Senin, 16 September 2019
Peristiwa - Daerah

Jaringan Satu Indonesia Menolak Keras Gerakan People Power

Jaringan Satu Indonesia Menolak Keras Gerakan People Power Ilustrasi/Net
Kamis, 16 Mei 2019 - 13:47

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Presiden Jaringan Satu Indonesia, Abdul Qodir alias Adeng mengajak masyarakat supaya berpikir rasional dan tidak mudah terpancing dengan gertakan isu people power  jelang penetapan hasil Pemilu 2019.  Menurutnya, masyarakat sudah cerdas menilai demokrasi dan memiliki kemerdekaan berpikir.  Bahkan, menurutnya, masyarakat bisa bergerak tanpa digerakkan.

“Kalau cinta NKRI tentunya tidak perlu ada gerakan people power. Gerakan yang berbasis pada emosi kekalahan pilpres akan berdampak pada rakyat itu sendiri. Rakyat akan jadi korban para elit tertentu,” tegas Adeng saat ditemui TIMES Indonesia, Rabu (16/5/2019).

Oleh karenanya, Adeng mengatakan jika diyakini memiliki bukti kuat atas kecurangan Pemilu, satu-satunya jalur yang digunakan adalah langkah hukum sebagaimana dalam konstitusi. Tindakan seperti itu (people power), lebih identik dengan kepribadian egois yang bertedung di payung kata ‘cinta NKRI’ dan ‘bela agama’.

“Itu bukan cinta. Cinta NKRI dan agama tidak bisa dimaknai dengan pola pikir bahwa Indonesia akan adil dan makmur apabila dipimpin oleh kelompoknya sendiri. Gitu aja ngambek, mokong, tuduh curang,” ujar pria kelahiran Probolinggo itu.

Ia juga menambahkan bahwa segala keputusan dari KPU harus dihormati. Oleh sebab itu masyarakat perlu mendorong dan support kerja KPU. “Kami dari Jaringan Satu Indonesia (JSI) menolak tegas gerakan people power dan menghormati keputusan KPU selaku pihak yang berwewenang mengumumkan hasil pemilu,” tambahnya.

Pada prinsipnya, Ia menegaskan bahwa kepentingan bangsa ini adalah pilihan prioritas. Persatuan bangsa jauh lebih penting daripada segalanya. “Semangat demokrasi dan langkah politik yang dibawa seharusnya adalah spirit kebangsaan, bukan ambisi elektoral,” tutupnya.

Sebagai informasi, pengumuman resmi hasil Pemilu 2019 dari KPU RI akan diumumkan pada 22 Mei 2019 mendatang. (*)

Jurnalis : Mohammad Naufal Ardiansyah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration