Senin, 16 September 2019
Gaya Hidup

Warga Bali di Australia Pelihara Tradisi Telubulanan, Begini Kesakralannya

Warga Bali di Australia Pelihara Tradisi Telubulanan, Begini Kesakralannya Suasana Telubulanan keluarga I Wayan Kardi di Sydney, Australia. (foto: balinese community NSW)
Minggu, 19 Mei 2019 - 18:35

TIMESINDONESIA, SYDNEY – Meski berada di rantau, namun warga Bali di Australia, tak pernah melupakan budaya, seni, dan kegiatan spiritual. Salah satunya tradisi Telubulanan.

Ya, sebagai masyarakat yang dikenal memiliki banyak budaya, Bali yang masyarakatnya beragama Hindu itu selalu memelihara ragam budaya leluhur. Itu sebagai bagian dari keyakinannya menjalankan ajaran yang mereka yakini.

Telubulanan-2.jpg

Salah satu kegiatan itu adalah Upacara Telubulanan atau Tiga Bulanan memperingati kehalahiran seorang bayi. Dalam budaya Bali upacara itu disebut Nelubulanin atau Nyambutin. Praktis, meskipun mereka sedang di negeri rantau, mereka tetap melaksanakan upacara tersebut.

Seperti yang dilakukan pasangan suami istri I Wayan Kardi dan Nyoman Titin Karlina yang tinggal di Sydney, New South Wales, Australia. Mereka menggelar Nelubulanin untuk  putranya I Ketut Wirajaya Kusuma Kardi yang pada Jumat, 17 Mei 2019 yang genap berusia 105 hari.

Upacara digelar di kediamanya di Godfrey St. Penhurst dipimpin langsung oleh pemuka Agama Hindu, Ida Pandita, Mpu Daksa Charya Manuaba. Pendeta Hindu tersebut didatangkan dari Bali.

I Wayan Kardi kepada TIMES Australia (TIMES Indonesia Network) mengatakan, upacara Nelubulanin yang dilaksanakan bagi putranya ini merupakan upacara sebagai ucapan syukur atas karunia Tuhan, Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan seorang anak di keluarga mereka.

Sebagai umat Hindu Bali, meskipun sedang tidak tanggal di Bali, tetap berusaha dia lakukan. “Ini bagian dari ajaran agama dan budaya masyarakat Hind Bali, sebagai wujud rasa syukur dan berharap anak kami kelak selalu sehat, menjadi anak pintar, berbudi luhur, dan  suputra, yakni selalu berbakti kepada orang tua serta bijak dalam kehidupanya. Memberi cahaya bagi keluarga dan handai taulan," papar I Wayan Kardi.

Upacara Nelubulanin atau upacara Tiga Bulanan dilakukan masyarakat Hindu di Bali untuk merayakan hari kelahiran seorang bayi yang baru berumur 105 hari atau tiga bulan, hal tersebut dihitung sesuai dengan kalender Bali, yakni 105 hari (1 bulan kalender Bali = 35) hari. 

Telubulanan-3.jpg

Ida Pandita Daksa Mpu Charya yang memimpin upacara menjelaskan, Telubulanan ini adalah menyambut kedatangan Atman atau ruh pada proses  reikarnasi yaitu  turun kembali ke dalam si jabang bayi. 

“Di Bali dipercaya kalau baru lahir itu di asuh oleh Bajang-bajang di serahkan  melalui proses estafet kepada Sang Hyang Kumara pengasuh anak-anak. Upacara ini penanda estafet dari dari Bajang-bajang ke Sang Hyang Kumara, dimana si bayi berumur 105 hari,” jelasnya.

Ida Pandita Daksa Charya Manuaba yang  memiliki nama Prof Doktor I Nyoman Sutjipta,  dosen di Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini menambahkan, proses estafet berikutnya akan terjadi bila anak sudah menginjak umur akil baligh, bila perempuan di tandai dengan menstruasi sedang untuk laki-laki ditandai adanya perubahan suara. 

Penyerahan  asuh perempuan kepada Semara Ratih dan laki-laki kepada Semara Jaya. “Khusus untuk tigabulanan ini pada intinya penyucian ruh yang baru datang. Diawali dengan memetik atau pembersihan badan dengan berbagai sarana ,  air kelapa, dan janur kuning.  Juga dengan  dilakukan pembersihan atau Lukatan dengan air suci. Siraman itu disebut Parayah Cita dan Baye Kawonan. Menghilangkan karma negatif, tirta pangulapan,” tandasnya didampingi istrinya, Ida Pramashiwa Manuaba.

Ketua Komunitas Balinese Community New South Wales, Nyoman Budi, menambahkan, upacara Telubulanan ini baru pertama kali dilakukan warga Bali di Australia sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan  upaya mempertahankan kultur adat. (*)

Jurnalis : Riyanto
Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration