Ekonomi

BPS: Bulan April 2019, Nilai Ekspor Industri Pengolahan Turun Drastis 

BPS: Bulan April 2019, Nilai Ekspor Industri Pengolahan Turun Drastis  Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti mengemukakan, nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup dalam pada April 2019. Di Gedung Kemenko perekonomian. (Foto: Edi Junaidi ds/TIMES Indonesia)
Jum'at, 17 Mei 2019 - 22:52

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti mengemukakan, nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup dalam pada April 2019. Secara year on year, nilainya turun hingga 11,82 persen.

Menurut Rusanti, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD 2,5 miliar pada April 2019. Penurunan ekspor produk industri pengolahan disinyalir ikut menjadi pemicu defisit neraca perdagangan ini.

Pertumbuhan negatif industri pengolahan berdampak menurunkan nilai ekspor pada April hingga 13,10 persen secara year on year.

"Ini membuat pertumbuhan ekspor secara keseluruhan pun sulit terangkat dan tercatat negatif hingga 13,10 persen secara year on year. Ada hubungannya langsung atau nggak, kita nggak meneliti sejauh itu. Tapi, kemungkinan bisa jadi,” ujar dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jum'at (17/5/2019).

Dia menegaskan, bahwa ekspor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar yang membentuk total nilai ekspor Indonesia. Porsinya pada April kemarin mencapai 74,77 persen dari total ekspor pada bulan yang sama. Nilainya berada di angka USD 9,42 miliar.

Sedangkan, perhiasan menjadi produk industri yang mengalami penurunan ekspor paling tajam periode yang sama. Nilai ekspor perhiasan turun hingga USD 339,2 juta pada bulan lalu.

Yunita juga menjelaskan, impor sebenarnya tidak bertumbuh signifikan. Bahkan jika membandingkan nilainya secara tahun, terjadi penurunan.

“Kalau yang impor kalau dibandingkan dengan tahun lalu, sampai dengan April ini lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Nilai-nilainya lebih rendah. Saya bicara total impor,” papar dia.

Tercatat impor secara tahunan turun 7,24 persen, dari posisinya di angka USD 60,12 miliar pada periode Januari-April 2018 menjadi USD 55,77 miliar pada periode yang sama tahun ini.  Sebagian besar impor pun tercatat berupa bahan baku dan penolong sebesar 75,09 persen.

Sementara itu, menurutu data BPS, besaran nilai bahan modal mencapai 16,30 persen dari total impor. Serta kontribusi barang konsumsi sebesar 8,61 persen. Kontribusi impor barang konsumsi ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,06 persen. (*)

Jurnalis : Edy Junaedi Ds (MG-57)
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Loading...
Registration