Kopi TIMES

Menimba Hikmah Ramadhan

Menimba Hikmah Ramadhan Suaeb Qury, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB 2010-2014. (Grafis: TIMES Indonesia)
Selasa, 14 Mei 2019 - 19:48

TIMESINDONESIA, MATARAM – Ditengah kehidupan yang serba instan dan serba online terasa hidup ini semakin dipacu oleh waktu dan jarak yang semakin dekat dengan dunia nyata. Tradisi pun, bisa jadi akan menghilang, jika teknologi terus menjadi orentasi yang utama. Cerita- cerita kehidupan solidaritas sosial masyarakat yang dulunya masih saling mengirim dan mengajak buka bersama saat puasa Ramadhan sudah semakin berkurang, tanpa ada muatan sosial politik. Dan ini penyakit yang terjadi khususnya di masyarakat perkotaan. 

Namun, menjadi modal yang positif  juga bilamana memanfaatkan teknologi di bulan ramadhan sebagai media untuk mengambil banyaknya hikmah ramadhan, jika diaktualisasikan dalam kenyataan-kenyataan yang secara langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan kebutuhan masyatakat kota yang serba instan yang berakibat semakin menjauhkan diri dari kebiasaan yang dulu bisa saling tegur sapa secara langsung, tukar dan mengirim makan berbuka antar tetangga.


Tapi bagi masyarakat desa, tradisi ramadhan seperti saling tukar makan dan membagikan ke tentangga masih tetap berjalan. Dan inilah yang disebut dalam kaedah ushul fiqih "tradisi dan kebaikan  lama yang dianggap masih baik, tetap di pertahankan dan begitu juga dengan  sesuatu yang baru dianggap baik bisa diambil’’.

Jika kebaikan yang lebih dominan di tonjolkan dalam kehidupan sehari-hari, maka capaian hikmah ramadhan sebagai  Golden month of year sudah pasti didapat, bahkan bisa  direbut, sebab hanya  datang dalam bulan yang penuh keistimewahan yakni Ramadhan.

Memanfaatkan semaksimal  mungkin mengambil kebaikan baik secara pribadi maupun untuk semua orang. Dapat dilakukan pada bulan ramadhan dan tentu, bisa menjadi pembelajaran social humanity bagi kehidupan di kota. Sebab untuk mengambil hikmah ramadhan bagi masyarakat kota, sangat  mudah, walaupun terasa jauh dibandingkan dengan hidup di desa.  

Akan tetapi, disitu juga fungsi media sosial yang semakin cangkih menghadirkan suasana ramdhan yang cukup beda bagi masyrakat kota. Dimana  ruang perjumpaan sangat mudah, jika kebanyakan dimanfaatkan untuk komunikasi ilmu dan membagi kebahagiaan. Untuk itu, mengambil bagian dari banyaknya hikmah ramdhan bagi umat Islam di Kota harus dimulai dari:

Pertama, belajar dari apa yang  tetap terjaga dan dibangun dari tradisi masyarakat desa yakni tali silaturahmi di bulan ramadhan yang tetap berjalan dan terasa diman-mana, ada di forum majelis pengajian, tadarrusan di masjid dan   mushola serta langgar. Tentu berbeda jauh dengan suasa Kota yang mengisi malamnya dengan asyiknya mendengar musik, di berbagai tempat-tempat tongkrongan, cafe dan kedai.

Kedua, berbagi untuk sesama, bagi masyarakat perkotaan sudah mulai ramai disudut kota, dapat dijumpai kelompok sosial keagamaan, organisasi sosial melakukan kegiatan buka bersama dan membagikan takjil debagai wujud kepedulian.

Ketiga, ramadhan juga merupakan bulan evaluasi setiap amal yang kita pernah lalui. Sebagai bulan dimana kita harus penuh mawas diri, menambahkan kebaikan yang kurang,  serta meminimalisir keburukan yang telah kita perbuat. Dari banyaknya hikmah ramadhan yang bisa di ambil adalah memperkuatkan  eksistensi hamba menuju hamba yang bertaqwa  menuju kesolehan jiwa sosial yang berorentasi pada kepedulian dan saling membantu antar sesama. Dan hal itu dapat dibuktikan sebagai timbal balik terhadap rahmat Allah SWT yang diberikan. Dan sejalan dengan ajaran Islam  yang damai,  dan penuh kasih sayang. 

Maka momentum Ramadhan yang masih menyisakan ada luka  dengki,  dan hasutan lantaran pemilihan presiden dan wakil presiden yang telah berlalu, saatnya disudahi dan di bulan ramadhan ini marujut kembali  tali silaturahmi dan perjumpaan kamanusiaan yang tanpa ada dendam. Dimana yang menang merangkul yang kalah, dan yang kalah berbesar hati menerima kekalahan, sehingga tidak terjadinya hasutan dalam apa yang didengung-dengungkan yakni Super Power. Jika hal demikian yang terjadi, maka tentu masyarakat akan semakin parsial dan terpecah-belah, karena ada pro dan kontra terhadap gerakan Super Power tersebut.

Sangat disayangkan jika gerakan Super Power ini terjadi, karena hanya berorietasi pada menyulutkan emosi kenegaraan dan kebangsaan masyarakat. Disaat kondisi jiwa kebangsaan yang mulai goyah, seharusnya tokoh-tokoh politik dan ulama melakukan musyawarah sebelum terjadinya gerakan Super Power, supaya nuansa ramadhan tidak terleraikan hanya lantaran persolan politik.

Melanjutkannya dengan sikap berjabat tangan jauh lebih penting dari hanya sekedar euforia politik. Merekat rasa persaudaraan antara satu sama lain yakni antara umat beragama dan umat lainnya adalah sebuah rahmat yang tak tertandingi yang diberikan oleh Allah SWT. Inilah yang disebut dengan  kualitas ibadah puasa Ramadhan yang telah mengambil hikmah-hikmah  di bulan suci ramadhan. Bukankah, ajaran Islam pun menitipkan pesan  cinta damai yang Rahmatan lilalamin. (*)

*)Penulis, Suaeb Qury, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTB 2010-2014

*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

Jurnalis : Anugrah Dany Septono
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Mataram

Komentar

Loading...
Registration