggal di lokasi itu dan dibuatkan huntara. Pembangunan huntara yang akan dilakukan, diperkirakan memakan waktu 5 minggu. Selama itu mereka tinggal di tenda-tenda darurat.

Tidak ada listrik, tidak ada MCK dan air pun harus disuplai menggunakan mobil tangki. Tidak ada dapur umum sederhana yang digunakan bersama untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Dengan kenyataan itu, Lazismu tergerak untuk ikut meringankan penderitaan mereka. Lazismu membuka donasi karena warga setempat membutuhkan beberapa kebutuhan.

“Yang dibutuhkan warga seperti bahan makanan pokok, seragam sekolah, peralatan sekolah, MCK portable dan layanan pemulihan psikologis. Bagi masyarakat yang ingin membantu dapat menghubungi Lazismu Semarang,” kata Hasan. (*)

Jurnalis : Muhammad Hasan (CR-136)
Editor : AJP-11 Editor Team
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration